...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

strapped

cangkang-cangkang merah itu terkelupas. menumpuk, sekitar tiga puluh centimeter dari selembar karung lusuh yang mengalasi melinjo yang telah bersih. "pluk... pluk..." satu dua cangkang dan biji itu menemui kawanannya. tidak ada kata-kata perpisahan, tidak ada sambutan pertemuan. semuanya terjadi begitu saja. dihimpun begitu saja.

jika pun ada, saya tidak perlu peduli. karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya ketimbang tumpukan biji melinjo dan cangkangnya itu, ketimbang karung lusuh itu.

tangan itu. tangan besar dan tidak terlalu kekar yang berlumur tanah dan kulit melinjo busuk yang lengket dan mengering. tangan yang pernah membuat tangis saya tumpah karena ketakutan setengah mati saat pemiliknya yang tidak saya kenali mencoba meraih, merangkul, dan memeluk saya yang empat tahun.

dari tangan itu pula sebagian peluh yang suatu hari nanti akan menjadi saksi pertanggungjawabannya sebagai seorang kepala keluarga menerabas deras, membesarkan tiga anaknya selama lebih dari dua dekade bersama ibu saya yang sederhana.

"pak, pinjem pisaunya."

diserahkannya pisau yang sejak tadi ia genggam, sambil sedikit menoleh, dan seperti biasa, tanpa banyak bicara. ia beranjak dan tak lama kembali, dengan sebuah pisau tanpa gagang di tangan.

"nyari uang itu susah ya, dieu."

giliran saya yang menoleh ke arahnya. akhirnya saya melihat segurat senyum yang hanya sebentar saja.

"hehe..." saya kembali menekuri biji-biji melinjo itu, menemani bapak, di garasi.

senja itu, bicara kami panjang dan banyak, tapi selalu ada yang hanya menyala-nyala dalam hati, belum sempat terkatakan. "saya sayang bapak, dan sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan bapak sebagai lelaki terbaik pertama yang menyertai hidup saya."

2 comments:

December 9, 2009 at 8:39 PM Alga said...

"saya sayang bapak"---> jangan hanya di dalam hati :)

jangan terlalu keras kepala, eU. itu bukan tempatnya dan memang sudah saatnya :P

Post a Comment