...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

adios, bugi!!!

di jalan sepanjang seratus meter yang sepi ini, saya tak henti bergerutu. ada yang salah
dan selalu disesali setelahnya. tak bisa dibayangkan, hanya karena kesalahan kecil itu yang saya lakukan, dia harus mengakhiri riwayatnya.

saat-saat duka itu datang kemudian. manusia memang mahkluk yang paling pandai menjadikan kepergian, perpisahan, dan kesedihan 100 kali lipat lebih dramatis dari kenyataan. termasuk saya sepertinya.

pukul 12.10 saat itu, bersama seorang kawan lama... kami berdua hendak menikmati mie baso pinggir gerbang unpad yang aromanya menggoda siapapun yang lewat. namun cara jalan saya yang lasak membuat kaki saya tergelincir. dan ...

dan begitulah seketika, tanpa ada pesta perpisahan dan bahkan firasat yang mengatakan bahwa waktu kebersamaan kami yang lebih dari tiga tahun harus berakhir, bugi menamatkan riwayatnya. tempat saya menjepitkan jempol dan keempat jari kakinya itu putus.

di jalan sepanjang seratus meter yang sepi ini saya tak kunjung henti bergerutu sambil membaca lembar-lembar ingatan saya bersama dia yang selalu mendampingi langkah saya dalam banyak hal, dalam banyak momentum hidup dimana tawa dan tangis bisa tumpah tanpa penadah.

adios, bugi!!!!*


-bugi, rest in peace

------------------------------
* kadang saya bingung saat akan bepergian. bugi saya sudah tidak ada. tak ada satu alas kaki pun yang bisa menggantikan sandal gunung yang gagah dan tegar itu.

1 comments:

January 29, 2010 at 2:47 AM Anonymous said...

penggantinya sandal nu butut tea nya???

Post a Comment