...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

tilt

ia menyusun kembali ini itu di ruangannya. sepertinya memang begitu. tatahan itu berubah. berubah dari terakhir kali saya berkeliling dan melihat-lihat apa saja yang ada di dalamnya. saya masih ingat, ruangnya kali itu saya potret dan saya simpan potret itu entah di laci yang mana, entah di kotak yang mana, entah di sela-sela lembaran yang aman.

ya, lebih dari satu tahun lalu kami pernah singgah di suatu tempat. suatu tempat yang pada suatu masa akan dilalui masing-masing orang demi kesempurnaan salah satu fase hidupnya yang tertentu. dan atas dasar kesempurnaan itulah manusia menuntut segala yang ideal dalam relung kepalanya agar menjadi serba mungkin, serba harus hadir di depan mata, serba harus diraih oleh kedua lengannya yang terbatas. oleh sebab itu, pada akhirnya manusia harus segera sadar bahwa hadir Tuhan Yang Maha Berkehendak.

ya, pada akhirnya masing-masing kami mulai berhitung mundur, sambil seolah-olah mempertimbangkan segalanya, seolah-olah membanding-bandingkan yang benar-benar nyata dengan konsep das sein dan das sollen. di depan kami bahari membentang. di tepi-tepinya perahu-perahu kecil ditambatkan. dan kami pun melanjutkan pelayaran, dengan perahu kami masing-masing, menempuh peta kami masing-masing.

dan ruang itu... ruang yang beberapa menit lalu saya kunjungi, membuat beberapa ruas ingatan, yang menurutnya suatu masa adalah kelainan, kembali membuka dirinya. bukan, seperti yang saya klarifikasi waktu itu, ingatan bukan kelainan. ingatan-ingatan itu serupa jejak-jejak yang mungkin menghantarkan saya menjadi saya saat ini, dan dia menjadi dia saat ini.

saya ingin mengatakan bahwa jejak-jejak itu menyenangkan, bukan karena banyak tawa kami yang luapkan bersama. ia telah hadir sebagaimana Tuhan ingin memperlihatkan kasih sayang-Nya terhadap saya, dengan menunjuki sesuatu yang lebih terang dan menyegarkan. kadang tangis saya tumpah karena merasa kalah saat membicarakan hal-hal besar dan fundamental yang telah sekian lama membuat saya nyaman. kadang rasa marah saya membuncah karena ia, dengan caranya yang cerdas, tiba-tiba mempreteli kehiprokritan yang tidak pernah mau saya akui. ya, itu menyenangkan, sangat menyenangkan. kebersamaan dengannya beberapa saat adalah jenjang pembelajaran yang sangat berharga dan sesak makna. ia adalah salah satu sahabat terbaik yang Tuhan berikan dalam rentang hidup saya, hingga saat ini.

ia dan jejak-jejak itu membuat sudut kamar ini mendadak penuh haru. senyum sebagai rasa bangga karena pernah memiliki saat-saat berharga dengannya dan tangis sebagai rasa sesal karena pernah menyayatkan beberapa luka terhadapnya meremuk, bercampur menjadi satu.

saya hanya bisa berharap bahwa Tuhan memberkahi setiap gerak ia kayuh bersama perahunya, dan di sela-sela perjalanan ia pun tersenyum dan memberi maafnya pada saya atas segala yang salah dan tidak wajar, saat ingatan (yang tentu saja bukan sebagai kelainan) yang sama satu tahun lalu itu mendadak hadir. dan suatu saat di suatu tepi ruang kekekalan kami semua akan kembali berkumpul, kembali bersenda gurau, membahas segala hal. semoga...

------------
(asylum)

1 comments:

January 14, 2010 at 7:41 PM Zian X-Fly said...

Kata-katanya dalam. Salam kenal dari KalSel.

Post a Comment