Dua bulan sejak mentari bilang permisi dan bergegas pergi, seorang perempuan berteriak. Teriakannya benam, namun ia seperti hendak membiarkan langit retak dan harapannya menerabas bebas lewat celah-celah menemui dan bersujud serupa Adam meminta ampun pada Tuhan.
Sederhana. Sesederhana gerimis pada siang yang terang.
“Tuhan, hilangkan satu dari hidupku: ketakutan*.”
------------
saya menemukan catatan ini dalam kotak. dan bagi saya sekarang, tentunya catatan itu belum harus bertemu titik sebelum "(Tuhan, hilangkan satu dari hidupku: ketakutan) yang membuatku takut selain pada-Mu".


0 comments:
Post a Comment