...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

kompetisi suara

asrama sedang sepi manusia. hanya ada tiga empat penghuni di setiap lorong, di masing-masing lantai. apalagi saat siang. bangunan buruk rupa yang tak kunjung direnovasi ini sudah seperti kuburan. jarang ada suara-suara pada siang. kecuali hanya gedebug pintu kamar mandi dari kamar sebelah kanan saya, lalu sang penghuni kamar itu sudah bisa dipastikan akan mulai bersenandung. padahal, kata seno, dilarang bernyanyi di kamar mandi. haha...

selebihnya sepi. karena sebagian besar sudah berbondong-bondong mudik ke rumah masing-masing.

namun herannya, malam hari justru banyak suara. sahut menyahut. jerit menjerit. suara para perempuan muda histeris di lantai dua, mungkin tiga. saya kurang tahu, karena saya hanya mendengarnya dari dalam kamar. rasanya sudah bisa ditebak, ada apa dengan para perempuan muda yang berteriak dan saling meneriaki histeris itu. piala dunia. ini adalah malam kesekian saya harus terbiasa dengan kericuhan itu. sebelum masa liburan, malam-malam saya mendengar beberapa perempuan yang berani-beraninya konser di lobby. saya dan ika sebut mereka, peserta indonesian idols kehabisan tiket.

dan malam ini adalah malam kesekian saya harus terbiasa menerima suara lain selain "garuda pancasila"-nya "don't angry". benar, suara itu berasal dari lantai atas, tempat perempuan muda berteriak dan meneriaki histeris . mereka tengah masyuk menonton dua puluh dua orang aneh yang berjuang keras mengejar bola namun setelah mendapatkannya bola itu mereka tendang kembali.

hal lain lagi yang aneh, di lantai bawah, lamat-lamat saya mendengar suara televisi lobby, makin besar suaranya. bukan. bukan bola. bukan pula teriakan para perempuan. tapi suara dialog sangat serius dari sebuah sinetron, kemudian berganti sinetron lain, dan seterusnya. suara makin mengeras, kawan. dialog serius itu besar sekali volume-nya. seperti hendak menyaingi teriakan para perempuan di atas. bisa dibilang, kami, penghuni lantai bawah tidak ada yang gemar menonton televisi di lobby, kecuali security dan kawan-kawannya. alibi saya cukup kuat. pasti mr.ju-enk (sebutan saya untuk pak emod). jika tidak, kawannya yang marbot masjid kampus. sinetron. haha... it's unbelievable when i'm knowing there's a man sitting in the lobby and watching those holy sinetrons loudly while some girls shouting for their hero at one of world cup match.

mengherankan, gumam saya. sama mengherankannya dengan tarif mahal pengiriman barang dari indonesia ke luar negeri yang per kilonya lebih dari 10 dollar.

sinetron dan piala dunia. dua hal ini mungkin sedang menjadi polemik di rumah saya. antara bapak dan ibu. bapak saya yang gemar bola, dan ibu saya yang selalu berdalih menghilangkan lelah karena berkarir seharian di warungnya dengan menonton sinetron. bahkan ibu saya bisa mendadak jadi pencerita ulung saat menceritakan kembali mengulang jalan cerita dan menjelaskan satu per satu tokoh sinetron yang ditontonnya. kejadian ini saya kira berlaku di rumah-rumah lain.

namun tidak kali ini, di sini. peminatnya terbalik. sinetron oleh mr.ju-enk atau mungkin kawannya. lalu piala dunia, ya mereka, perempuan itu. perempuan yang berteriak dan meneriaki histeris di lantai dua. sambil makan kacang? entahlah.

sedang saya, hanya satu dari mereka yang menyimak kompetisi suara itu dari dalam kamar. mengherankan. tapi sudahlah. saya hanya sedang iseng dan kebat-kebit me-warm up diri sendiri dengan bermain "don't angry" dan bergumam di jendela sebelum menulis sesuatu yang sangat serius bernama... ah tak mau saya sebutkan.

2 comments:

June 30, 2010 at 8:28 PM Anonymous said...

asa kenal sama potonya..
:D

July 5, 2010 at 7:42 AM aemtemite said...

skripsi nya, dieu? :p

Post a Comment