...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

mengalah...

kehidupan lebih nyata ketimbang pendapat siapapun tentang kenyataan
-nyai ontosoroh


ajaib. setelah sekian lama, saya mampu juga berbicara dengannya dengan nada yang tak lagi tinggi. ya, benar. akhirnya kami berdamai setelah beberapa minggu saling mendiamkan. sebenarnya bukan saling, karena yang mendiamkan adalah saya, bukan dia yang hampir tiap hari melayang pesan. selalu sama, berisi pertanyaan dan tagihan. "kapan, adieu?"

dulu saya hampir dibuatnya gila. saya hampir dibuatnya selalu merasa bersalah. saya hampir dibuatnya merasa tertekan. ya, perempuan itu yang tak lain adalah ibu saya terkasih, perempuan yang melahirkan saya dan yang belakangan ini sangat gemar menagih. ibu pun begitu saya kira. oleh saya, ia dibuat hampir gila, selalu tertekan, dan -ini yang selalu tak ingin saya dengar dan saya lihat- dibuat menangis.

namun kali ini kami berdamai dan saya akhirnya mampu berbicara dengan suara yang redam, menanggapi ibu saya yang pada siang beberapa hari lalu menanyakan kembali "kapan, adieu? kapan?"

"saya pasti ngasih tahu ibu, secepatnya," selalu itu ungkapan yang ibu dengar akhir-akhir ini. tak ada lagi kata-kata. sungguh, dalam perkara ini pun, saya lebih memilih diam menggumam kesal dan sesal sembari meredakannya dengan memandang bilur lembayung yang tertangkap di kaca jendela sebelum senja beringsut menjelma malam dan tersenyum pada diri sendiri. saat itu, saya mengumpulkannya. ingatan itu. ingatan tentang saya dan ia, perempuan yang tak lagi muda itu. tentang bagaimana ia membesarkan saya tanpa keberadaan bapak sampai usia saya yang lima tahun. tentang bagaimana ia mengajarkan saya membaca dan mengaji. tentang bagaimana ia mengajarkan saya bertutur sapa. tentang bagaimana ia mengajarkan saya segala hal.

benar memang, menjadi pihak yang kalah tak selamanya memilih rela menjadi nista dan terhina. bisa jadi sebaliknya. mengalah tak selalu harus menjadi orang yang harus kehilangan prinsip hidup, bukan?

sebagaimana orang tua menganggap bahwa anaknya selamanya adalah anaknya, saya pun kali ini dengan senang hati menghapus niat untuk mengatakan padanya: "bu, saya sudah sering bilang ke ibu, prioritas kita bu, sebagai muslim bukan lagi menaruh perhatian berlebih pada omongan orang lain. kekhawatiran ibu terlalu berlebihan. sudah, saya tidak mau berdebat lagi. saya tidak ingin perdebatan ini Allaah catat sebagai dosa saya yang lain lagi. saya sudah besar, insyaAllaah saya sudah siap menerima resiko hidup saya sendiri. jika ibu dan bapak merasa keberatan dengan saya dan pilihan-pilihan hidup saya dengan pertimbangan apapun, percayalah bahwa saya akan berusaha menopangnya sendiri."

saya senang, saya senang kata-kata itu tak terucap meski pernah terpikirkan. saya senang karena saya mengalah kali ini. saya senang karena telah mengikis ke-aku-an saya di hadapannya. saya senang. saya senang. saya pun senang karena kali ini saya mendengarnya berbicara dengan tenang.

ah, ibu terkasih, maafkan anakmu ini. hitungan usia yang semakin menua belum mampu menjamin kebahagiaanmu mudah terkumpul. maafkan anakmu yang belum mampu tumbuh sebagai seorang manusia yang baik, cekatan, dan bertanggung jawab.



adieu 'bayi' beberapa saat setelah dilahirkan, seorang perempuan muda kelelahan yang tidak lain adalah ibu saya yang cantik, uwa, dan neneto

0 comments:

Post a Comment