namun histeria itu masihlah histeria di pagi buta. histeria kami belum begitu dramatis. tak satu pun usaha sejauh ini yang kami lakukan saat histeria reda. saya tidak tahu apa dalam kepala ika, tapi bagi saya, rasanya sangat sayang membeli produk yang fungsinya belum membuat hidup saya bergantung padanya. margarine, saya masih punya. susu kental, ah tak begitu perlu karena saya punya kopi. tekun mengirim sms jawaban ke acara-acara kuis di televisi pun rasa-rasanya terlalu malas.
benar kawan, histeria kami masih harus bertumbukan lenting sempurna dengan rentetan prasyarat: menjawab kuis atau mengirim bagian kemasan produk lewat amplop ke alamat yang sudah berjalan-jalan di layar. kami masih harus bertaruh harapan. dan pastinya, jika kami jadi bertaruh itu, itu pun sama artinya dengan harus bertaruh keberkahan dan keselamatan hidup kami dunia akhirat.
namun saya cukup yakin, histeria yang saya alami tidak dirasakan oleh pria paruh baya dalam le grande voyage. pria arab yang menyambung hidup dan membesarkan anak-anaknya di perancis selama 30 tahun itu, hanya tahu bahwa ia punya keinginan dan yakin bahwa ia mampu menuntaskan keinginan itu. perjalanan nekat pun dimulai. mobil tua berpintu pirang itu pada akhirnya memang berhasil melintasi daratan eropa, daratan balkan, hingga sampai di tempat suci: makkah.tentu saja bukan sebatas perjalanan panjang film itu ditayangkan tahun 2004. ismaƫl ferroukhi sempat berjibaku dengan keresahan untuk menulis kisah hidup antara ayah dan anak selama perjalanan dilakukan. perjalanan yang cukup membuat saya menyigi ingatan tentang hidup saya serta keinginan untuk segera menanyakan kabar orang tua yang saya kasihi begitu dalam.
sang ayah tampak begitu fanatis dan diktatoris. tak memberi kebebasan sedikitpun bagi sang anak yang sedang kasmaran pada seorang gadis berbeda keyakinan. lebih dari itu, sang ayah memegang kendali dan memberlakukan nilai-nilai, yang dalam ekskresi pemikiran august comte sudah harus diberangus dan jadi bangkai karena positivisme berhak diberi ruang.
barangkali seperti le grande voyage lah hidup kita. kita masih bisa mengerti bahwa kerikil-kerikil itu akan selalu ada. hidup tak melulu bicara cinta dan kebahagiaan serta hal indah-indah, bukan? bahkan bukan hanya kerikil, kadang ada batu besar, badai, serta halilintar. dan puncaknya, reda, sang anak sadar, perjalanan melelahkan itu bukan hanya mengantarkan sang ayah berhaji. di akhir cerita, sang ayah berhenti. sang ayah pergi ke dunia tanpa durasi.
dan bagi saya, le grande voyage membuat saya merayakan dua hal. pertama, kaum positivis (postmodernis/sekular/anti theis) tetap harus menjadi pihak yang kalah. sesuatu bernama keimanan itu tetap menjadi kekuatan yang terlampau digdaya untuk ditumbangkan dengan hal-hal yang material dan artifisial. ini juga yang harusnya membuat saya dan ika tak lagi berhisteria dengan terjebak pada strategi marketing sejumlah produk di televisi. kedua, mahkluk bernama ayah itu bagi saya masih jadi sosok yang sepi dan pasi. dialah yang paling mahir memendam melankolia itu sendirian, tak mesti bagi-bagi.
mari kita berhaji. mari kita ke tanah suci.


0 comments:
Post a Comment