you're almost happyalmost content
but your head hurts
far too many ways to go
we learn so much but never know
where to look or when we should stop looking
... (K's Choice)
tak nampak satu helai lelahpun di wajahnya. sudah satu jam perempuan kecil berambut panjang tergerai itu terus mengoceh dan memainkan boneka, ceritanya diambil dari buku dongeng yang dengan bangga ia sodorkan pada saya. sesekali ia membenarkan letak bandana merahnya. lagi-lagi, tanpa berhenti bicara dan bercerita.
satu senja dua tahun lalu saya hadir serupa sebelah malaikat, sebelah iblis. sayap di kanan dan trisula di kiri. sejak pukul tiga sore, saya merasa cukup tabah untuk menyimpul kesabaran dan sikap-sikap patut yang konon harus dimiliki oleh seorang pengajar. namun, upaya mati-matian saya itu terkhianati saat murid saya yang wangi dan cantik tak lagi mau menghitung dan mengalikan angka-angka. esok ia harus bertempur dengan soal-soal. itulah barangkali mengapa saya begitu terpanggil untuk bersungguh-sungguh dan memaksanya pula untuk bersungguh-sungguh, ya, setelah satu jam saya mengalah.
memberi jeda, pikir saya, barang beberapa saat. namun tidak baginya. ia, perempuan kecil bersuara serak itu, merasa menerima bertangkup-tangkup kebebasan untuk melakukan ini dan itu, dan tentu saja, bercerita.
setelah saya marahi, sebetulnya bukan marah, tapi menyeru dengan suara tinggi menekan-nekan (apakah sama?), ia sepertinya merana dan sedih. dan memang benar begitu. kepastian dugaan tersebut datang dari ibunya beberapa hari kemudian. pantas, ia tampak penurut, tapi murung. saya menyenyuminya. tak digubris.
"marah ya?"
ia tetap diam. saya akui, melihat orang yang saya rasa sudah menjadi bagian dari hidup saya itu marah, sungguh menyenangkan. itu pula yang sahabat saya katakan saat ia berhiphiphura membuat saya cemberut. barangkali di sana pula kemampuan seseorang untuk menegaskan rasa cintanya, diuji.
"gaby mau belajar atau tidak? ibu malas. gimana kalo kita main hari ini?"
lihat, ternyata tak rumit membuat anak kecil reda dari kekesalannya. saya beruntung. ia sumringah begitu saja dan memastikan bahwa saya tidak sedang menjebaknya dalam kekesalan baru.
ia bergegas meraih buku cerita dan satu dus mainan. dikeluarkan semua isinya yang boneka barbie. dan, seperti biasa, kembali ia bercerita. lebih tepat, menceritakan kembali dongeng-dongeng anak yang terbit dari barat itu. saya terus menyimak sampai akhirnya tersentak saat murid saya yang wangi itu tiba-tiba berkata: "kenapa sih bu kita harus belajar? kenapa ngga maen aja? kan enak."
saya tersenyum. pertanyaan sederhana yang selalu menggelitik saat saya merasa sangat jumud dengan segala yang serba tegas. pintar ia. meski terlalu dini, ia mungkin tahu bahwa pada suatu titik, yang tegas bikin getas, dan yang kaku bikin pegal. ia telah menerjemahkan salah satu tulisan dalam bukuku kakiku yang juga dikutip dari kitab karangan sejarawan belanda, johan huizinga (1983): manusia yang homo ludens, yang paling senang bermain-main, tanpa pernah meniscayakan usia.
lazimnya gaby serta anak-anak lainnya (saya jadi ingat hotaru no haka dan the boy in the stripped pajamas), manusia tua pun pada satu jeda punya kesenangan untuk bermain. dalam kepala huizinga, bermain semestinya berkait kelindan dengan kebebasan dan sesuatu yang tidak sesungguhnya, namun tetap butuh tata: punya durasi, punya ruang, dan lepas dari kepentingan material.
huizinga mungkin murung saat ini. mereka, para manusia yang mengklaim 'modern' itu, memberontak dan durhaka pada huizinga. permainan diciptakan dengan berbagai kompleksitas di setiap sisinya. marx menyebutnya komodifikasi. kompleks namun banal, mapan namun dangkal, seragam dan mahal.
apa yang tersisa setelahnya? barangkali kecemasan yang bikin limbung. sejak itu, para darwinis sosial bersulang merasa menang. survival of the fittest. dunia, telah berhasil mereka sulap dengan persaingan dan perubahan yang serba mendesak.
namun gaby, tahu apa murid saya tentang itu semua? pada akhirnya saya belajar untuk mengerti bahwa ia hanya ingin melompat-lompat seperti rubah. bukankah bermain adalah juga melahirkan kata yang saat ini sendu: kreativitas? mereka yang kreatif adalah mereka yang belajar untuk menemukan yang baru serta terus menggali dan memodifikasi yang sudah ada agar punya manfaat bagi hidup manusia yang memang hanya jeda tak lama dan penuh tanggung jawab yang pada suatu kala akan ditanya.
dan yang pasti, belasan abad sebelum huizinga, pria yang juga menggagas sejarah budaya modern itu lahir, Allaah SWT memberitahukan bahwa dunia tidak lain adalah senda gurau dan permainan (dalam Quran Surah Al An'am). oleh sebab itu maka kita pun perlu menyadari bahwa mencari kesenangan itu pun memang bukan main-main. perlu keseriusan. perlu belajar. serius dan belajar yang tak mesti diartikan dengan raut wajah yang kaku serta dahi yang berkerut.
ah gaby, maafkan saya.


0 comments:
Post a Comment