...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

s

ia sangat cantik, tapi luka. entah di bagian tubuh yang mana luka itu menganga. di wajahnya yang menawan? di tubuhnya yang sintal? atau di bagian yang paling vital?

saya tidak mengenalnya. hanya mengetahuinya sedikit dua tahun lalu. sebut saja namanya s. s adalah perempuan yang sangat pintar. ia polos pada mulanya. ia hanya tahu bahwa prestasinya tinggi, dan duduk di bangku kuliah dalam usianya yang terlalu pagi.

s tak pernah terlalu macam-macam. sang ayah bersuara terlalu lantang. namun s tahu, itu tak bisa lama-lama. setelah gagal dalam pernikahannya dengan seorang pengacara muda, tarif mahal itu terpasang. £130 per jam.

dengan pakaiannya yang singkat-singkat, s merasa ia menang karena ia mampu mengarahkan kemanapun ia mau membawa nasibnya berlari. dunia ini, baginya, tak pernah betah dengan segala yang terlalu dibikin baku dan terlalu penurut, sebagaimana sang ayah membesarkannya.

sang ayah masuk bui. dan s yang cantik itu tetap menjual diri. orang lantas merasa perlu berbondong-bondong mengangkat tangan tanda sepakat dengan s. pada akhirnya orang-orang ini pula yang yang merasa perlu mendeklarasikan kewajaran. dan bagi mereka, inilah cara paling tepat bagaimana keadilan dan kebenaran diputuskan.

membaca s seperti membaca kurawa. ada dendam yang dalam. ada berontak yang bikin luluh lantak. apa yang benar hanya besarnya kepentingan dan digenggamnya kekuasaan.

inilah mengapa pitoyo amrih mati-matian membela seratus orang bersaudara yang tumbuh dari serpihan daging di dinding-dinding dalam dunia mahabrata. pitoyo hendak mendekonstruksi penilaian yang sudah puluhan dekade mengakar dalam masyarakat jawa. duryudana dan adik-adiknya itu tidak bersalah. kebengisan yang popular dari kurawa itu bukan nasib yang genetis, bawaan lahir. sifat jahat itu hanya reaksi atas ketiadaan ruang dan kuasa. apa yang benar bisa jadi salah. juga sebaliknya. sebab itulah kurawa layak dibela.

manusia. perdebatan atas kebenaran-ketidakbenaran dan keadilan-ketidakadilan ini akan terus berkerumuk di jagat raya, seperti nyamuk yang mengamuk. siapapun bisa sampai mati membela "yang sudah benar" dan "yang sudah adil". pun sebaliknya: membantah mati-matian. siapapun bisa gagah berdalih "dunia selalu menyimpan penyimpangan", "hidup tak pernah mampu menghadirkan kesempurnaan", "surga terlalu megah untuk diseret ke muka bumi", dan lain-lain.

tepat. tapi saya 100% yakin dalih ini tidak boleh jadi kain hitam yang menutup mata manusia. kelemahan, ketidaksempurnaan, serta kebukansurgaan itu bukan sumpal yang menjadikan manusia enggan menerima ukuran-ukuran yang dihadirkan Pencipta, yang final, yang tak bergantung pada ruang dan kekuasaan untuk bisa menilai mana benar, mana salah, mana adil, mana yang tidak adil.

lalu, ruang? bagi saya, ia tetap mesti dihadirkan. diadakan. diperjuangkan untuk hadir dan ada. bukankah yang salah tetap mesti diluruskan dan yang tidak adil tetap harus ditindak? sebagaimana Allaah SWT punya firman dalam Al Quran (ar-ra'd 11) yang kurang lebih begini: perubahan bukan hadiah. sebuah kondisi hanya akan berubah ketika diubah, bukan ditunggu hingga berubah, oleh manusia sendiri.



saya masih mengingat s. saya masih mengingat kurawa. dan saya sakit kepala.

0 comments:

Post a Comment