sehari lalu, sore-sore dengan rintik yang rapat, sambil menunggu titipan dikemas, saya mampir di sebuah pasar buku. sebuah tenda yang di depannya dipancangkan sebuah umbul-umbul "Diskon 10-80%" itu sesak sekali oleh manusia. saya adalah salah satunya.
sebetulnya tidak satu judul bukupun hadir dalam kepala dan mendesak saya untuk menggabungkan diri dengan mereka yang di dalam tangannya menggenggam kantong belanja. saya hanya ingin berteduh dan menunggu sambil bergumam betapa pegal kaki ini. hendak duduk, tapi penyelenggara pasar buku tak menyediakan tempat duduk sedikit pun, kecuali display yang penuh tumpukan buku.
saya kadang berpikir, betapa beruntung mereka yang dengan seenaknya memungut buku satu per satu, memasukkannya ke dalam tas belanja, mengantri di kasir, serta dengan mudah mengeluarkan berlembar-lembar uang kertas atau sebuah kartu setelah kasir memperlihatkan screen dengan lebih dari lima digit angka.
dan mengeluh masih menjadi hal gratis. seandainya... seandainya... seandainya...
saya tak hendak tenggelam dalam keluhan lama-lama. rasa pegal lebih menarik perhatian ketimbang orang-orang 'beruntung' itu.
lantas pandangan saya terpaku pada beberapa buku (saya benar-benar tidak ingat judulnya). buku-buku mengenai dongeng, pastinya. buku-buku yang tentunya tak bisa begitu saja dibaca oleh anak-anak. buku-buku yang lebih layak dibaca oleh mereka yang pernah merasa diperdengarkan dan hafal mengenai cerita-cerita negeri khayangan, cerita pangeran tampan yang menyelematkan seorang putri dari cengkeraman orang-orang jahat, cerita binatang-binatang yang bicara, cerita nenek sihir, dan sebagainya.
mendadak saya bertanya sebegitu pentingkah dongeng bagi hidup manusia kecil bernama anak-anak? bahkan tak jarang orang tua mengalokasikan penghasilan bulanannya untuk membeli buku cerita itu bagi buah hatinya. mungkin penting untuk mengajari mereka hidup dan kehidupan. dengan cerita-cerita itu sesuatu yang dinamakan moral diajarkan, sifat buruk dan sifat baik, kebenaran dan kebatilan.
namun masihkah dongeng-dongeng yang menciptakan ilusi indah itu penting untuk diperdengarkan, sedangkan di berbagai penggalan bumi, dunia tak sama sekali serupa dongeng, dimana keadaan buruk bisa disulap dengan mudah menjadi aman sentosa? dunia saat ini, adalah tempat dimana kebajikan sulit menang, dan kejahatan riang bersulang.
Origa lirih bersenandung: "aney, you're my unborn child. sorry i can't sing a brighter lullaby"
barangkali, bukan hanya dongeng, namun para orang tua akan berkata dengan suaranya berat: "nak, dunia tak akan pernah seringkas dan seindah dongeng. menjadi tegarlah. kebenaranmu, keyakinanmu, adalah sesuatu yang akan menopang langkahmu yang sulit."
dan kesadaran saya kembali, pada mereka. ya, orang-orang yang lalu lalang dengan kantong belanja itu. saya kira, saya tidak patut lagi mengeluh tentang keberuntungan dan ketidakberuntungan. yang beruntung bukan manusia yang gagal dilahirkan, atau yang mati muda sebagaimana dikutip soe hok gie dalam catatan hariannya.
karena keberuntungan tak berarti segalanya. saya percaya pada keadilan Allaah SWT, saya yakin pada kehendak-Nya. beruntung tak selalu mulia, namun setiap yang mulia akan selalu berarti mereka yang menggenggam keberuntungan karena catatan kebajikannya tak henti menebal untuk bisa menembus gerbang surga yang tak terukur luasnya.
dan...
tak usah saya lah membeli buku-buku itu... :D


1 comments:
Akhirnya, pembenaran.... rupanya.... :D.
Amin, adieu (Ranjang Jagad)
Post a Comment