...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

ini siapa? tuuuuuut....



Sebuah siang, saat rehat setelah ngepel kosan…

+62878******** calling…
“Halo”
“Selamat siang. Dengan Mba Adieu?”
“Ya.”
“Ini dari PT.Astra. Kami mau memberitahukan bahwa saat ini anda sedang ditipu oleh teman anda.”
“Haha… Sudah saya kira sebelumnya. Ini siapa?”
“Ah mosok toh ngga kenal siapa aku.”
“Iya, bener. Saya ga tahu. Ini siapa?”
“Tebak dong!”
“Ga tau. Saya ga mau maen tebak-tebakan.”
“Wah… Sama temen sendiri kok lupa?”
“Beneran. Soal ini saya memang paling payah. Apalagi yang kamu pakai sekarang nomer yang tidak masuk di phonebook saya.”
...
Seperti bermain petak umpet. Saya tetap tidak bisa menebak suara siapa yang sedang berbicara di seberang sana. Dia juga tetap dengan aksi menyembunyikan identitasnya, sambil sesekali bersenandung.
Saya sempat menerka beberapa nama, tapi semuanya tidak ada yang dia akui. Karena sedikit kesal, saya ambil sisa kripik yang saya beli kemarin dan memakannya sambil tetap menelepon. “Krash..krash…grauk…grauk…”. Dan ternyata… suara kripik yang bising itu sepertinya telah membuat kawan saya yang anonim itu marah.
Begini detik-detik terakhir perbincangan kami:
“Aku ga enak ngegangguin orang makan. Aku tutup aja ya?”
“Ya terserah kamu. Tapi saya masih ga bisa nebak nih. Saya udah nanya lho ya. Krash…krash…grauk…grauk..”
“Ya… Tapi masa ga tahu sih? Ya udahlah mending selesein aja makannya. Ga sopan aku ngegangguin orang lagi makan. Wong aku lagi makan mau nelepon aja diberhentiin dulu makannya. Tuuuuuuuut…...”
Dan suaranya menghilang. Belum sempat saya minta maaf, telepon terputus begitu saja.
Saya hanya tersenyum dan masih tetap tidak mengerti. Sedikit tidak enak hati. Tapi ya sudahlah. Untuk apa juga saya memaksa orang yang memang sedang ingin mencari hiburan dengan tetap menyembunyikan identitasnya. Sama halnya dengan saya yang tetap berhak makan kripik singkong karena lelah dengan tebak-tebakan.
Tetapi, saya sadar. Manusia tidak pernah sama. Dalam komunikasi, menurut salah seorang teman (dia juga mengutip Jalaludin Rahmat), selalu ada noise. Dan kadang kita mesti mau belajar untuk mengerti banyak hal. Kita harus siap dengan kejutan-kejutan, yang semula tak pernah kita duga.

Maafkan saya, kawan. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya.

0 comments:

Post a Comment