
(izinkan aku mencatatkannya untukmu, meski aku yakin kau tak pernah bisa membacanya)
Langit terkasih,
Entah di malam yang mana kau terjaga. Namun aku masih bisa menemukan langit malam ini. Di sana ada beberapa bintang yang tetap berusaha agar tidak terkurung oleh pekatnya jalinan mendung. Angin membantu meniupkannya ke barat, tempat kekeringan tak lagi dianggap orang banyak sebagai panas yang melarikan diri dari neraka. Tentu saja karena orang-orang itu sudah terlalu lama mengulum kepedihan agar tak ikut diuapkan terik mentari dan tersangkut di sulur-sulur awan. Setidaknya kepedihan itu membuat mereka tetap berharap sedikit saja: ada satu dua titik hujan yang jatuh tepat pada keringnya hidup mereka. Hal itu cukup bagi mereka yang tidak ingin menuntut terlalu banyak. Tidak lebih, karena mereka tidak ingin menjadi orang yang rakus dan berjiwa kerdil.
Begitupun denganku. Betapapun aku berdiri jauh di seberang bibir jurang tempatmu berdiri, seperti bintang dan seperti orang-orang yang ditimpa kekeringan itu, aku pun punya sedikit harapan. Tentu saja hanya sedikit, karena aku tidak ingin menuntut terlalu banyak. Aku ingin kita masih bisa tetap saling menatap. Biarkan saja kedua mata kita yang saling sapa, saling berbicara. Karena mata kita adalah kata-kata. Tak perlu riuh, karena percuma saja kau tidak mungkin mendengarku dan aku pun tidak mungkin mendengar ucapanmu. Ya, seperti saat ini. Persis.
Langit,
Siang itu sembari menghitung rintik gerimis yang jatuh, tiba-tiba wujudmu menjelma melalui sela atap gedung tempat ribuan orang berpacu dengan waktu dan tuntutan. Mulanya sekedar semilir yang membisikkan namamu pelan di telingaku. Namamu. Ya, namamu Langit. Nama yang tak urung membuatku berpaling dan menelikung rasa penasaran yang begitu besar. Pada saat itu pula, terbit harapanku yang pertama: menjabat tanganmu. Lalu tiba-tiba seorang perempuan dengan perawakan tinggi kurus menghampiri aku yang tengah mematung sambil tetap memainkan pikiranku. Kemudian aku tahu perempuan itu kau, Langit. Rekayasa pikiranku tidak keliru. Kau memang perempuan cerdas dan berkarakter. Terpujilah orang tuamu karena telah memberikan nama yang indah untuk sosok sepertimu.
Langit,
Aku masih sangat percaya Tuhan selalu punya alasan pada setiap kejutan yang Ia berikan. Namun sayang, tak ada cukup alasan untuk membuatku memaksa-Nya mengatakan alasan Ia mempertemukanku denganmu yang juga penuh kejutan. Aku yakin kau pasti tertawa jika kau tahu aku kembali menyertakan kata ‘Tuhan’. Tuhan macam apa yang terlalu mudah untuk disebutkan oleh mulut manusia jika Tuhan adalah sesuatu yang memiliki ketinggian makna bagi manusia? Hmh...aku tak bisa melupakan kata-katamu itu.
Langit,
Cerita yang seolah hanya hidup dalam rangkaian imajinasi kawan-kawanku dan kurasa tak mampu diaminkan oleh realitas, ternyata benar-benar kuhadapi. Dan sepertinya kau tahu benar seperti apa jeda yang kulewati untuk sekedar terdiam. Dengan nada yang sangat meyakinkan kau mengatakan “Aku memang lesbian. What so?”. Sungguh tak masuk akal, Langit, aku benar-benar mendengar pernyataan tersebut langsung darimu, perempuan yang begitu kukagumi.
Langit,
Inilah yang selama ini luput kuungkapkan padamu. Kau keliru jika selama ini menilai diamku. Karena sesungguhnya aku tidak diam. Aku berbicara. Aku berkata-kata. Hanya saja tak sedikit pun suara mampu kukeluarkan dan mungkin tak mampu kau dengar. Sebab itulah maka saat ini aku sengaja menuliskan ini untukmu. Untukmu Langit. Hanya untukmu.
(..................to be continued)------------------>kapan2 we lah!


0 comments:
Post a Comment