...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Dewi Gendhari


Saya sedang tergila-gila dengan perempuan. Saya sedang tergila-gila dengan Gendhari, salah satu tokoh perempuan dalam cerita pewayangan Mahabrata. Tadinya saya bermaksud untuk membuat sesuatu tentang Gendhari. Tapi karena belum kunjung sempat dan yang saya lakukan hanya mengumpulkan dan mengumpulkan bahan, sedang saya sudah ingin mempromosikan sosok Gendhari, jadilah ini. Sebuah petikan dari Wikipedia (hoho...kalo tidak salah), yang tidak terlalu saya percaya kebenarannya. Heuheu...

---------------------------------------

DEWI GENDARI adalah putra Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Perempuan itu mempunyai tiga orang saudara kandung, masing-masing bernama; Arya Sakuni (ini nih yang jadi provokator Kurawa untuk merebut tahta Astinapura dari Pandawa), Arya Surabasata dan Arya Gajaksa.

Dewi Gendari menikah dengan Prabu Drestarasta, raja negara Astina, putra Prabu Kresnadwipayana/Bagawan Abiyasa dengan permaisuri Dewi Ambika. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh 100 orang anak, tetapi pada waktu lahirnya berwujud gumpalan darah kental, yang oleh Dewi Gendari diceraiberaikan menjadi seratus potongan, dan atas kehendak Dewata menjelma menjadi bayi manusia (versi buku yang saya baca menyebutkan bahwa gumpalan daging tersebut membuncah dan menjadi seratus potongan karena aji-aji yang diucapkan Destarasta.....hehe...lupa-lupa inget). Keseratus bayi tersebut dikenal dengan nama Sata Kurawa.

Di antara mereka yang terkenal dalam pedalangan adalah: Duryudana (raja negara Astina). Bogadatta, (raja negara Turilaya), Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Dewi Gendari mempunyai sifat kejam dan bengis (Jangan dulu percaya. Yang saya tahu, ia sangat memanjakan anak-anaknya). Dewi Gendari selalu mementingkan diri sendiri dan tidak segan-segan berkhianat serta pendendam (Ini juga, jangan dulu di percaya).Dewi Gendari mati terjun ke dalam Pancaka/api pembakaran jenazah bersama Dewi Kunti dan Prabu Drestarasta setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

1 comments:

March 24, 2009 at 1:29 AM nadira said...

lah terus yang mesti dipercaya yang mana? :P

Post a Comment