Seperti berita di koran yang saya beli kemarin pagi. Palestina, lagi-lagi. Ditulis dengan huruf besar-besar: Gaza Dibombardir, 195 Tewas. Tiba-tiba saya terpikir bahwa di antara mereka yang tubuhnya koyak dan lengket pada puing dan reruntuhan itu, banyak yang tidak tahu-menahu soal kematian yang dihantarkan 30 roket yang dijatuhkan tiba-tiba oleh pesawat-pesawat tempur Israel itu. Dan ingatan kita akan kembali mencatat kemunculan dendam-dendam baru yang segar dan hangat untuk disemai. Pada saat yang sama hadir ketakutan, juga keberanian yang tak lekang oleh senjata yang dikokang dan bom yang diledakkan. Karena ada harapan, di ujung sana, kenikmatan yang sublim siap menanti. Barangkali benar. Dendam tidak pernah punya titik. Serupa tulisan to be continue... sebelum credit title pada sinetron Tersanjung. Entah sampai kapan?
Inilah dunia, bukan surga. Saya tidak bisa berharap semua baik-baik saja, kecuali harapan itu hanya dibiarkan tinggal dalam kepala dan juga kata-kata.
Kurang lebih itu juga yang kamu katakan lewat penjelasanmu yang panjang. Kamu selalu meminta saya membuka mata lebih lebar. Kamu yang seolah ingin membombardir keseimbangan hidup saya dengan mengatakan bahwa pemahaman humanis yang melekat dalam diri saya tidak selalu cocok dijadikan landasan sikap. Begitu bukan?
Sulit untuk menerimanya. Tapi mungkin kamu ada benarnya juga. Mau tak mau, macam inilah hidup yang harus dihadapi. Saya sadar bahwa banyak yang tidak saya tahu. Dan saya juga ingin sadar bahwa pikiran humanis kadang memang hadir serupa gumam lirih seorang hipokrit yang hanya duduk diam menanti kematian. Semoga saya tidak seperti itu.
Inilah dunia, bukan surga. Tapi bukan pula neraka. Kemungkinan akan tetap hadir. Dengan kata lain, saya, kamu, kita, masih punya rongga dan celah untuk tetap mengejawantahkan harapan-harapan baik yang kali ini masih tinggal dalam kepala dan kata-kata.
Saya harap kamu tidak pernah bosan untuk memberi tahu saya banyak hal. Bahkan tentang segala yang tidak saya sukai saat ini.
Adieu, menjaga mati-matian pencarian dari pembenaran
Menjelang hilang, menghitung detik-detik terbuang……
Hidup belum usai....
Menjelang hilang, menghitung detik-detik terbuang……
Hidup belum usai....


2 comments:
dunia tidak akan pernah bosan memberi kita pembelajaran
hem....akhirnya menapaki juga di dunia tak berjejak ini....memberi seraut luka2 yang berteberan bergaris-garis disetiap tubuh..melukiskan rasa kemanusiaan yang semakin luntur...tapi sepakat bahwa dunia tidak bosan memberi kita pelajaran..bagi mereka yang mau menerima pelajaran dari letupan-letupan pengalaman yang terus bergerak dan meronta....berharap untuk cepat diterkam oleh tangan2 manusia....dendam...saya akan terus dendam..apapun teori yang telah dilontarkan tentang apa itu kemanusiaan...bukan masalah apakah dendam itu sendiri tapi lebih dari nilai apa itu yang disebut....KEADILAN....nyawa tetap dibayar nyawa...sama seperti apa itu arti PENJARA yang memang menawarkan sebuah bentuk Keadilan.ahhh aing jadi ngaco..nu pentingmah Zionis Genocide Movement
----RIVAL TIRANI A.K.A TOMBAK SAMUDERA
Post a Comment