Telunjuk tangan sebelah kanan saya 'meraksasa'. Warnanya pun memucat. jika saya sandingkan dengan telunjuk tangan kiri,saya melihatnya ibarat gajah dan kurcaci.
"Makanya, jadi orang tuh jangan pernah nyari penyakit, Adieu." Begitu omel ibu saya sambil membenarkan letak selimut di badan saya.
"Ngapain juga pake sengat-sengatan segala? Gimana coba kalo malpraktek?", ibu tetap mengomel. Tangannya menyodorkan beberapa butir obat dan segelas air putih untuk saya minum. Saya hanya tersenyum.
Dua hari sebelumnya...
"Waduh...seneng makan gorengan ya?", tanya satu perempuan sambil tetap memegangi tangan saya.
"Seneng banget atuh."
"Ini mah kolesterol."
"Wew... Seriusan?"
Perempuan itu langsung menjelaskan indikasi yang ia lihat dari telapak tangan saya.
"Lagi banyak pikiran juga ya? Stress?"
"Umm...banyak pikiran iya, stress ga tau."
Dilanjutkannya mengarahkan sebuah senter kecil ke bola mata saya.
"Penyakitnya banyak juga.", lanjutnya.
Beuh... Sebegitu pesakitankah saya? Padahal bisa dibilang, saya orang yang jarang sakit, kecuali akhir-akhir ini. Saya terus bergumam, melakukan pembelaan diri dalam hati dan perempuan itupun masih terus melanjutkan diagnosanya.
Dan untuk kedua kalinya, saya merelakan lebah-lebah itu menyengat tangan saya. Pertama kali, seminggu yang lalu, di sela-sela jempol tangan, dua sengatan. Dan sekarang tambah satu sengatan lagi. Hanya tangan kanan. di telunjuk dua sengatan, satu lagi di pergelangan. Sebenarnya saya tidak terlalu sakit, tapi saya sengaja menjerit (kesempatan untuk mengeluarkan kekesalan saya pada diri saya sendiri).
Ternyata, saya bukan datang ke rumah karena sakit. Mungkin sakit, tapi sakit saya lebih banyak dipengaruhi oleh keinginan saya untuk menemukan sosok nyata dari orang-orang yang saya sayangi: Ibu, Bapak, dan adik-adik saya. Juga rumah tempat saya besar dan belajar dari kenakalan pada orang tua saya.
Dan tangan kanan saya pun mengempis sedikit demi sedikit.


1 comments:
adieu yang lucu! ahahahahaha! :P
Post a Comment