...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

trust

Tadi malam sebuah perbincangan hadir. Seorang kawan tiba-tiba melayangkan sebuah pesan tentang pertanyaan-pertanyaan. Saya baru tahu bahwa pertanyaan-pertanyaannya saat itu muncul dilatarbelakangi oleh kebingungannya mencari orang yang tepat untuk bisa ia percayai setelah pesan pendek berikutnya saya terima. Perbincangan kami berlanjut sampai akhirnya kawan saya menyuruh saya diam. ”Cukup! Jangan bertanya lagi!”, katanya.

Sebetulnya saya sadar kalau tanggapan-tanggapan saya saat itu cukup introgatif. Egoisme saya sedang narsis-narsisnya. Saya ingin kawan saya juga merasakan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap saya lewat pesan-pesan pendeknya (balas dendam nih ceritanya...). Mungkin memang layak dimaklum jika pada akhirnya ia risih dengan nada tanggapan-tanggapan saya yang cukup ’menjajah’.

Perkaranya adalah tentang bagaimana sebuah kepercayaan bisa kembali hadir ketika seseorang sudah cukup trauma karena luka pengkhianatan. Ada jera dan enggan mengulang kembali cerita. Hingga pada suatu titik, pengalaman mengantarkannya apatisme akut. Sebentuk apriori. Serupa tembok besar yang terbangun tiba-tiba dan melingkupinya dari dunia di luar dirinya. Asing dan misterius. Soliter. Kawan saya mengutip kata-kata dosennya tentang filosofi teater Julius Caesar: teman dekatmu adalah ia yang akan menghancurkanmu.

Beberapa waktu, saya pun pernah mengalaminya. Yang hadir dalam pandangan saya hanya suram dan suram. Bodoh saya kira untuk menjalin kedekatan dengan orang lain dan mencoba membuka diri sedang ketakutan sudah membayang sejak saya membuka mata tiap hari.

Dilematis. Karena pada saat yang sama, naluri kemanusiaan saya tak bisa dinafikkan. Muncul, mendesak, dan terus mendesak: ”Ayo, kamu butuh orang lain untuk sekedar membagi resah.”

Kesediaan saya membuka diri adalah kesediaan saya untuk melakukan sebuah ritus pengorbanan yang sederhana namun radikal. Segala hal punya ruang dan waktunya masing-masing. Begitulah saya belajar. Bagaimana membagi ruang untuk hidup yang bisa saya bagi kapan dan pada siapa, juga ruang yang memang hanya saya dan Tuhan saja yang boleh tahu.

Dan memang tidak mudah, apalagi bagi saya yang memang sangat payah dalam menjalin sebuah kedekatan. Satu hal yang tidak pernah boleh absen adalah keinginan untuk belajar dari banyak hal, termasuk dari kecewa.

Tiba-tiba saya teringat bahwa Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 6 (yang kembali diungkapkan dalam buku barunya, God and The Unfinished Things) pernah memberi saya masukan tentang konsep soliter-solider dari Albert Camus: ”Seorang penjaga gawang adalah seorang yang soliter, tapi ia juga seorang yang solider: ia seorang yang paling tersisih tapi ia hadir dalam sebuah kesetiakawanan. Ia mungkin sang kapten kesebalasan, tapi dalam sebuah permainan yang agresif, ia jarang sekali sang pemberi arah, irama, ataupun semangat timnya di medan pergulatan. Ia teramat jauh di garis belakang..........Dari sini pula Camus melihat kita, manusia: mahkluk yang hidup antara ”keterbuangan” (l’exil) yang sunyi dan ”kerajaan” (le royaume) yang membuat betah. Sebab kebersamaan terus-menerus punya batas dan bahayanya: totalitas itu tak hendak mengakui bahwa pada akhirnya manusia berdiri sendiri di gawang di ujung garis itu. Tapi keterasingan bukanlah hidup.”

Dan All American Reject juga ikut bersuara di sela-sela benda yang menyumpal kedua telinga saya: ”Don’t solve the problem, if danger is better...”^^

0 comments:

Post a Comment