...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

mengerikan

ini tentang dua keping dvd dan kengerian saya, juga tentang dosen kawan saya yang mungkin akan tertawa ala devil saat menyaksikan kawan saya terjebak dalam sistem perkuliahan di kampusnya...

pembicaraan saya dan seorang kawan saya yang perempuan malam-malam bermula dari frida. kawan saya menjelaskan bahwa di hari jadinya 6 juli lalu, frida kahlo menjadi topik paling atas di twitter. hingga kawan saya berkata, "jadi pengen nonton filmnya."

"ngeri!" tanggapan saya spontan kala itu. tidak seluruhnya, tapi setidaknya saya pernah membuka dan mengintip kisah hidupnya lewat lembaran yang ditulis barbara mujica sedikit-sedikit sambil mengantuk. perempuan meksiko yang beridentitas frida itu memang berparas cantik. ia pelukis yang narsis. tidak sedikti orang yang berpendapat, frida seakan menciptakan cermin ketika ia mulai menggoreskan kuasnya.

bukan hanya itu. frida melegenda barangkali karena pemberontakannya. ia feminis, ia nasionalis, dan komunis, maka itu benar, dari beberapa buku yang saya baca. ia seorang perempuan cantik yang memiliki kecenderungan seksual terhadap jenis apapun. itu benar, menurut buku yang saya baca. dan begitulah, sampai saya pun sedikit mengetahui bahwa penghujung hidupnya tragis, begitu tragis. oleh karena itu, barangkali goenawan mohamad pun merasa perlu mempersembahkan sesuatu istimewa untuk frida, segenggam puisi.

barangkali. namun yang pasti, bagi saya, itulah yang mengerikan. itulah yang melatarbelakangi saya berkomentar "ngeri" pada kawan saya yang ingin menonton film besutan julie taymor tahun 2002 dan dibintangi salma hayek itu. bukunya saja bagi saya sangat "mengerikan", apalagi visualisasinya (meski dalam hal ini saya masih tetap berpendapat, visualisasi novel atau karya tulis apapun melalui film pastinya tidak akan pernah bisa mengimbangi imajinasi si penulis saat menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. makanya saya ngga suka cerita andrea hirata jadi another lalat pasar).

dan kengerian ini yang membuat saya yakin untuk meremas dua keping dvd hingga jadi pecahan kecil dan melemparnya ke tong sampah. film pertama, atas rekomendasi seorang kawan saat saya sedang begitu bernyali untuk menonton thriller. yang kedua, karena saya tertarik baca sinopsisnya saat nangkring sore-sore di samping gerbang unpad. saya terjebak. dua-duanya film yang tidak saya kehendaki.

sial. kawan saya yang perempuan dan ingin menonton frida itu menertawakan saya sejadi-jadinya. "untung ga kuliah di sastra," kawan saya bilang.

ya, untung saya tidak jadi memutuskan untuk nakal lagi dengan pindah ke fakultas yang gedungnya bersebelahan dengan tempat kuliah saya sekarang. tanpa menjadi mahasiswa sastra pun, sebagai pemulung dan orang yang tak tahu apa-apa, saya seringkali shocked dengan film-film yang saya pilih dan saya tonton. dan akhirnya saya harus sadar, maklum, dan harus pandai membuat self sensor bahwa itulah nilai jual dari film-film barat, sesuatu yang menurut sigmund freud akan membuat manusia menjadi benar-benar hidup dan berharga: seksualitas.

dan betapa malang kawan saya. ia bercerita, sekali waktu, untuk bahasan suatu mata kuliah (aaaaaaah saya benar-benar lupa apa mata kuliahnya), ia diharuskan dosennya menonton film dokumenter tentara negeri paman sam dalam perangnya di vietnam (saudara-saudara, sungguh, as menang perang itu hanya mitos) dengan segala embel-embelnya, termasuk tentara-tentara itu saat bersenang-senang dengan perempuan-perempuan muda vietnam. dosen kawan saya itu, sangat berhasrat sekali untuk membuat kawan saya yang berideologi vis a vis dengan ideologinya menjadi duplikatnya (sang dosen).

"saya membayangkan dosenmu tertawa devil karena puas menyaksikan kamu meronta-ronta dalam jebakannya yang sangat cantik dan resmi itu, dan berkata dalam hati: haha... sejauh apapun kamu berlari dari saya dan pemikiran-pemikiran saya, kamu tidak akan mampu keluar, karena kamu harus di sini, terikat pada lingkaran yang tidak kamu inginkan itu," ujar saya.

"kok sama pikirannya?" kawan saya malah bertanya balik.

entahlah, jawab saya dalam hati.

namun rasanya michael foucault, pencetus penjara panotikon itu, benar dalam hal ini: "pengetahuan dan kekuasaan saling terkait satu sama lain. kita tidak bisa membayangkan bahwa suatu ketika pengatahuan tidak lagi bergantung pada kekuasaaan, sebagaimana mustahil pengetahuan tidak mengandung kekuasaan"*

-----------------------
* dicuri dari "matinya ilmu komunikasi", st tri guntur narwayan. edward said cukup bisa 'diajak bicara banyak' soal ini.

2 comments:

July 11, 2010 at 8:57 PM divansemesta said...

Sy pernah baca buku, Frida Kahlo, terjemahan Bentang kalau gak salah mah. Bukunya jelek. Bukan karena kesundalan si Frida, tapi emang jelek entah bahasanya, entah alurnya. Hidup Frida mah, hidup sundal, hidup pelacur yang bersembunyi di balik sok-sok-an aktivis. Karya nya juga butut, lukisan-lukisanya. Para kurator itu berlebihan melihat Frida haha. Seksualitasi itulah yang membuat karya Frida melunjak. Tanpa seks ekstrem, tanpa kenalan-kenalan nya Frida dan karyanya bukan apa-apa.

Dan mengenai si dosen itu, sudah pastilah kelihatan otaak konspirasi dan kecenderungan seksnya haha

July 13, 2010 at 10:22 PM adieu said...

nah itu juga yang saya baca. jujur, teu khusyuk da maca na oge. hoream. (naon sih buat saya nu teu make hoream..) enya da, mun dipikir-pikir teh asa nothing spectacular with her life. tp beda standar meureun, bah. what's good for us isn't good for 'them'. bergantung pada siapa yang menguasai siapa (hegemoni pengetahuan, nilai-nilai/standar, plus 'cita rasa').

Post a Comment