...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

bis sore-sore

orang kecil pada akhirnya adalah orang yang terlalu sering kalah
-goenawan mohamad-



4.500, saya rasa ini adalah angka yang cukup untuk memperoleh angkutan yang nyaman dari dipati ukur ke jatinangor.

hari sedang sangat terang. saya dan ika memilih damri ac paling depan. dengan asumsi: semakin depan, semakin cepat bis itu membawa kami pergi. saya urungkan niat untuk masuk dari pintu belakang karena tepat saat mengangkat kaki kanan, muka saya dan sebidang telapak kaki hampir saling bertegur sapa. agak lama kami memilih bangku. soal ini, saya serahkan sepenuhnya pada ika. saya sempat melihat siapakah pemilik kaki yang mengejutkan di pintu belakang. sekilas, saya pun melihat dia tertawa, menertawakan saya tepatnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun. saya enggan berlama-lama memperhatikan lelaki menyebalkan itu, meskipun rambutnya gondrong (lol).

duduklah ika, setelah itu saya. saya titipkan selembar uang lima ribuan untuk ongkos, karena saya sudah berniat untuk tidur siang di bis sejak kami kabur dari kajiannya jerry d. gray. jujur, bangku saya kurang enak. tapi peduli apa. saya ngantuk. saya mau tidur, terserah dengan bangku.

beberapa kali saya sempat terbangun. kondisi bis tidak sama. penumpangnya pun sepertinya bergantian. namun di pinggir saya tetap ika. tak lama, setelah bis sampai pintu tol, saya baru benar-benar terbangun. membaca gerak-gerik ika yang tampak tidak nyaman. jelas saja. tidak ada tirai di jendela bis. sinar matahari siang itu menerabas masuk dan membuat saya menawarkan pada ika: mau tukeran tempat duduk, ka?

bis damri kembali berjalan. karcis tol sudah diletakkan di dashboard. sesak. penuh sekali bis ini dengan penumpang. di dekat tempat duduk saya, seorang bapak dengan kedua anaknya. berbagi tempat duduk, pada mulanya, untuk satu anak itu. tapi ternyata bapaknya ikut duduk. tak lama memang. kemudian di bangku kami, ada satu orang anggota baru, anak itu. perempuan kecil yang menggendong tas di punggungnya.

ika senang, sinar matahari yang menyengat itu tak lagi membuatnya merah, karena sudah pindah ke sisi bis yang lain lagi. obrolan saya yang sudah mulai macam-macam , tiba-tiba memelan. saya dan ika heran dengan perangai bis yang juga melamban. kami mulai gelisah. karena bis benar-benar berhenti dan sang supir keluar, mesin pun dimatikan.

jangan sampai bis ini mogok di tengah jalan, gerutu ika. saya tersenyum dan mengeluarkan sebuah kipas (haha... inilah satu lagi indikator yang mungkin membenarkan anggapan ncep bahwa adieu centil... biarrrrrr). obrolan kami tak terhenti. justru kami merasa menemukan topik baru dan tenggelam di dalamnya.

kesenangan kami karena bis berjalan kembali, ternyata memang bernasib sangat pendek. tak lebih dari setengah jam bis lagi-lagi berhenti. benar dugaan ika. bis ini mogok. saya masih menaruh sedikit harapan bahwa sang sopir dan kondektur sedang berusaha sekuat tenaga untuk membetulkan mesin dan menyampaikan kami ke jatinangor. namun salah rupanya. semua penumpang saling berdesakan untuk keluar karena hendak berganti angkutan. beberapa bis sempat berhenti, namun tak cukup besar untuk menampung kami, penumpang bis mogok ini.

saya baru sadar, ternyata di jendela pintu belakang, tertulis besar-besar "tes mesin". kesal saya. mesin yang probabilitas fungsi baiknya masih di bawah 0,5 itu masih saja dipaksa beroperasi, dengan jumlah penumpang yang overload, yang harus tetap membayar dengan ongkos sama meski mereka bahkan tak kebagian sedikitpun celah untuk berpegangan.

bapak-bapak bangsa yang kaya dan sibuk, saksikanlah kami, rakyat kalian, sebagai rakyat yang 'sangat beruntung' karena bisa membagi pengalaman sangat mengesankan dan mengesalkan atas pelayanan yang kalian berikan. hak yang harus kami bayar mahal sebagai warga negara.

saya benar-benar kesal. dan kekesalan saya semakin bertambah saat saya tak menemukan dimana keberadaan supir dan kondektur, hanya sesosok besi putih lusuh bertuliskan: "damri ac jatinangor-dipati ukur 4.500 jauh dekat". inilah negara dunia ketiga. negara yang kocar-kacir mengejar ketertinggalan untuk menjadi "maju" dengan nafas kapitalisme.

saya gagal lagi untuk tidak mengeluh. maafkan saya ya Allaah.

sore yang lelah bagi kami, para penumpang bis yang masih tersisa, karena harus melihat berbagai kendaraan roda empat melesat begitu cepat seperti kilat, namun hanya lewat. entah peduli dengan keadaan kami ataukah tidak. saya hanya bisa memastikan bahwa di antara mereka setidaknya berseloroh: "haha... kasian bisnya mogok"

perlahan saya dan ika, juga penumpang lain, semakin bergeser meninggalkan bis itu sendirian. tak jauh dari tempat saya meregangkan rasa pegal karena sejak tadi menggendong backpack, sebuah papan hijau memberi kami harapan. tinggal satu kilometer lagi untuk mencapai pintu tol. saya menyeringai. mata saya dan ika saling bertemu: "jalan yuk!"

di belakang kami ternyata ada beberapa orang yang mengikuti. orang-orang yang kesal. orang-orang yang mencoba sabar, namun tak mau gentar.

padahal saya dan ika berencana untuk sedikit ilmiah, menghitung waktu yang kami butuhkan untuk mencapai jarak satu kilometer sehingga kami bisa menghitung kecepatan langkah kami yang tak begitu lebar, sebuah bis menghampiri, hendak menolong sepertinya. masuklah kami ke dalam bis itu,

dan benar, bapak-bapak bangsa. terpujilah kalian. tidak ada yang gratis di negeri ini. sang kondektur lantang mengumumkan: "seikhlasnya, seikhlasnya, harap maklum"


huff.... sore yang melelahkan. sore yang menakjubkan.
dan bapak-bapak bangsa, mestikah kami mencatatkan bilyunan cerita serupa?

0 comments:

Post a Comment