saya sempat tak bisa menerima saat dalam suatu forum beberapa bulan lalu, salah seorang mengatakan: "anda bilang anda penyuka kopi tapi tak mengetahui dan tak pernah mencicipi kopi-kopi ini?" sambil dengan bangga memperlihatkan sejumlah kilasan gambar kopi yang berpenampilan indah, macam-macam. bukan hanya itu, ia pun menyebut macam-macam kopi itu beserta harganya yang humm... saya tak tertarik.kadang saya berpikir, apakah menjadi seorang penyuka kopi berarti harus menjadi orang yang pernah mengeluarkan uang banyak untuk membeli kopi-kopi yang ditunjukkan orang tadi?
dalam pikiran saya, tak mesti. sebagai orang yang kenal kopi karena bapak saya yang pengonsumsi kopi tiap pagi, saya tak ingin jadi orang yang macam-macam. cara bapak menikmati kopi membuat saya menyimpulkan sederhana saja. bahwa menjadi penikmat kopi adalah menjadi orang yang menikmati kopi. menikmati kopi adalah merasakan meminum kopi di momen yang tepat: secara waktu, secara ruang. tak perlu berlebihan. mau yang mahal, silakan. atau bahkan yang hanya 500 rupiah sekali seduh, itupun silakan. satu teguk atau jutaan teguk, silakan.
mengetahui apa yang dibutuhkan. itulah kuncinya saya kira. termasuk dalam mengonsumsi kopi. karena dengan itu, siapapun akan juga mengetahui dan mempertimbangkan apa yang akan mereka dapatkan saat berusaha memenuhi kebutuhan itu.
dan bagi saya sih, menikmati secangkir kopi panas lebih baik ketimbang menunggunya hingga dingin. namun mereguk kopi dingin pun tak menjadi lebih buruk saat kalap karena rasa kantuk, tetes-tetes air yang merembes dari langit-langit kamar, cucian yang tak kunjung dibilas, serta sejumlah tulisan yang tak kunjung tuntas.


3 comments:
Mengenai kopi, saya yang pernah jadi pecandu sehari 7 x ngopi, harus turun gunung, berbicara, berpetatah titih, berpetuah: kebanyakan ngopi itu bisa buat vertigo, hati hati bungwati Iren!
Dan sombong benar itu orang, yang membuat kopi menjadi dogma. Mungkin itu merupakan nilai-baru dunia posmo, yang menggantikan dogma agama berkenaan : terserahlah dahar naon wae nu penting halal. Kopi yang keluarnya dari anus luwak pun sekarang dipuja dieu... kalau saya malah, sekarang ngopi sesadarnya. bukan seadanya. karna kondisi kesehatan. kadang ngopi karna memperturutkan kahayang membuat sy menyesal. Saya mau hidup sehat. mencecap kopi, seperlunya saja. Kopi memang mirip mirip candu.
Mengenai kopi, saya yang pernah jadi pecandu sehari 7 x ngopi, harus turun gunung, berbicara, berpetatah titih, berpetuah: kebanyakan ngopi itu bisa buat vertigo, hati hati bungwati Iren!
Dan sombong benar itu orang, yang membuat kopi menjadi dogma. Mungkin itu merupakan nilai-baru dunia posmo, yang menggantikan dogma agama berkenaan : terserahlah dahar naon wae nu penting halal. Kopi yang keluarnya dari anus luwak pun sekarang dipuja dieu... kalau saya malah, sekarang ngopi sesadarnya. bukan seadanya. karna kondisi kesehatan. kadang ngopi karna memperturutkan kahayang membuat sy menyesal. Saya mau hidup sehat. mencecap kopi, seperlunya saja. Kopi memang mirip mirip candu.
nggeus jadi penderita, bah. haha... (naha bungah kieu nya?) iya, more than that, coffee is dangerous for my womb (diuretic). ceuk saya ge mun butuh, karek ninyuh. misal mun saya rek ka perpustakaan, karek ngopi. soalna apal mun asup, suasana perpus teh asa kondusif buat tidur. :D tong berlebihan. sagala nu berlebihan moal waras, bah. tah kitu ceuk Allaah teh.
Post a Comment