Saya sepertinya sudah tak begitu tahu lagi arti tempat tinggal. Pertama, sudah sangat lama saya tidak pulang ke rumah ibu bapak saya di kampung. Kerinduan saya pada mereka hanya bisa tunai lewat telepon dan layanan pesan singkat. Pasalnya, saya malu. Belum ada yang bisa saya banggakan di hadapan mereka. Padahal adik saya yang bungsu, selalu merajuk saya, meminta pulang, seperti tak ada kalimat lain yang bisa dia ucapkan.
Kedua, karena saya sepertinya ingin mendeklarasikan diri sebagai manusia dari golongan nomaden. Kesimpulan yang terburu-buru bukan? Dalam tiga bulan terakhir, saya beberapa kali pindah kontrakan. Penyebabnya macam-macam. Mulai dari ingin menghemat biaya, efisiensi waktu, konsentrasi belajar (cuihh...), listrik yang tidak stabil, bocor, lembab, kurang cahaya, dll.
Sampailah saya di sini, saat ini. Pondokan mahasiswa, salah satu fasilitas yang disediakan kampus untuk mahasiswanya yang memang berminat untuk menyewa kamar di sana. Saya membujuk Fatma untuk jadi ibu kos saya. Ya, sekarang saya tinggal satu kamar dengan seorang perempuan muda, berkaca mata, sedikit manja, cerewet, tapi jarang sekali marah.
Jujur, saya beruntung. Bukan hanya karena sekarang saya mendapatkan ibu kos yang usianya lebih muda dan sangat baik. Saya beruntung karena, dari banyak proses berpindah, beberapa hal semakin menegaskan pemahaman saya tentang bagaimana menempatkan diri sendiri dan bagaimana menempatkan orang lain. Saya tidak ingin, sebagai orang yang memang tak pandai menjalin hubungan, kejadian saya dengan beberapa orang dengan interaksi yang intensif dulu, kembali berulang. Huff... Kalau ingat, saya benar-benar malu dan kebingungan bagaimana cara minta maaf yang tepat pada mereka yang pernah saya sakiti lewat sikap saya yang tidak menyenangkan. Karena ternyata, gengsi itu masih menjadi raksasa yang asyik bermain-main dalam diri saya.
Saya sudah tidak begitu mengetahui arti tempat tinggal. Tapi setidaknya saya jadi tahu bagaimana menerima dan diterima orang lain, meski sulit dan penyakit egois itu sering menjangkit. Dan mungkin di sanalah arti tinggal bagi saya ditatah: bukan hanya persoalan seberapa lama menetap. Tapi lebih dari itu, sebagai tempat untuk menerima dan diterima, mengerti dan dimengerti, memahami dan dipahami, memberi dan diberi. Di sanalah rasa nyaman saya dapatkan. Mungkin karena akhir-akhir ini saya sedang keranjingan 'belajar'. Entah kenapa.
-------------
Tahukah? Karena pindahan sendiri kemarin, dengan barang-barang saya yang lumayan besar dan berat, saya merasa hidup. Saya bangga pada diri sendiri sebagai perempuan. Lelah tapi bangga. Bangga tapi lelah. Whaha... Superwoman euy!!!:D (nah kan, ego lagi..)


0 comments:
Post a Comment