...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

tentang keluarga (jauh)

Maknailah, meski hanya sebuah kata sederhana. Kelak kau akan tahu betapa makna bisa bermula dari hanya sebuah kata, sebuah huruf. Berjudilah... Senyumi ketidakmungkinan.
-Cala Ibi-



Bermula dari sebuah guyonan dengan seorang kawan. Saya menggodanya. Sebab tadi siang kawan saya itu bilang dia tak punya uang untuk menuntaskan rasa laparnya. Tapi malam-malam saya menemukan dia online di Yahoo Messanger.
-----------
saya(22:33:23): lg dmn?
dia (22:34:36): di warnet
saya (22:35:21): udah punya duit nih skrg?
saya (22:35:23): :D
saya (22:35:33): atau lg curhat sm kakak lu
saya (22:35:35): ehmmm
dia (22:36:02): KAKAk nenekmu
dia (22:36:11): gag punya duit
dia (22:36:18): kebetulan td ada yg bayar harga kaos
saya (22:36:23): o iya
saya (22:36:26): baru ngeh nih
dia (22:36:35): ngeh apaan?
saya (22:36:44): slama ini ga prnh nanya kalo nenek gw pnya kakak atw ngga?
saya (22:37:49): hehe
dia (22:38:03): yaya.. telp sonoh
-----------
Perbincangan itu mengingatkan saya pada keberadaan saya di keluarga saya sendiri. Saya sudah cukup merasa diakui sebagai anggota keluarga karena saya tahu saya punya kaketo dan neneto dari bapak dan ibu yang melahirkan saya dan adik-adik saya. Tak harus ada kepedulian yang banyak pada sanak keluarga lainnya. Tak perlu ada pengetahuan yang lebih pada jejaring famili lain yang terlalu jauh pertaliannya dengan saya. Saya kira itu cukup jadi syarat menjadi anggota sebuah keluarga.

Jangan heran jika setiap lebaran tiba, saya lebih senang untuk berdiam diri di rumah ketimbang keluar dari pintu yang satu dan masuk ke pintu lainnya untuk sekedar bersalam-salaman dan makan ketupat opor sampai 'puyeng'. Karena dipaksa orang tua, mau tidak mau semua itu saya lakukan juga (kecuali untuk urusan memamah biak...itu kehendak sendiri:D). Dan, tadaaaaan.....jadilah saya sesosok alien yang sok ramah dan gemar bersalaman dengan banyak orang tanpa sedikitpun keinginan untuk tahu dan mengenal siapa yang memiliki tangan-tangan yang berpagutan dengan tangan saya itu. 

Untung saja tidak pernah ada ujian tentang garis kekeluargaan. Kalau saja ada, mungkin saya tidak akan pernah bisa jadi mahasiswa baru dua kali di kampusnya Iwa K. Siapa tahu kalau mau merunutnya, ternyata saya merupakan keturunan utama dari Raja Pajajaran yang pernah menendang kuali di perut Dyah Pitaloka yang pura-pura hamil berabad-abad lalu. Saya bisa minta hak waris saya tuh (hak waris apaan? batu-batu kali? :D).

Ya, siapa tahu. Siapa tahu, jika saya mau sedikit mengorbankan kemalasan saya mengenal sanak famili yang banyak itu, saya mendapatkan prosa berharga ketimbang yang diberikan dari buku-buku yang selalu telat saya kembalikan ke perpustakaan. Siapa tahu, jika saya mau, kenalnya saya dengan mereka akan mengurai sebuah lembar yang panjang dalam sepenggal riwayat sejarah yang telanjur dipelintirkan satu kepentingan. Ya, siapa tahu. Bukankah sejarah adalah kisah orang-orang yang mencicil?

Ah... Saya terlalu semangat. Saya ingin cepat pulang dan menemui kaketo dan neneto, menanyakan pada mereka bagaimana membangun ingatan tentang dan lewat garis kekeluargaan.

0 comments:

Post a Comment