
Semuanya ingin berlari. Kemana? Entahlah. Mungkin ke utara. Mungkin ke selatan. Mungkin ke barat. Mungkin ke timur. Untuk mengejar, juga mungkin menghindar. Entahlah. Tak begitu pasti bagiku. Aku tak ingin ikut melakukannya. Berlari untuk apa? Mengejar apa? Menghindari apa? Aku tidak punya harapan sebagaimana aku tidak menemukan kekecewaan. Mungkin mustahil, tapi memang inilah yang kurasakan.
Ini adalah tahun ketiga aku melanjutkan hidup di sini, tempat murka juga hina bagi kebanyakan orang. Di sini banyak sekali cinta. Dijajakan seharga muntah mereka yang mabuk. Aku tetap menikmatinya, bukan sebagai anugerah bukan pula bencana. Hanya sebagai ritme hidup yang memang harus kujalani. Mungkin seperti air, mengalir begitu saja. Tak banyak yang hendak kucari, sebagaimana tak banyak juga yang kudapatkan. Namun entah kenapa, banyak orang yang kutemui, terutama teman-teman, bersikukuh memintaku berlari. “Larilah kecuali kau ingin mati!”
Aku tak pernah ingin menggubrisnya. Untuk apa, pikirku.
**
“Besok, sebelum ayam jantan menggeliat pun, sudah kupastikan aku tak ada lagi di tempat terkutuk ini. Aku akan lari. Kau mau ikut?”
Susan jelas-jelas tak ingin suaranya terdengar oleh orang lain selain diriku. Tapi bisikannya terlalu dekat. Kudorong tubuhnya hingga bisa dipastikan bahwa hembusan nafasnya tak menggelikan telinga kananku.
Susan memandang ke arahku, berharap kutanggapi.
“Kau tahu kemana aku akan berlari?..”
Aku hanya menoleh sejenak ke arahnya dan kembali menatap orang keluar masuk dari sebuah pintu dalam keadaan yang tak begitu jelas dipapah oleh perempuan-perempuan berpakaian terus terang. Dari dalam pintu itu, bermacam suara terdengar. Musik dangdut, gelas-gelas berdentang, botol-botol pecah, pukulan-pukulan yang berdebum, sorak sorai, jerit, rintih, hingga desah. Semua hampir bersumber dari sana.
“...menuju sebuah tempat dengan jarak yang tak terduga. Tempat membenamkan kisah-kisah hidup tak menyenangkan, menerbitkan harapan-harapan tanpa ketakutan”, lanjutnya.
“Ini bukan tempat selamanya, Lembah. Hanya perhentian sementara sebelum kau kembali menegangkan urat-urat badanmu untuk kembali berlari.”
Kubiarkan Susan terus bicara dengan suaranya yang menekan-nekan, seperti seorang pengkhotbah pada sebuah jamuan suci. Ia seharusnya tahu bahwa aku ada di sini bukan karena berlari sepertinya. Aku hanya ada di sini, sampai di tempat ini. Tidak dengan berlari.
“Apa yang bisa kau harapkan dengan terus-terusan berdiam diri di tempat ini, tempat paling terkutuk yang pernah kusambangi seumur hidup? Hah? Apa? Apa, Lembah?”
Apa yang kuharapkan? Huhh.. Aku tak berharap apa-apa. Aku hanya ingin menjalani apa yang kuhadapi. Itu saja. Tanpa harap. Tanpa kecewa.
Melihatku yang tak bergeming dan tetap asyik memain-mainkan asap rokok yang berdesakan dari mulut, ia kembali bicara, kali ini dengan suaranya yang patah.
”Baiklah, Lembah. Sepertinya kau memang menghendaki kematianmu sendiri. Aku tak mau tahu kalau suatu saat nanti kau mengalami penyesalan yang mendalam pada sikapmu sekarang.”
Susan berlalu. Ujung gang yang remang itu ikut menelikung bayangnya yang geram. Kertap kakinya menghilang. Biarlah.
Malam semakin dalam. Gang ini semakin ramai. Terlalu banyak orang, lalu lalang dalam kondisi kesadarannya yang mengambang seperti kabut di sela-sela hutan pinus. Mabuk. Berpasangan. Menyudut. Mencari ruang di balik keremangan dimana cinta, Susan menyebutnya birahi, dikisahkan dalam bentuk yang paling tolol dan purba.
Dingin mulai menyembur dari celah dinding yang menyanggaku berdiri. Dinding yang sama dengan malam-malam yang lain selama tiga tahun ini. Melekatkan bayang-bayang. Bisu. Dinding yang tak punya kehendak untuk berlari. Sepertiku.
**
“Nak, dunia ini berubah lebih cepat dari mimpi. Harapanmu kemarin sore lebih baik kau copot pagi ini”
“Mengapa?”, tanyaku pada perempuan paruh baya dengan lebam di sekujur tubuhnya.
Perempuan itu kutemukan di tepi danau saat gerimis turun ragu-ragu. Tubuhnya gigil. Sekarat. Perawakannya yang kurus pucat seperti tak lagi mampu menahan kesakitannya yang memuncak. Pakaiannya koyak.
“Sshh…” Tampaknya ia kepanasan dengan segelas jahe panas yang kubuatkan tadi sore.
Di luar, gerimis sudah habis dan tanah mulai mengering.
“Harapan adalah kejahatan paling buruk karena ia hanya memperpanjang kesengsaraan manusia , Nak.”
Aku mendengarnya serupa gumam yang telanjur digiring dendam yang tak mungkin padam. Kata-katanya bersengat. Sesekali kelepak burung berdesak dengan desau angin, menandingi pembicaraan kami. Seolah ingin berlomba, siapa yang paling gaduh.
“Entah bencana macam apa yang akan kau alami jika kau masih tetap menghunjamkan harapan itu di dasar hatimu? Tak bisa kubayangkan sama sekali…”
Di sela-sela lunglai tubuhnya yang menyandar pada sebuah bantal, ia masih tetap mengumpulkan kekuatan untuk bicara.
“Lihatlah aku...” matanya sayu, “…hidupku hancur seperti ini. Mungkin hanya satu yang bisa kulakukan, menunggui ketakpastian sebelum yang pasti benar-benar menghampiri.”
“Maksudnya?”, tanyaku lagi.
“Mati adalah sebuah kepastian, bukan? Tak perlu dikejar dan menghindar, bukan? Karena ia pasti. Pasti datang pada siapapun, yang berlari atau yang tidak berlari.”
Aku mengangguk perlahan.
“Nak, sejak kecil aku diajari berlari, bukan sekedar berjalan. Aku tak pernah bertanya pada Ayah dan Ibu alasan mereka selalu mendesak agar aku berlari dan tetap berlari. Orang tuaku hanya bilang: Lihatlah mereka, orang-orang itu! Merekapun berlari. Manusia diciptakan untuk selalu berlari. Dan jika kau ingin tetap hidup serta diakui, berlarilah! Sekencang mungkin. Sejauh mungkin. ”
“Dan kau pun berlari?”
“Benar. Manusia mana yang tak menghendaki hidup. Oleh karena itu, aku terus berlari. Dari satu jarak ke jarak yang lain dengan tangan menangkup berbongkah-bongkah harap. Hingga suatu saat aku sadar, bahwa tanganku tak cukup besar dan kuat untuk tetap menangkupnya. Harapanku tercecer dan tak mampu kuraih kembali karena aku tak boleh berhenti. Mereka bilang, di depan, di ujung yang entah, harapan jenis apapun akan kita tuai dengan mudah, seperti malam yang dengan mudah menutup siang.”
“Lalu?”
“Lalu aku hancur. Tidakkah kau lihat aku sekarang? Aku sudah enggan untuk berharap dan berlari untuk harapan-harapan itu. Harapan-harapan sialan yang selalu membuatku merasa takut yang tak berkesudahan. Aku tak mau kehilangan langkah-langkah kecil yang selama ini luput. Aku sudah tak ingin kehilangan jeda untuk sekedar merekam segala cerita usang yang berkerumuk dari mulut-mulut mereka yang merasa hidup dengan berlari.”
“…”
“Hanya saat kita tak lagi merasa takutlah maka hidup kita baru bermula.”
“Apakah tanpa berlari lantas kau tak lagi merasa takut?”
“Tidak. Rasanya tidak. Justru karena berlari dan berharap itu kau akan merasakan ketakutan. Kau takut dikejar. Kau takut tertinggal. Kau takut pada kegagalan. Kau takut pada kekecewaan. Kau takut pada kesedihan. Kau takut pada kemarahan. Kau takut pada kematian. Dan segala ketidaktentraman lain akan ikut menguntitmu. Menghantui nafasmu yang berdesak-desak.”
Ia terus berbicara. Marah. Melantunkan berjuta laknat. Namun dengan suaranya yang melemah. Dan malam melahap perempuan itu lewat tidurnya yang lelah.
Begitupun denganku. Tanpa sadar, aku tertidur di sisi tempat perempuan paruh baya yang tak hendak lagi berlari itu pulas terbaring. Aku bermimpi. Melihat matahari menggelundung pergi. Apakah matahari juga ikut berlari?
**
“Lembah!”
Aku sangat mengenal pemilik suara berat itu. Bopeng namanya. Ia mensejajariku. Badannya merapat bersampingan dengan badanku.
“Berapa orang?” tanyaku sembari tetap memainkan asap rokok itu ke udara.
“Ini akhir pekan, Lembah. Kau harus mengerti.”
Bopeng menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Senyumnya mengembang. Giginya yang menghitam terlihat pongah.
“Kau pasti bisa. Kau pemain lama di sini. Ingat itu!”
“Berapa bagianku?”
“70:30”
“Kalau begitu, kau saja yang melayani mereka.”
“Baiklah… Aku mengalah malam ini untukmu, Lembah. 80:20”
“Hmm... Dimana?”
“Di tempat biasa”, bisiknya setelah tiba-tiba mencium pipiku. Ia buru-buru pergi.
“Brengsek!”
Segera kumatikan rokok yang sejak tadi menyala. Aku baru sadar bahwa filternya sudah hampir terbakar. Malam ini, aku harus bekerja keras.
Ingatanku menggelandang. Membentang pada perempuan paruh baya yang telah mengendapkan kisahnya dalam hidupku. Juga pada Susan yang akan berlari esok pagi. Perempuan itu. Susan. Berlari, Tidak berlari. Perempuan itu. Susan. Berlari. Tidak berlari. Ingatan yang kemudian muncul, kemudian tenggelam. Begitu seterusnya. Seperti lampu-lampu ruangan di seberang tempatku tadi berdiri. Kerlap-kerlip, seperti hendak mendedahkan keremangan yang dirayapi dingin angin selatan.
Motel Melati Kamar 5. Aku harus segera beranjak ke sana. Tanpa berlari. Tanpa berharap. Dan tetap hidup.***
Pinayungan Lantai II, 18 Januari 2009
Adieu, bertambah tua dengan rasa kecewa


0 comments:
Post a Comment