...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

gumam saja


Agak menggelikan memang. Apalagi jika berbicara cinta. Sesuatu yang selama ini terlalu malas untuk saya bahas. Tapi Pram telah membuatnya lain. Juga kawan saya. Semacam timbul dorongan entah macam apa yang membuat saya ingin segera menuliskannya sebelum lupa.

Masih dengan kegelian yang sama tentunya, saya mengirimkan petikan kalimat yang diungkapkan Jean Marais pada Minke dalam Bumi Manusia. Begini petikannya.

Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapinya.

Lalu kawan saya membalas sms iseng saya beberapa saat kemudian.

Cinta indah sekali..tapi malam ini seperti tanpa rasa. Cinta tampaknya hanya kejutan-kejutan sesaat perasaan.

Tampaknya memang benar. Saya sepakat dengan kawan yang sangat saya kasihi itu, yang jauh di negeri tempat sejuta kesibukan bertumpuk bahkan tumpah ruah. Dan mungkin di tempatnyalah cinta juga dimaknai oleh beragam pandangan dan –tentunya- kepentingan. Atau mungkin juga tidak lebih banal dibanding negeri tempat saya mendapatkan udara yang masih gratis sejauh ini.

Saya pernah sangat sentimen dengan kata itu. Yang dirugikan tak kalah banyak dari yang merasa diuntungkan karenanya. Yang menderita tak lebih sedikit dari yang bahagia oleh cinta. 

Mengapa cinta harus ada? Dan sebegitukah besar dampaknya? Mungkin memang benar. Saya tidak bisa lari dari realitas yang begitu gagah ingin menunjukkan seberapa besar virus merah jambu itu punya pengaruh. Cinta bisa membuat segala yang tidak masuk akal menjadi rasional. Cinta telah membuat orang biasa menjadi pujangga. Cinta telah membuat orang normal menjadi gila, dalam pemaknaan yang relatif, tentunya. Cinta telah membuat yang baik tampak buruk. Begitu pula sebaliknya. Cinta telah membuat segalanya bisa berubah. Saya pernah menangis dibuatnya. Hampir tiap malam. Keesokan harinya saya harus berani malu karena akan banyak orang yang melihat kelopak mata saya tidak normal. Membengkak. Gila. Semacam pengantar bunuh diri yang sangat profan. Dan itu sepintas saja.

Sejarah sudah mencatatnya terlalu banyak. sejarah sudah terlalu lelah. Saya juga.

Dan mungkin juga benar apa yang dikatakan kawan saya lewat sms-nya, cinta hanya letupan perasaan sesaat. Yang seketika juga bisa hilang. Indah memang. Tapi sayangnya hidup tak selalu memihak pada keindahan. Lihatlah hujan. Lihat pula angin. Lihat gunung-gunung. Lihat pula manusia. Sewaktu-waktu tampak begitu indah. Sewaktu-waktu tak berarti apa-apa juga. Sewaktu-waktu tanpa duga bisa jadi sangat menyeramkan dan menimbulkan kepedihan yang dalam.

Mana yang akan dipilih? Bebas saja. Namun seperlunya, saya kira. Dan, seperti yang dikatakan Jean Marais pada Minke, beranilah menghadapinya.


-----------
(Dan entah kenapa, saya tidak pernah berpikir untuk menjadikan cinta sebagai alasan untuk menjatuhkan sebuah pilihan.)

0 comments:

Post a Comment