Takiyama Madoka dan Shikanai Tsugi adalah salah dua dari sekian sineas Jepang yang tahu betul bagaimana mengorek makna dari cerita hidup yang sederhana dan tabah. Memang bukan dua orang itu yang menulis skenario. Cerita aslinya ditulis versi manga oleh Umino Chika dengan judul yang sama: "Hachimitsu to Clover". Drama yang terdiri dari 11 episode ini mengisahkan persahabatan lima orang mahasiswa: Hanamoto Hagumi, Takemoto Yuta, Yamada Ayumi, Mayama Takumi, dan Morita Shinobi, tentang kehidupan juga cinta segitiga antara mereka.
Bukan. Bukan kisah cintanya yang ingin saya kutip di sini. Bukan juga karena kurang menarik. Justru sebaliknya. Saya merasa kisah cinta pada drama-drama Jepang itu patut dijadikan satu lagi rujukan bagi orang seperti saya -mungkin. Tabah dan tak pernah banyak menuntut. Seperti kata Chairil, adalah kesunyian masing-masing.
Dari sekian keping dvd yang sabar saya simak, dari sekelumit konflik yang disuguhkan tiba-tiba saya merasa diingatkan tentang jarak. Sudah sejauh mana saya melangkah? Kemana? Dan ada dimana saya?
Sudah hampir 24 kali mengitari matahari saya hidup. Dan selama itu pula sering kali saya lengah. Ibu saya, yang hampir tiap hari menelepon untuk mengontrol ikhtiar kelulusan saya, sudah seperti apa yang dikatakan Butler sebagai parodic performance, tragedi yang terlampau berulang dan menjadi banyolan, kata Marx. Hilang rasa. Seperti adzan subuh di mushola yang berdempetan dengan tempat kos saya dulu. Sudah tak membuat saya bangun karena sudah membeku bersama pembiasaan dan rutinitas. Hilang makna.
Barangkali karena kemalasan saya sudah meradang. Entah mengapa semangat yang saya punya ibarat soda. Berbuih ketika pertama kali dibuka. Dan lama-lama buihnya menghilang disunting udara.
Namun apakah minuman itu jadi kehilangan sensasi dan dijauhi? Saya kira tidak. Mereka, penyuka minuman bersoda, sudah siap dengan segala konsekuensi yang menyertai setiap regukan dari soda itu sendiri. Bahkan ketika sensasi sodanya sudah tidak terasa sama sekali, mereka tetap menghabiskannya.
Saya kira, begitu pulalah kehidupan manusia beserta harapan-harapannya, beserta target-target hidupnya, beserta usaha-usaha mewujudkannya. Dalam "Filosofi Kopi", Dee bilang, manusia butuh jeda, butuh spasi. Sekedar gelisah. Sekedar mepertanyakan. Sekedar melakukan kilas balik atas hidup yang telah lalu sebelum esok kembali baru.
Seperti Danny Balint, pemuda 20 tahun yang juga fanatik Neo NAZI, dalam The Believer (film yang sangat punya kesan bagi saya). Danny, di tengah kebrutalannya melakukan teror terhadap kaum Yahudi di New York, ternyata mengalami keguncangan pada satu titik. Identitas. Krisis identitas. Ia gelisah. Pilihannya sebagai seorang penganut Neo NAZI ternyata tidak membuatnya 'mapan'. Ia hanya merasa menemukan tempat berlari dari kekecewaan terhadap orang-orang yang tak mampu menjawab pertanyaannya ketika ia sekolah di Jewish Yeshiva.
Juga seperti saya dan Takemoto Yuta dalam "Honey and Clover". Manusia, akan selalu sampai pada titik itu. Pada jeda itu. Pada spasi itu. Pada ruang itu. Dimana segala sesuatu seperti mentah dan penuh penyesalan juga mungkin penuh pengharapan. Pertanyaan tentang diri sendiri pun muncul menyembul-nyembul: Siapa saya? Sudah sejauh apa saya melangkah? Memang saya mulai dari mana dan sekarang saya ada dimana? Kemana arah saya selanjutnya?
Saya catat baik-baik kata-kata Takemoto Yuta dalam film itu: If there's no map, you won't know where to go. But, that was wrong. I'm not lost because I don't have a map. I don't have a purpose. I wanted to move even faster. I wanted to move even further. Concentrating on that. I continue to pedal.
Dengan sepeda pemberian senseinya, Yuta beranjak dan mengunjungi berbagai tempat mencari hidupnya. Sedang saya, masih membatu di hadapan monitor dengan mata hampir kalah. Ah, Ibu, maafkan anakmu.
Semoga esok lebih baik.


0 comments:
Post a Comment