...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

(cerpen) matikah aku di tanganmu, gadisku?

Mengandalkanmu untuk mendekapku, atau sekedar menyelimutiku rasanya sia-sia saja. Setidaknya aku masih bisa mencari kehangatan di sini, dengan baju yang telah terasuki wangi badanmu. Menurut teman-temanmu baju itu sudah mengganggu penciuman, karena parfume yang kau semprotkan tadi pagi tak kuasa bertarung dengan angin yang menyunting debu-debu jalanan. Ia juga tak mampu bertahan karena hari yang harus kau lewati terlalu sibuk sehingga tak menyisakan ruang bagi keringatmu untuk berkompromi. Tenanglah, gadisku. Aku tak mau mempedulikan itu semua. Justru aku merasa lebih nyaman memeluk baju kotormu ini. Aku malah membenci baju bersih dan wangimu. Karena menurutku, bajumu yang wangi itu hanya memaksamu bersandiwara pada dunia. Aku mencintaimu sebagaimana adanya kau. Sejernih air yang berpencar nakal dari pori-pori tanah. Setulus mentari yang menerangi semesta tiap hari. Tidakkah itu cukup bagiku untuk meyakinkanmu? Tapi mengapa tak setitik pun perhatianmu mengalih padaku. Aku kedinginan, gadisku. Senja yang menggelincirkan sang surya seakan mempersilakan dinginnya malam mulai menyapa semesta. Menyelusup ke dalam lipatan tubuhku. Aku begitu kedinginan.

Aku sangat ingat saat pertama kali aku datang ke tempatmu. Aku tersesat dalam pencarianku. Fase hidup yang terlampau cepat memisahkanku dari orang tua, sahabat, juga teman-teman. Aku harus mencari kehidupanku sendiri, begitu pesan orang tua dan teman-temanku beberapa waktu sebelum akhirnya aku kehilangan mereka. Pendulum waktu tak memberitahu bahwa ia selalu bergerak dan bergerak, perlahan namun serasa cepat, tak pernah istirahat. Begitu saja aku kehilangan mereka? Padahal sebelumnya kami selalu bersama-sama, menikmati hidup kami yang manja. Meskipun kemanjaan kami masih harus bertaruh dengan ancaman dari luar yang bisa kapan saja meniupkan terompet kematian.

Semua terasa begitu asing bagiku. Tempat ini mungkin ditakdirkan Tuhan untuk melangsungkan kehidupan. Yang begitu menarik perhatianku adalah keberadaan sesosok gadis yang sedang duduk di sudut ruangan ini. Itulah dirimu, gadisku. Dan pertama kali kulihat dirimu sedang muram. Dan sepertinya kau tak bisa lagi membendung tangis yang begitu saja keluar dari balik kantung matamu yang membesar. Kesedihan macam apa yang merundungmu, gadis? Kaupun tersedu. Tapi sayang, aku tak bisa menghapus lara yang mengendap dalam tetes demi tetes air mata yang mengaliri pipimu. Aku baru mengenalmu. Yang bisa kulakukan hanya mengawasimu dari jauh, dan mungkin turut menerka-nerka kesedihan yang kau rasakan. 

Detik-detik berlalu. Hari-hari terus berganti sejak aku tinggal di sini, bersamamu. Aku resmi jatuh hati padamu. Cintaku menggelegak dahsyat. Kau adalah pelabuhan cinta pertama dan terakhirku. Aku mencintaimu. Mencintai kesendirianmu. Mencintai kesederhanaanmu. Mencintai perangaimu yang eksentrik. Terlalu cuek. Kau kadang tersenyum-senyum karena kau terlalu asyik dengan bacaanmu, atau terlalu asyik dengan tulisan yang sedang kau kerjakan di hadapan monitor. Dan kadang akupun menyaksikan kau disinggahi kesal yang membuat wajahmu merengut. Boleh kubilang, itulah wajah terjelek yang pernah kulihat seumur hidupku. Tapi aku tak bisa berhenti mencintaimu, gadisku. Cintaku sudah bertambat kuat dalam labuh hatimu. Simpulnya mati. Tak bisa kulepas.

Aku senang bersamamu. Tanpa kau sadari, tiap kali kau tertidur manja, aku selalu ada di dekatmu. Baru pada saat seperti itu aku berani dekat denganmu. Biarkan tangan-tanganku membelai halus kulitmu, mendekapmu. Menciumimu semauku. Dan bahkan saat adrenalinku memuncak, aku menggigitmu. Menghisap butiran darah yang mengalir di tubuhmu. Segar sekali, gadisku. Aku tak pernah merasakan kenikmatan yang sama selain bersamamu. Kau tak bergeming kecuali sesekali saja kau membenarkan posisimu. Rupamu bertambah menawan. Dan aku memulai aksiku lagi. Membelai hangat kulitmu, memelukmu erat, mengecupmu, menggigitmu, lalu bagian yang paling membawaku naik ke nirwana adalah menghisap darahmu. Sampai tiba saatnya aku lelah dan mendarat di sampingmu, sambil mesra memelukmu. Oh Tuhan, terima kasih atas kenikmatan yang kau berikan padaku.

Sepertinya kau mulai mengetahui keberadaanku. Ini yang paling kuharapkan sekaligus kutakutkan selama ini. Aku kau tahu bahwa aku, lelaki kesepian ini tengah memendam cinta yang sangat besar dan tulus untukmu. Dan aku berharap kau menyambutnya. Nyatanya tidak. Kau malah membenciku. Sangat membenciku. Apalagi sejak kau tahu aku sering menyetubuhimu diam-diam saat kau terlelap. Kau begitu murka melihatku. Beberapa kali kau mencoba membunuhku, meski tak pernah berhasil. Tega sekali kau padaku, gadisku? Tidakkah aku cukup membuatmu yakin akan ketulusan cintaku? Harus bagaimana lagi aku meyakinkan bahwa saat ini aku telah merasa satu denganmu? Darahmu sudah mengalir pula dalam tubuhku. Darah itulah yang membuat aku terus bertahan hidup. Agar bisa menyaksikanmu, melindungimu (benarkah?), bernyanyi saat kau sendu, berbagi kehangatan. Ya, agar aku selalu mendampingimu.

Jangan remehkan aku, gadisku! Akupun sama dengan lelaki lain. Mungkin akulah lelaki paling tepat yang saat ini tengah kau dambakan. Kau bisa berbagi beban untukku jika kau mau. Mungkin aku bisa menghiburmu. Mungkin aku bisa membantumu menyelesaikan masalah-masalah yang bergelayut dalam hidupmu. Ya, kita bisa lakukan itu. Aku hanya butuh balasan cinta darimu. Dan aku hanya butuh darahmu beberapa tetes tiap hari.
Tapi sepertinya kau tidak terima perbuatanku selama ini. Aku bersedia bertanggung jawab dan aku yakin kau akan sangat menolak. Kau bahkan jijik dan risih dengan kehadiranku. Dan kau selalu berusaha membunuhku. Pernah kau suatu kali meracuniku dan tidak berhasil. Begitu bencikah kau padaku? Gadisku, aku hanya membutuhkan cinta dan darahmu. Hanya itu.

Kini kau terlihat puas. Kau tertawa menang. Kita impas. Darahmu yang ada dalam tubuhku kini berpendar pada tangan halusmu. Tubuhku remuk berbuku-buku. Ya, akhirnya kau menang, jika itu kemenangan bagimu. Aku pun akhirnya berhasil kau bunuh. Padahal aku tidak pernah meminta banyak, kecuali cinta dan darahmu.[]

0 comments:

Post a Comment