Siang ini sama dengan siang-siang kemarin. Berjalan di atasnya seakan berjalan di atas jembatan yang menghubungkan dua bukit yang rimbun hijau. Menakjubkan dan penuh pengharapan. Bukit itu punya nama: pagi dan senja. Sayangnya matahari kali ini sedang tidak berpihak baik dengan mereka. Mungkin matahari lelah, hendak rehat barang beberapa saat dilindungi sebuah gubuk pekat bernama mendung. Namun justru gubuk itulah yang membuat kami, para mahkluk kecil yang begitu gagah berpijak di muka bumi, kedinginan. Bersama dingin itu kemalasan turut serta. Kemalasan yang juga tak luput tersenyum, menyapa, menyalami, dan mengajakku berbincang. Cukup lama.
Sekali waktu ia membisikiku sesuatu. “Aku ada, namun tak hadir untuk diakui dan jadi perbincangan menarik. Aku hanya sesuatu yang sangat biasa. Bukan artis. Bukan selebritis. Jika suatu saat orang lain bertanya mengapa kau tidak melakukan banyak hal, maka jangan sekalipun menyebut namaku. Tapi katakanlah bahwa kawan yang menyertaiku, dingin, telah membuatmu seperti ulat yang hendak menjadi kupu-kupu. Kau mengerti maksudku?”
Saat itu aku mengangguk perlahan. Sedikit ragu. Lalu kutanyakan padanya, “Lantas apa maksudmu dengan ‘ulat yang hendak menjadi kupu-kupu’ itu?”
“Kau bodoh sekali. Seekor ulat yang menjadi kepompong punya dua kemungkinan. Suatu saat ia mungkin bebas dan melanjutkan hidupnya menjadi kupu-kupu bersayap indah. Namun ia juga punya kemungkinan untuk terjebak, lalu membusuk dan mati. Tak ada lagi riwayat....”
Air mukaku tak berubah banyak.
Sepertinya ia tahu aku sangat kesulitan mencerna kata-katanya. Lalu ia melanjutkan, “Sebab itulah kau harus bisa bertahan. Jadilah kupu-kupu itu. Jadilah mahkluk yang tak hanya hidup untuk menunggu mati. Dengan begitu, aku pasti akan kembali menyambangimu. Aku berjanji.”
Setelah itu aku tersenyum. Padanya. Pada dingin. Pada mendung. Pada matahari. Pada pagi. Pada senja. Pada kertas-kertas yang di dinding kamar. Pada potret bapak dan ibuku. Pada diriku sendiri.
Mungkin dengannyalah sebuah tujuan serta ikhtiar, meskipun tak besar, punya arti. Dan mungkin dengan cara inilah ia, sebagaimana ketekunan, diberi tempat yang semestinya dalam hidup, tanpa dinafikkan sedikitpun.
Sekali waktu ia membisikiku sesuatu. “Aku ada, namun tak hadir untuk diakui dan jadi perbincangan menarik. Aku hanya sesuatu yang sangat biasa. Bukan artis. Bukan selebritis. Jika suatu saat orang lain bertanya mengapa kau tidak melakukan banyak hal, maka jangan sekalipun menyebut namaku. Tapi katakanlah bahwa kawan yang menyertaiku, dingin, telah membuatmu seperti ulat yang hendak menjadi kupu-kupu. Kau mengerti maksudku?”
Saat itu aku mengangguk perlahan. Sedikit ragu. Lalu kutanyakan padanya, “Lantas apa maksudmu dengan ‘ulat yang hendak menjadi kupu-kupu’ itu?”
“Kau bodoh sekali. Seekor ulat yang menjadi kepompong punya dua kemungkinan. Suatu saat ia mungkin bebas dan melanjutkan hidupnya menjadi kupu-kupu bersayap indah. Namun ia juga punya kemungkinan untuk terjebak, lalu membusuk dan mati. Tak ada lagi riwayat....”
Air mukaku tak berubah banyak.
Sepertinya ia tahu aku sangat kesulitan mencerna kata-katanya. Lalu ia melanjutkan, “Sebab itulah kau harus bisa bertahan. Jadilah kupu-kupu itu. Jadilah mahkluk yang tak hanya hidup untuk menunggu mati. Dengan begitu, aku pasti akan kembali menyambangimu. Aku berjanji.”
Setelah itu aku tersenyum. Padanya. Pada dingin. Pada mendung. Pada matahari. Pada pagi. Pada senja. Pada kertas-kertas yang di dinding kamar. Pada potret bapak dan ibuku. Pada diriku sendiri.
Mungkin dengannyalah sebuah tujuan serta ikhtiar, meskipun tak besar, punya arti. Dan mungkin dengan cara inilah ia, sebagaimana ketekunan, diberi tempat yang semestinya dalam hidup, tanpa dinafikkan sedikitpun.
(Menepikan sisa-sisa malam pada pagi, dengan secangkir kopi dan setangkup imaji)
GKPN, 3 Maret 2008
GKPN, 3 Maret 2008


4 comments:
walau blum baca isi nya afa...
gw mau komen ajah... weks...
“Sebab itulah kau harus bisa bertahan. Jadilah kupu-kupu itu. Jadilah mahkluk yang tak hanya hidup untuk menunggu mati. Dengan begitu, aku pasti akan kembali menyambangimu. Aku berjanji.”
berbuat sesuatu!
heuheu....
berbuat apa?
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkah?
Aku tak bisa
Untuk tak peduli
Hati tersiksa
Aku bersumpah
Untuk berbuat
Yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan
Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan
(Iwan Fals - 15 Juli 1996)
jadi diri sendiri lebih enak
Post a Comment