...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

untitled

Aku menemukanmu siang ini. Tepat ketika matahari menerabas garang lewat kaca-kaca jendela. Bilur-bilurnya lebih mirip bilyunan bilah belati yang siap menusuk siapa saja. Seperti hendak mewakili seper sekian entah dari neraka yang pekat. Mungkin saja matahari begitu murka kali ini.
Tapi siang ini aku kembali melihatmu. Suaramu kudengar lamat-lamat. Meski kecil, aku tahu benar bahwa kali ini suaramu nyinyir, seakan menyimpan misteri kesedihan yang sublim. Entah kesedihan macam apa yang tengah menimpamu. Hal itu tak begitu aku tahu. Aku hanya tahu bahwa suara seperti itu serupa tangis yang tak hendak kau kucurkan tepat saat setiap orang yang kau temui sedang bermasyuk menekuri diri masing-masing. Aku hanya tahu bahwa suaramu serupa jerit yang tak pernah sudi kau teriakkan. Wajar, katamu pada suatu konon yang entah. Teori purba: setiap orang yang hidup pasti bermasalah. Lalu kau kembali tenggelam dalam riak-riak duka yang kau senandungkan syahdu itu.
Bolehlah aku sedikit bercerita tentangmu. Kau adalah satu di antara sekian orang yang saat ini dengan mudah kutemui. Mungkin mudah diingat, mungkin juga tidak. Mungkin mudah dilupakan, mungkin juga tidak. Kau tak ingin meninggalkan kesan yang terlalu dalam. Datang dan pergi begitu saja. Muncul dan hilang begitu saja. Itu yang kau inginkan, maka selalu kau lakukan.
“Aku sudah telanjur terhempas oleh gegap gelombang. Aku belum mati. Dan aku bisa terdampar dimana saja.”
Kata-katamu itu terlalu indah untuk tak kusimak dan kuingat terus. Kujadikan bekal yang membuatku bertahan mencarimu. Hingga detik ini, aku menemukanmu kembali setelah bumi seolah menelanmu dalam-dalam. Kau memang benar, kau bisa hilang kapanpun dan muncul pada kurun tanpa duga.
Aku kembali menemukanmu, di sini, saat aspal bernafas uap panas yang berbondong-bondong menerbitkan debu. Di saat gemintang tak lagi jadi rambu penunjuk arah. Di saat hiruk pikuk memuncak dan menjadi kesunyiannya sendiri. Di saat papak-papak persegi itu tegak menjulang, berlomba ketinggian dan lupa di sela-selanya ada daki yang mulai mengerak dan perlahan memberontak.
Ah, seperti biasa. Aku selalu cemburu pada kekasihmu. Kau selalu mengajaknya kemanapun angin membawamu pergi. Ia selalu kau dekap hangat.
“Hanya kekasihku yang selalu setia pada saat kepercayaan memfosil, sulit ditemukan jika seluruh tanah tidak digali”, kau berbisik padaku. Ternyata kau benar adanya. Aku menangis pada malam-malam yang ditimpa gerimis. Aku terlalu berharap. Mimpi itu kuterbangkan terlalu tinggi. Mimpi untuk menemukanmu. Berharap untuk setidaknya mengajakmu meminum secangkir kopi sambil berbagi lamunan, berbagi tajam kerikil di telapak kaki, juga berbagi perih akibat sayatan alang-alang.
Kini aku ingin mengerti, perjalananmu adalah perjalanan tiada henti, merenda lara. Sekedar berspekulasi nasib pada kemurungan yang selalu sama. Serupa ikhtiar mengeja hidup, mengeja bintang, mengeja badai, mengeja hujan, mengeja mentari, mengeja pelangi, mengeja burung-burung berarak, mengeja semut-semut berbaris, mengeja pohon-pohon tumbang, mengeja daun-daun gugur, bahkan mengeja sesuatu yang sukar kau ketahui: dirimu sendiri.
Namun, sepertinya perjalanan itu pun harus berhenti sampai di sini saja. Kekasih yang selalu menjadi irama bagi bait-bait murung yang kau nyanyikan itu telah remuk redam di pangkuanmu. Ada darah di sekujur tubuhnya yang menyerpih. Ya, itulah darahmu, darah yang meredup seperti senja yang hendak disapuh gurita gelap bernama malam.
Kau membeku. Kulit tubuhmu mengelupas. Di dalamnya gumpalan daging berasap hangus dan koyak. Lanskap yang kupandangi mendadak hitam. Bus yang sedari tadi kau tumpangi jatuh ke jurang. Meledak, membumbung menuju angkasa. Semua terkabarkan, kecuali kau yang tak pernah terhitung. Pedih. Tapi cukuplah itu sebagai kepastian bahwa aku tak lagi akan mencarimu, dan kau pun akan singgah di suatu padang ilalang, membangun sarang dari angin, lalu mulai mengerti siapakah sesuatu yang selama ini merasuki tubuhmu, merasuki hidupmu. Saat itulah mungkin senyummu yang sederhana kembali terurai. Kau pun masygul. Segala yang ingin kau eja, sejatinya benar-benar bisa kau baca tanpa terbata-bata. Kau akan mulai menulis kembali larik-larik syair demikian indah dan menyenandungkannya dengan suaramu yang redam, bersama kekasihmu.
Kebanyakan orang tak pernah tahu bahwa kamu pernah hidup di dunia ini. Bahkan mereka tak akan pernah tahu bahwa kau telah memperdengarkan nyanyianmu dengan sangat syahdu. Ibarat sunyi yang hilang disekap ruang. Hilang tanpa eksistensi. Di luarnya, kembali pecah suara-suara. Bingar dan selalu sibuk, lalu lupa dan tak pernah ingat. Kau bukan apa-apa. Kau bukan siapa-siapa.
Dan kau tahu? Pada saat itu aku pun akan sangat merindukanmu.
(Jatinangor 18 september 2007 03:25)

2 comments:

April 27, 2008 at 2:30 AM Anonymous said...

Apakah Hadir Selalu Untuk Eksistensi? Apakah Hadir Selalu Untuk Dikenang?
Apakah Sejarah Harus Mencatat Semuanya? Apakah Harus Tak Terlupakan?
Apakah? Dan Apakah?
Aku Tak Tahu!
Yg Aku Tau Hanyalah, Sang Pencipta Tahu Bahwa Kita Ada, Kita Berbuat. Hanya Itu Yg Aku Tahu.
Akhir tanya; Seberapa Pentingkah Pengakuan Manusia Itu??

February 16, 2010 at 1:25 AM Yuni Zai said...

eksistensi atau idealis?

Post a Comment