Usaha kolektif seringkali didahului oleh kebutuhan untuk mencari nama. Mencari pengakuan.
Nampaknya dalam benak kebanyakan orang sekarang, setiap usaha memang memang butuh nama. Wajar. Karena nama adalah identitas. Dan identitas adalah prasyarat bagi sebuah pengakuan. Eksistensi. Cukup berhenti sampai di sana. Setelah itu tak ada lagi. Nama adalah segalanya, lalu usaha menjadi sebentuk lupa.
Oleh karena itu, mungkin wajar jika kita lebih sering menyaksikan kurusetra nama-nama. Akulah “A”. Akulah “B”. Akulah “C”. Usaha bersama sepertinya tinggal mitos yang memang harus tetap dipertahankan agar peradaban tidak hancur. Atau barangkali karena kurusetra nama-namalah peradaban manusia tetap memiliki riwayat.
Jika memang demikian, maka Shakespeare sama sekali keliru. Nama selalu punya makna.
[B205, 19 Maret 2008]


4 comments:
To be, or not to be...that is the question...
Whether 'tis nobler in the mind to suffer. The slings and arrows of outrageous fortune or to take arms against a sea of troubles,
And by opposing end them? To die, to sleep. No more; and by a sleep to say we end... [William Shakespeare]
apalah arti sebuh nama?? ...anjritt pentinglah...eike gak mo dipanggil kambing...whahahah...
..nyak,..adakah dikau memilih menjadi pahlawan yang memiliki 'nama' yang tertulis dengan tinta emas..ataukah dikau memilih tuk menjadi pahlawan yang memiliki 'nama' yang tak seorangpun pernah mngenalnya??...
[iseng ajah..hihihi]
Namaku Alde. Untuk Sekedar Dikenal.
baiklah alde, namaku adieu.
hahahaha... nama itu bisa membuat orang jatuh cinta
Post a Comment