Jam delapan kira-kira, saya duduk di gerbang kampus menikmati semangkuk soto bersama seorang kawan yang juga beruntung :( karena tak pulang dan berkumpul dengan keluarga di rumah. Sambil menghayati sesendok demi sesendok soto, ingatan saya mencari muara: rumah, ibu, bapak, dan adik-adik saya.
Ah sudah. Saya tak hendak mencari kesedihan.
Kembali saya nikmati sisa-sisa kuah di mangkuk yang saya pegang. Kali ini makin lahap.
Dec 8, 2008
0
yang tetap pilu di sisa-sisa senja
Seorang perempuan, usianya senja, menangis. Batinnya perih. Dan sepertinya tangis tak pernah cukup untuk membahas dan menyelesaikan luka yang ia alami berpuluh-puluh tahun silam. Di sela-sela suaranya yang patah, ia mencoba memberi tahu sesuatu. Gerak-gerik tubuhnya yang polos (seperti Keisya, keponakan saya, yang kalo bercerita susunan kalimatnya sangat sulit dimengerti, tapi untungnya tubuhnya pun berbicara. Setidaknya dahi saya tidak terlalu mengkerut untuk mengira-ngira apa yang ingin dia ceritakan), membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Laki-laki dan perempuan. Kaum muda. Ya, kami. Kami yang mengikuti pemutaran film dokumenter tentang Jugun Ianfu beberapa waktu lalu. Dan saya yakin, siapa yang tidak geli pada saat seorang ibu tua –maaf- meremas-remas payudaranya sendiri di hadapan kamera. Ia memperagakan bagaimana para tentara Jepang menjajah keperempuanannya. Miris. Dan buru-buru saya tertunduk, mencoba menghindari tontonan.Begitulah perempuan di negeri ini punya sejarah yang lain lagi. Cerita kusam yang selalu suram. Cerita yang tidak pernah saya ketahui jika saja saya tidak bertemu dengan seorang kawan yang sangat berminat dengan cerita-cerita perang. Karena sejauh yang saya tahu, selama saya belajar di bangku sekolah, guru-guru sejarah saya tak pernah sedikitpun memberi tahu bagaimana cerita Jugun Ianfu. Jangankan cerita, namanya pun, sejauh yang saya sadari, tidak pernah tersebut (salah satu guru sejarah saya lebih senang menceritakan rambutnya yang memutih, dan yang satu lagi lebih senang menghisap nikotin dari batangan rokok yang dikulum di mulutnya yang sangat hitam).
Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada perempuan penghibur yang terlibat dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang. Indonesia, sebagai salah satu negara jajahan Jepang, tentunya menjadi salah satu lahan subur untuk praktek Jugun Ianfu (Japanese sex slaves). Dengan paksaan maupun diiming-imingi sekolah ke luar negeri maupun dijadikan pemain sandiwara, para perempuan waktu itu direkrut. Mereka dijebloskan ke dalam rumah bordil yang konon sengaja didirikan pemerintah Jepang untuk meningkatkan kinerja militernya (pemuasan kebutuhan seksual para tentara dan misi menyebarkan penyakit kelamin di daerah musuh).
Menurut para Jugun Ianfu yang berhasil bertahan hidup hingga pasca kemerdekaan, rumah bordil Jepang merupakan tempat yang mengerikan. Perempuan-perempuan itu dibagi menjadi tiga atau empat kategori, tergantung lamanya pelayanan. Yang paling baru (yang lebih tidak mungkin terkena penyakit kelamin) ditempatkan di kategori tertinggi. Namun, dengan berjalannya waktu, perempuan-perempuan baru tersebut akan diturunkan kategorinya karena kemungkinan terkena penyakit kelamin lebih tinggi. Ketika mereka dianggap terlalu berpenyakit untuk digunakan lebih lanjut, mereka diabaikan. Banyak perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu melaporkan uterus mereka membusuk dari penyakit yang diperoleh oleh ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun. Dan ketika perang berakhir dan posisi militer Jepang terancam, perempuan-perempuan itu ditinggalkan dan tidak dipedulikan lagi nasibnya.
Riwayat tragis, lebih mencekam dan membekas. Seorang perempuan tua asal Cimahi yang ada dalam film dokumenter yang dipertontonkan waktu itu (saya lupa namanya), memperlihatkan bekas luka di balik kebaya lusuh yang ia kenakan akibat pengangkatan rahimnya yang rusak. Ia membatin. Selama ia bebas dari cengkeraman Jepang, ia selalu hidup sendiri. Bebannya berlipat. Ia tidak mungkin kembali dan mencari keluarga maupun sanak saudaranya. Karena menjadi seorang Jugun Ianfu berarti menjadi orang yang harus siap untuk dicemooh dan diludahi masyarakat waktu itu. Dan lagi, tidak ada lelaki yang mau menerima perempuan kotor yang pernah dijamah semena-mena oleh orang lain, lanjutnya. Dan hanya di sebuah bangunan tua yang juga pernah menjadi rumah bordil itulah perempuan itu bertahan sampai akhirnya ia meninggal beberapa tahun lalu.
Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika saya hidup di masa penjajahan Jepang waktu itu (1942-1945). Melihat kesaksian para Jugun Ianfu di film yang saya tonton pun sudah membuat perasaan saya meledak-ledak: benci, sedih, takut, marah, dan menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya para orang tua yang memiliki anak-anak perempuan kala itu, ketika mereka mendengar kaki dengan sepatu militer berderak-derak di halaman. Saya juga tidak bisa membayangkan berapa banyak doa dipanjatkan ketika pintu-pintu rumah mereka mulai digedor. Hfffhh… Dalam benak saya, saat itu yang hadir benar-benar suasana yang sangat menegangkan.
Sejarah Jugun Ianfu adalah sejarah tentang sebuah kepiluan mendalam bagi kita, perempuan. Sejarah yang mungkin hanya bisa dilihat jika mata kita sudah sangat terbelalak untuk membaca dunia, membaca kehidupan. Sejarah yang, dalam pengalaman saya, serupa mitos. Nyata nyata tidak, tidak tidak nyata. Sejarah yang hanya berlabuh dari sisa-sisa senja para korbannya. Setelah itu, entahlah. Mungkin benar-benar akan jadi mitos. Akan jadi dongeng yang sangat tidak cocok untuk jadi lulabi, tidak pernah lumrah jadi pengantar tidur, jika tidak ingin mengalami mimpi buruk. Semoga tidak.
(dari celah-celah lupa dan kesadaran yang hampir luput)
ini siapa? tuuuuuut....

Sebuah siang, saat rehat setelah ngepel kosan…
+62878******** calling…
“Halo”
“Selamat siang. Dengan Mba Adieu?”
“Ya.”
“Ini dari PT.Astra. Kami mau memberitahukan bahwa saat ini anda sedang ditipu oleh teman anda.”
“Haha… Sudah saya kira sebelumnya. Ini siapa?”
“Ah mosok toh ngga kenal siapa aku.”
“Iya, bener. Saya ga tahu. Ini siapa?”
“Tebak dong!”
“Ga tau. Saya ga mau maen tebak-tebakan.”
“Wah… Sama temen sendiri kok lupa?”
“Beneran. Soal ini saya memang paling payah. Apalagi yang kamu pakai sekarang nomer yang tidak masuk di phonebook saya.”
...
Seperti bermain petak umpet. Saya tetap tidak bisa menebak suara siapa yang sedang berbicara di seberang sana. Dia juga tetap dengan aksi menyembunyikan identitasnya, sambil sesekali bersenandung.
Saya sempat menerka beberapa nama, tapi semuanya tidak ada yang dia akui. Karena sedikit kesal, saya ambil sisa kripik yang saya beli kemarin dan memakannya sambil tetap menelepon. “Krash..krash…grauk…grauk…”. Dan ternyata… suara kripik yang bising itu sepertinya telah membuat kawan saya yang anonim itu marah.
Begini detik-detik terakhir perbincangan kami:
“Aku ga enak ngegangguin orang makan. Aku tutup aja ya?”
“Ya terserah kamu. Tapi saya masih ga bisa nebak nih. Saya udah nanya lho ya. Krash…krash…grauk…grauk..”
“Ya… Tapi masa ga tahu sih? Ya udahlah mending selesein aja makannya. Ga sopan aku ngegangguin orang lagi makan. Wong aku lagi makan mau nelepon aja diberhentiin dulu makannya. Tuuuuuuuut…...”
Dan suaranya menghilang. Belum sempat saya minta maaf, telepon terputus begitu saja.
Saya hanya tersenyum dan masih tetap tidak mengerti. Sedikit tidak enak hati. Tapi ya sudahlah. Untuk apa juga saya memaksa orang yang memang sedang ingin mencari hiburan dengan tetap menyembunyikan identitasnya. Sama halnya dengan saya yang tetap berhak makan kripik singkong karena lelah dengan tebak-tebakan.
Tetapi, saya sadar. Manusia tidak pernah sama. Dalam komunikasi, menurut salah seorang teman (dia juga mengutip Jalaludin Rahmat), selalu ada noise. Dan kadang kita mesti mau belajar untuk mengerti banyak hal. Kita harus siap dengan kejutan-kejutan, yang semula tak pernah kita duga.
Maafkan saya, kawan. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya.
Dec 6, 2008
0
kukut, kukut,.....
Saya kehilangan satu teman bicara. Kukut. Komputer butut saya terkasih. Meski ada Mohok, posisi Kukut tidak pernah bisa digantikan. Akhir-akhir ini saya sudah terlalu bingung terhadapnya. Apa lagi yang harus saya lakukan. Tiap kali dinyalakan, dia suka tiba-tiba pingsan.
Kemarin saya minta Pak War untuk menyembuhkannya. Kukut diboyong Pak War ke rumahnya. Tapi tak lama. Malam tadi, Pak War mengantarkannya kembali ke kamar saya. Saya kira Kukut akan sembuh. Saya sudah berteriak-teriak. Akhirnya, Kut, kamu sembuh juga dan malam ini, saya akan menceritakan banyak hal.
Malangnya, baru beberapa saat saya tinggal untuk makan di bawah, Kukut pingsan lagi. Aduh Kukut...kamu tuh ngambek ya sama saya?
Pak War bilang Kukut harus punya pasangan hidup biar dia bisa tetap bertahan. Stabilizer. Harddisc-nya si Kukut sudah payah, riskan karena selama ini ia selalu dipaksa bertahan dengan arus listrik yang tidak stabil. "Coba deh Adieu beli stabilizer, nanti saya ke sana lagi", begitu pesan Pak War di tengah-tengah kecemasan saya tadi malam.
Hfffhhh... Itu artinya, budget bulanan saya bulan ini lebih besar dari budget saya biasanya. Tapi demi Kukut, demi cerita dan kenangan yang tak boleh luput, saya akan lakukan apa saja.
Inget ya, Kut. Kamu harus sembuh demi saya. Saya sayang kamu, Kut. Saya butuh kamu. Sembuhlah. Saya mohon!!!:(
Kemarin saya minta Pak War untuk menyembuhkannya. Kukut diboyong Pak War ke rumahnya. Tapi tak lama. Malam tadi, Pak War mengantarkannya kembali ke kamar saya. Saya kira Kukut akan sembuh. Saya sudah berteriak-teriak. Akhirnya, Kut, kamu sembuh juga dan malam ini, saya akan menceritakan banyak hal.
Malangnya, baru beberapa saat saya tinggal untuk makan di bawah, Kukut pingsan lagi. Aduh Kukut...kamu tuh ngambek ya sama saya?
Pak War bilang Kukut harus punya pasangan hidup biar dia bisa tetap bertahan. Stabilizer. Harddisc-nya si Kukut sudah payah, riskan karena selama ini ia selalu dipaksa bertahan dengan arus listrik yang tidak stabil. "Coba deh Adieu beli stabilizer, nanti saya ke sana lagi", begitu pesan Pak War di tengah-tengah kecemasan saya tadi malam.
Hfffhhh... Itu artinya, budget bulanan saya bulan ini lebih besar dari budget saya biasanya. Tapi demi Kukut, demi cerita dan kenangan yang tak boleh luput, saya akan lakukan apa saja.
Inget ya, Kut. Kamu harus sembuh demi saya. Saya sayang kamu, Kut. Saya butuh kamu. Sembuhlah. Saya mohon!!!:(

