...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

tetradio schediou

kami pernah bolak-balik mengitari satu deretan rak stationery di sebuah toko buku diskon di jalan supratman bandung. buat saya, tempat itu adalah salah satu tempat mampir yang menyenangkan di bandung. hommy. dulu ada tobucil di kgu, sekarang sudah hijrah dan saya tak kunjung sempat melongok ke pojokan barunya.

saya sempat bilang ke nenek waktu itu untuk tidak usah jadi membeli buku catatan apapun, setelah nenek bolak-balik menanyakan mana yang lebih 'nenek' dari buku-buku catatan yang sedari tadi dipilihnya. lagi-lagi saya mengeluarkan jurus efisiensi dan ekonomi. saya bilang, dengan harga yang tertera di bandrol, nenek bisa membuat catatan sendiri dari kertas-kertas bekas, bisa membuat cover sekehendak hati, setebal apapun dengan ring besi yang apik. nenek menuruti saya waktu itu. tumben.

sebetulnya saya sedikit tertarik dengan skecth book mungil (ukuran a5) yang terpampang di rak bawah. kebanyakan buku catatan lain bergaris isinya. serasa tidak bebas mencoret-coret. saya tidak suka, padahal covernya so much mesmerize (japanese style). apa boleh buat. lagian saya merasa saya belum terlalu butuh. beberapa lembar isi binder saya masih nganggur.

namun, tanpa sepengetahuan nenek, suatu sore beberapa pekan berikutnya, saya kembali ke toko itu. dan jreeeeeeng... sketch book itu saya gondol setelah mengitari seluruh penjuru toko dengan penuh gaya sambil menyimak james blunt, setelah menukarnya dengan tiga lembar lima ribuan. wuff... i got alive. do you know why i suddenly felt important to buy the book? it is because i need a place and a space to rearrange anything scattered in my life. i need something different. it's so called the way to refresh such a gloomy mind.

sedikit coretan dan tempelan saya kira akan membuat saya benar-benar memfungsikan catatan saya yang baru, membuat saya percaya dan betah untuk bercerita banyak tentang rencana-rencana, tentang mimpi-mimpi, tentang bilyunan pengingat, tentang kelumit perasaan, serta muntahan pengalaman dalam hidup saya. and so far, i feel so much comfort to be with my new notes (saya belum menyematkan nama untuk barang saya yang satu itu, ada ide?).



saya malam-malam, di antara semangat yang meletup-letup untuk menunaikan harapan orang tua serta kesedihan mendalam atas raibnya egi (sandal gunung pengganti bugi terkasih)

4 comments:

December 14, 2010 at 3:32 AM divansemesta said...

eta leungit deui leungit deui. Kudu dirukyah dikau mah, dieu.

December 14, 2010 at 3:55 AM aemtemite said...

Coba cek anak2 muda di sekitar kosan. Sy ge harita leungit sendal gunung. Apek teh dipake ku barudak ngora nu sok nongkrong di warung depan. Selamat memerikasa kaki-kaki perjuangan mereka :)

December 14, 2010 at 6:57 AM adieu said...

da si bugi mah teu leungit. cuma pernah dipipisin kucing aja, trus jadi heuras, trus pegat, trus disol, trus pegat, trus keburu gajian, trus kaburu kesirep buat masuk ke counternya eiger, trus we beli, trus saya pake-pake, trus saya simpen di luar kosan kawan2 saya (padahal sebelumnya udah mau saya masukin tuh, udah punya firasat karena si egi itu emang keren banget --pasti banyak yang minat), trus we leungit. saya teu ceurik sih, ngan ngenes jeung dongkol wungkul.

December 15, 2010 at 3:58 AM aemtemite said...

Hahaha, persis seperti K2 sy kejadiannya.
Sabarlah...

Post a Comment