Well, dalam menjalani hidup yang penuh dengan permasalahan, setiap orang pasti melakukan salah satu dari dua jalan yang dalam dunia konseling disebut fight (melawan/ menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi) dan flight (lari dari masalah). Tentu merupakan sesuatu yg ideal jika kita mampu untuk menyelesaikan setiap permasalahan yg kita hadapi (fight) ketimbang untuk lari (flight). Tapi itu berlaku di orang lain---saya tidak mau mengakui keidealan itu! :D Pasalnya, lari dari masalah (flight) juga merupakan usaha kita dalam menyelesaikan permasalahan yg ada (dalam bentuk eksesnya, bukan dalam bentuk core-nya). Sebab, yang namanya masalah itu ada yg layak kita sebut sebagai masalah sampai harus diselesaikan; dan ada pula yg tidak layak kita sebut sebagai masalah dikarenakan kondisi subjek si pemuncul masalah yg dihadapi. Yah, seperti halnya ketika Imam Syafi'i mencanangkan untuk diam karena kebodohan lawan debatnya.
Begitulah kalau sy sedang ingin membulatuk, Kawan! Fight maupun flight adalah perihal yang subtil! Maka, runtuhlah konsepsi konseling yg menuntut keidealan dalam penyelesaian masalah dititikberatkan pada kategori 'fight'! Sebab 'flight' sesungguhnya adalah seperti menendang ketika kita berkelahi ('fight')! Maka pula, loba gayalah para mahasiswa konseling jurusan PPB ketika menenteng buku2 psikologi bimbingan dengan bermacam derivatnya berjalan di depan mahasiswa PLB! Maka pula lagi, alaylah mahasiswa PLB yg ingin meruntuhkan konsepsi konseling tentang 'fight' dan 'flight'!
Begitulah objurgasi sy saat ngabulatuk seperti sekarang ini, Kawan! :D
yang terbayang adalah bekas perjalanan, tanda-tanda yang maknanya serba mungkin, dan barang kali sesuatu yang besok bisa terhapus oleh perjalanan baru. sebelumnya, mari susah payah membaca. membaca jejak-jejak, membaca angin, membaca runcing kerikil, membaca deras keringat, membaca segala.
3 comments:
Keren, Dieu! :)
Menyenangkan jika bisa melarikan diri ketika ada persoalan yang bikin stress. Sendiri, menikmati sepi, kecuali terjangan ombak.
Well, dalam menjalani hidup yang penuh dengan permasalahan, setiap orang pasti melakukan salah satu dari dua jalan yang dalam dunia konseling disebut fight (melawan/ menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi) dan flight (lari dari masalah). Tentu merupakan sesuatu yg ideal jika kita mampu untuk menyelesaikan setiap permasalahan yg kita hadapi (fight) ketimbang untuk lari (flight). Tapi itu berlaku di orang lain---saya tidak mau mengakui keidealan itu! :D
Pasalnya, lari dari masalah (flight) juga merupakan usaha kita dalam menyelesaikan permasalahan yg ada (dalam bentuk eksesnya, bukan dalam bentuk core-nya). Sebab, yang namanya masalah itu ada yg layak kita sebut sebagai masalah sampai harus diselesaikan; dan ada pula yg tidak layak kita sebut sebagai masalah dikarenakan kondisi subjek si pemuncul masalah yg dihadapi. Yah, seperti halnya ketika Imam Syafi'i mencanangkan untuk diam karena kebodohan lawan debatnya.
Begitulah kalau sy sedang ingin membulatuk, Kawan!
Fight maupun flight adalah perihal yang subtil!
Maka, runtuhlah konsepsi konseling yg menuntut keidealan dalam penyelesaian masalah dititikberatkan pada kategori 'fight'! Sebab 'flight' sesungguhnya adalah seperti menendang ketika kita berkelahi ('fight')!
Maka pula, loba gayalah para mahasiswa konseling jurusan PPB ketika menenteng buku2 psikologi bimbingan dengan bermacam derivatnya berjalan di depan mahasiswa PLB!
Maka pula lagi, alaylah mahasiswa PLB yg ingin meruntuhkan konsepsi konseling tentang 'fight' dan 'flight'!
Begitulah objurgasi sy saat ngabulatuk seperti sekarang ini, Kawan! :D
Post a Comment