Akhirnya, kepingan rupiah yang sudah saya sisihkan untuk membeli penyimpan data portable itu harus mampir ke tangan kasir Gramedia.
Kala itu saya butuh waktu hampir 1 jam untuk memutuskan apakah tumpukan karya Pram itu yang berdiskon 20% itu akan menyita rasa iba saya untuk membiarkannya atau saya memang tetap pada pendirian saya semula (selamatkan kepingan rupiah dari Gramedia).
Sampai akhirnya detik-detik penuh godaan itu datang. Saya sengaja merogoh tas dan mengambil telepon selular karena saya butuh menghitung. Memang sulit untuk orang seperti saya. Ingin membeli buku saja, harus berpikir banyak, menghitung, dan memperkirakan hari esok akan saya lalui seperti apa jika jatah bulanan saya berkurang. Kadang saya merasa iri dengan orang-orang kaya, dimana dompet mereka adalah tempat transit yang paling mudah yang pernah ada bagi uang kertas (yang membuat saya semakin ingin membuang ludah pada kapitalisme) untuk keluar dan masuk.
Saya minta dua tas kresek untuk melapisi Tetralogi Buru yang membuat saya gelisah itu. Tas punggung saya sudah terlalu penuh dengan baju, beberapa buku, serta perbekalan makanan yang Ibu selipkan tanpa saya ketahui. Dalam hati saya bergumam, akhirnya saya berhasil menepis kegelisahan yang satu, dan menyambut kegelisahan yang lain. Tapi, di sudut lain, sepertinya bayangan saya yang hitam bersorak: "Akhirnya, kamu pun bisa memiliki buku-buku itu, bukan dari pemberian tangan orang lain, sebagaimana yang pernah kamu tunggu beberapa bulan lalu."
Mudah-mudahan saya tidak merasa menang karena saya memiliki buku ini pada bulan yang 'memenangkan' ini. Karena saya memang benar-benar tidak merasakan kemenangan yang membuat senyum banyak orang tersimpul dan jutaan tangan saling meraih dan menyalami ini. Ya, karena saya (dan mungkin kamu) memang belum 'menang' dan perjuangan masih panjang terbentang.
Kala itu saya butuh waktu hampir 1 jam untuk memutuskan apakah tumpukan karya Pram itu yang berdiskon 20% itu akan menyita rasa iba saya untuk membiarkannya atau saya memang tetap pada pendirian saya semula (selamatkan kepingan rupiah dari Gramedia).
Sampai akhirnya detik-detik penuh godaan itu datang. Saya sengaja merogoh tas dan mengambil telepon selular karena saya butuh menghitung. Memang sulit untuk orang seperti saya. Ingin membeli buku saja, harus berpikir banyak, menghitung, dan memperkirakan hari esok akan saya lalui seperti apa jika jatah bulanan saya berkurang. Kadang saya merasa iri dengan orang-orang kaya, dimana dompet mereka adalah tempat transit yang paling mudah yang pernah ada bagi uang kertas (yang membuat saya semakin ingin membuang ludah pada kapitalisme) untuk keluar dan masuk.
Saya minta dua tas kresek untuk melapisi Tetralogi Buru yang membuat saya gelisah itu. Tas punggung saya sudah terlalu penuh dengan baju, beberapa buku, serta perbekalan makanan yang Ibu selipkan tanpa saya ketahui. Dalam hati saya bergumam, akhirnya saya berhasil menepis kegelisahan yang satu, dan menyambut kegelisahan yang lain. Tapi, di sudut lain, sepertinya bayangan saya yang hitam bersorak: "Akhirnya, kamu pun bisa memiliki buku-buku itu, bukan dari pemberian tangan orang lain, sebagaimana yang pernah kamu tunggu beberapa bulan lalu."Mudah-mudahan saya tidak merasa menang karena saya memiliki buku ini pada bulan yang 'memenangkan' ini. Karena saya memang benar-benar tidak merasakan kemenangan yang membuat senyum banyak orang tersimpul dan jutaan tangan saling meraih dan menyalami ini. Ya, karena saya (dan mungkin kamu) memang belum 'menang' dan perjuangan masih panjang terbentang.


1 comments:
hahahaha...
pengorbanan yang...hmmm...ntahlah...
spasirelatif.blogspot.com
Post a Comment