...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

saksi melankolia yang selalu memalukan untuk kembali dibaca

Lucu rasanya membaca kembali buku hijau 'kusut masai' yang cukup lama terhimpit di bawah lipatan baju itu. Terbersit keinginan untuk membuangnya saja. Tapi saya takut ada sukarelawan yang menemukan dan membacanya. Resiko membuang sama saja dengan resiko membiarkannya.

Atau saya bakar? Tapi sayang. Butuh usaha yang sangat besar untuk menulis, meskipun hanya buku harian, yang nilai dan pengaksesannya sangat terbatas, cukup pribadi, kadang 'garing', dan memalukan.

Seperti catatan terakhir saya tulis tanggal 9 Maret tahun ini. Catatan yang penuh dengan melankolia dan nuansa patah hati. Bisa juga saya patah hati saat itu. Padahal saya tidak pernah berpikir untuk terlalu menghayati perasaan saya pada seseorang. Namun enam bulan lalu itu, saya kalah banyak. Saya menyerah. Dan.... patah.

Saya ingat jelas, (dan ini sangat memalukan untuk diceritakan) saat mencatat melankolia itu, saya pun menyerah pada air mata. Air mata yang sarat dengan pengharapan "Tolong jangan pergi dan maafkan saya". Air mata yang penuh dengan penyesalan karena saya terlalu egois dengan "cara saya menghayati keberadaannya". Hufffffhhh.... Selebihnya maaf SENSOR. :)

Begitulah. Saya kembali berpikir rasanya tidak adil untuk melenyapkan buku itu begitu saja jika saya ingat betapa besar kerja keras (emosi dan pikiran) yang harus saya curahkan untuk satu halaman yang membuat saya tertawa geli saat kembali membacanya sekarang.

Maka saya akan biarkan saja. Melanjutkan halaman-halaman kosong setelahnya untuk mencatat segala hal yang kemungkinan besar juga akan membutuhkan kerja emosi dan pikiran, dan layak ditertawakan ketika saya baca lagi suatu hari nanti.

2 comments:

September 15, 2009 at 3:22 AM Alga said...

Adieu.... hati-hati diary dicuri. entar dijadikan novel pula :)

(footnote: oh, eren suka juga ama diary. akhirnya.. dan ternyata)

October 15, 2009 at 6:26 PM puteri biru said...

dear diary...
kuingin cerita...
kepadamu...
tentangnya yang dulu... (ratu)
peace ah! *angkat sendal, kabuuuuuuuuuuuurrrrrrr*

Post a Comment