...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

nouveles orientales

Saya tidak tertarik sama sekali dengan Twilight, novel yang sempat mengguncang peradaban sejumlah kawan, atau mungkin kamu. Saya hampir muak dengan riuhnya. Di kampus, di kosan, di perpustakaan, dimana pun seolah dunia hendak mengutuk saya dengan mempersempit ruang dan memperpendek gelombang suara. Sehingga tersisalah, saya dan orang-orang yang gandrung dengan tokoh Edward Cullen, sang vampir vegetarian yang tampan itu.

Sungguh. Karya Stephenie Meyer itu tidak sama sekali membuat saya 'menanjak-menurun' ketika membacanya. Bisa jadi 'romantisisme' yang coba dihadirkan perempuan Amerika yang lahir 35 tahun lalu itu tidak terlalu canggih membakar melankolia saya kala itu. Bisa jadi karena Twilight adalah novel yang prospek marketnya begitu tinggi sehingga tidak menarik perhatian saya sedikit pun. Bisa jadi, karena saya memang sedang ingin sentimen pada Twilight, Meyer, Cullen, atau mungkin para penikmatnya.

Tapi, rasa-rasanya saya tidak perlu dan tidak akan pernah merasa perlu untuk sentimen pada buku yang saat ini sedang menyita rasa ngantuk yang kerap kali datang. Buku kecil, tipis, lama, sederhana, dan 'romantis' (setidaknya bagi saya).

Nouveles Orientales (Oriental Tales/Cerita-Cerita Dari Timur). Buku yang ditulis oleh almarhum Marguerite Yourcena ini benar-benar memanjakan saya sebagai pembaca yang payah.

Meskipun bukunya terbit lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu, saya tidak merasa bahwa karya penulis Perancis ini sudah tidak lagi laik baca. Justru saya menuliskannya di sini agar kawan-kawan, siapapun kalian, menjadikannya referensi bacaan sastra ringan dan tidak membosankan, fascinating and everlasting (bagi saya Nouveles Orientales sejajar dengan tetralogi Buru, Renggeng Dukuh Paruk, dan beberapa buku Seno Gumira Ajidharma).

Yourcena sepertinya tahu betul bagaimana membuat tulisan-tulisan yang ia ambil dari cerita dan dongeng-dongeng Timur mengabadi dan tak pernah lekang untuk dibaca oleh manusia yang hidup jauh setelahnya. Cukup saya meyakinkan bahwa membaca buku ini, saya seperti bertualang. Sebagaimana Karl May mengajak pembaca Winnetou, maka seperti itulah yang saya rasakan dari Marguerite Yourcenar.

"... inilah tempat orang-orang mati yang tersiksa oleh nafsu sia-sia, menangisi kesalahan yang tidak mereka lakukan. Para dewa keheranan mendapati daya khayal tanpa batas dari bangsa manusia tentang Kebatilan, serta kemampuan dan kecemasan yang tak terbilang tentang kesenangan dan dosa..." (Kali Dengan Kepala Terpenggal)

Selamat mencari, selamat membaca!

1 comments:

October 15, 2009 at 6:09 PM puteri biru said...

baru baca postingan ini langsung dikasih pinjem bukunya, hihihihi...
danke schon nya neng ^_^

Post a Comment