...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

ode untuk masa kecil

Membongkar ingatan di laci-laci karena sudah sangat nyaman dalam stagnasi
--------------------------------------------------------------------------
Ode Untuk Masa Kecil

Aku seorang kapiten, mempunyai pedang panjang.
Kalau berjalan prok-prok-prok.
Aku seorang kapiten.


Kau pasti menertawakanku, Matahari. Jangankan kau. Saat ini pun aku tertawa dan sedikit malu. Waktu itu kau melihatku juga, bukan? Lagu itu begitu kuhayati. Kau pun tahu bukan? Aku memakai celana pendek merah yang tak terlihat karena baju kaosku lebih panjang dan kebesaran. Sebuah senapan yang terbuat dari batang daun pisang sengaja kucangklongkan di pundak. Semua teman-temanku yang kebanyakan anak laki-laki juga melakukan hal yang sama. Aku, Aris, Abun, Hendar, Indri, Atik, Yudi, dan Deni, bernyanyilah kami. Kaki kami serentak berjalan di tempat. Dan mataku terpejam. Yang terbayang aku ada di antara berkompi-kompi pasukan dan siap bertempur di medan perang. Sebetulnya aku mendengarmu, Matahari. Kau menertawakanku karena suaraku paling lantang di antara kawan-kawanku. Ya, akulah anak perempuan yang ingin jadi kapiten.

Kupu-kupu yang lucu, kemana engkau terbang?
Hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang
Berayun-ayun pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu merasa lelah?


Lalu suatu sore, di kebon belakang rumah, aku menghampiri teman-temanku. Kali ini, Aris, Abun juga Hendar tidak datang. Yudi bilang mereka diminta mencari rumput untuk kambing peliharaan kakeknya. Oh iya, Matahari, kau sudah tahu bukan mereka bertiga bersaudara? Hanya tersisa kami berempat. Tapi tak mengurangi keceriaan kami. Karena di tangan kami masing-masing, sebuah plastik yang ujung terbukanya dirangkai dengan lidi. Kau benar, Matahari. Kami mau menangkap kupu-kupu untuk kami lepas kembali, sejauh kami berlari. Tenanglah, Matahari. Plastik-pastik ini sudah kami bolongi untuk rongga udara agar suatu saat jika kami berhasil menangkap kupu-kupu, ia masih bisa bernafas dan hidup.
Sayangnya, kebun ini tidak memiliki cukup banyak tanaman berbunga. Namun rasanya, senandung yang lirih kami nyanyikan sambil menyusuri pepohonan membantu kami mengatasi kekecewaan karena serangga bersayap indah itu tak kunjung kelihatan. Kami tetap bernyanyi, tertawa dan membayangkan bahwa di kebun ini banyak sekali kupu-kupu dan saking banyaknya, enggan kami tangkap.

Naik kereta api tuut tuut tuut
Siapa hendak turut? Ke Bandung? Surabaya?
Bolehlah naik dengan percuma.
Ayo kawanku lekas naik, kretaku tak berhenti lama.


Indri pulang, Matahari. Ibunya memanggil. Tapi Aris, Abun dan Hendar datang kali ini, membawa kambing yang mereka gembalakan. Mereka memancangkan kambing itu di pohon cengkih. Kami berbaris. Hendar paling depan karena tubuhnya paling besar. Ia jadi masinis. Aku dan teman-teman lain saling memegang pundak teman yang ada di depan. Setelah Hendar, ada Abun, Aris, Atik, Yudi, Deni, dan aku paling belakang. Pastilah kau bisa menerka mengapa aku disimpan di belakang, Matahari. Ya, karena tubuhku paling pendek dan paling kecil di antara teman-teman lain. Tapi sudahlah, aku tak suka badanku yang kecil jadi bahan pembicaraan. Kamipun mulai melaju. Tangan kami berusaha berpegangan seerat mungkin agar tak terlepas. Atik tertawa terlalu berlebihan saat kepala Hendar mengenai cabang pohon sehingga ikatan kami terlepas. Atik, Yudi, Deni dan aku berhenti. Hanya tiga bersaudara itu yang bisa terus melaju berkeliling. Aku sedikit cemberut. Ceritanya, aku baru pertama kali menaiki kereta api. Sampai Hendar pura-pura berhenti di statsiun terakhir, Atik masih terus tertawa.

Ambilkan bulan, Bu. Ambilkan bulan, Bu.
Yang slalu bersinar di langit.
Di langit bulan benderang, cahyanya sampai ke bintang.
Ambilkan bulan, Bu, untuk menerangi tidurku yang lelap, di malam gelap.


Matahari, aku sangat lelah. Seharian, setelah pulang sekolah, aku bermain di kebun, bersama teman-teman. Sangat menyenangkan, juga melelahkan. Ibu menghampiri tempat tidurku. Perempuan muda itu membawa segelas susu di tangannya. "Minum susu dulu ya, nak!", begitu ujarnya. Aku hanya mengangguk, meraih gelas tersebut dan meminumnya, lalu kembali berbaring. Ibu membenarkan letak selimutku.

"Bu, di luar hujan ngga?", tanyaku.

Ibuku memang perempuan paling lembut sejagad. Ia mendaratkan belaian tangannya di keningku. Ada senyum paling indah kulihat di raut mukanya yang begitu cantik.

"Dieu, takut, Bu. Dieu takut hujan.. Dieu takut petir.. Dieu takut gelap.."

Kali ini, Ibu mengecup keningku. "Tidurlah, nak! Adieu aman deket Ibu...", ia kembali membelai lembut kepalaku. Aku tersenyum padanya dan mencoba memejamkan mata. Lelah.

Matahari, tidakkah kau melihat betapa sempurnanya bahagiaku hari ini? Betapa sempurnanya hidup Adieu kecil hari ini? Oh ya, aku baru ingat kau sedang bermain di seberang sana, bersama dengan Adieu-Adieu yang lain, bersama Aris-Aris yang lain, bersama Yudi-Yudi yang lain, bersama Indri-Indri yang lain. Meski tidak bersamaku, aku yakin, setidaknya kau mendengar suara indah Ibuku bersenandung. Serupa lulabi, mengantarkan tidurku, mengantarkanku bertemu mimpi-mimpi.

***

Enam belas tahun sudah berselang setelah masa-masa itu, Matahari. Rasanya ingin tertawa. Ingin pula menangis. Tak begitu jelas. Hanya ada rindu yang tegas. Adakah kutemui kembali masa-masa itu, Matahari? Kisah-kisah sederhana yang telanjur membeku di relung waktu.

Lalu sekarang, tak ada lagi nyanyian itu. Sepertinya keceriaanku dulu sudah tak berlaku lagi di sini, saat ini. Lenyap. Menguap. Mungkin sudah cukup tergantikan dengan program-program televisi yang begitu sigap mengkerangkakan masa depan. Masa depan yang diseret paksa melalui visualisasi kesuksesan. Sukses yang banal, yang hanya bermakna bila diterjemahkan dengan seberapa lembar rupiah yang didapatkan dalam waktu cepat. Dan saat itulah hadir bahagia. Hadir senyuman. Hadir restu. Hadir masa depan.

Jika demikian, apa arti masa kecil? Mungkin seperti riak-riak sungai yang mengalir. Dan apa yang berharga dari sana? Sekedar menyertai aliran air sungai sebelum akhirnya benar-benar bermuara ke luasnya lautan. Tak begitu penting.

Ataukah mungkin aku yang tak cukup mampu memahaminya, Matahari?[Adieu]

0 comments:

Post a Comment