...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

kuntowijoyo dan sosiologi profetik

Entah kenapa beberapa minggu terakhir saya bertemu dengan manusia-manusia yang mengagungkan sosok Kuntowijoyo. Saya, yang hanya mengetahuinya selintas dari buku-buku yang pernah saya baca (itupun beberapa tahun lalu), tidak bisa menanggapi banyak, kecuali "O ya Kuntowijoyo, memang kenapa?". Karena bagi saya ‘haram’ rasanya menanggapi terlalu banyak hal-hal yang tidak begitu saya tahu.

Seperti de ja vu. Tanpa sengaja saya menyambangi salah satu halaman web, mencari jawab atas rasa penasaran saya pada sosiologi profetik. Ada Kuntowijoyo di sana. Kuntowijoyo bukan sekedar nama yang kebetulan dikenal oleh si Adieu, manusia ringkih itu (haha...memang siapa Adieu?). Bahkan lebih dari itu. Ia adalah founding father dari term yang jadi keyword pencarian saya di Google Search Engine.

Penulis buku Muslim Tanpa Masjid ini tidak hendak memfinalkan paradigma positivistik dalam memandang hidup dan ilmu pengetahuan. Ia punya alternatif. Selain realitas empiris dan rasio, pengetahuan bisa menjadikan wahyu sebagai sumber yang paling layak. Hal ini jelas bertentangan dengan positivisme yang menganggap wahyu adalah mitos, tidak sah jadi landasan bagi pengetahuan.

Sekilas, pandangan sosiologi profetik ini ada di kutub yang sama dengan kepentingan sosiologi kritik yang pertama kali dibidani oleh Max Horkheimer, kemudian disusul oleh laskar Frankfurt lainnya. Hanya saja, perbedaannya terletak pada keyakinan kubu profetik bahwa transendensi menjadi bagian vital dalam membangun peradaban manusia. Nilai-nilai transendental menjadi dasar bagi proses humanisasi dan liberalisasi yang diusungnya.

Meskipun sejauh ini bangunan profetik ini masih agak kabur (sulit didefinisikan), namun tawaran Kuntowijoyo ini menarik untuk dikaji dan jadi topik diskusi. Terutama bagi siapapun yang jenuh dengan kecenderungan ilmu sosial yang hanya menjelaskan dan memahami realitas-oleh karena itu memakluminya. Terutama bagi siapa saja yang berambisi menyeret surga ke bumi. Karena, uniknya, di samping memiliki kemampuan untuk memahami, sosiologi profetik juga punya cita-cita transformatif (liberasi, humanisasi, dan yang terpenting, transendensi).

0 comments:

Post a Comment