and tire yourself out. because it makes life worth living. i have seen that water stagnates when it stands still, yet when it runs it is sweet and pure
[imam asy syafi'iy]
Dec 2, 2009
0
Nov 30, 2009
0
vague
kami, saya dan beberapa kawan, pada suatu pagi, akhirnya terjebak pada pembahasan serius tentang sejarah. terlalu pagi untuk pembahasan seserius itu. ayam pun masih enggan bersenandung. tapi saya merasa beruntung karena ada saatnya saya merasa butuh kawan-kawan serupa mereka.
"sejarah adalah jejak-jejak kaki di padang pasir. badai, bahkan angin kecil bisa kapan saja menghapusnya," ujar kawan saya yang a.
"bukan. sejarah adalah hak setiap mereka yang menang dan punya kuasa," tutur kawan saya yang b.
kawan saya yang c tidak mau ketinggalan "sejarah itu abu, hitam dan putih yang tidak jelas."
"makanya, kita tidak bisa sembarangan mempercayai sejarah. butuh ketelitian. tidak sembarang catatan, tidak sembarang peninggalan, dan pastinya diceritakan oleh orang-orang yang 'pantas', 'layak', 'mampu', dan 'bertanggung jawab' atas segala macam peristiwa yang ditatahnya, disampaikannya," timpal kawan saya yang d.
"oo... butuh ketelitian?" tanya saya.
"ya, itu yang paling penting," katanya meyakinkan.
"masak?" tanya saya lagi.
"apa lagi?" kawan d terlihat sedikit kesal.
"ada lagi yang lain, menurut saya."
"apa?" kawan c seperti merasa perlu penasaran.
"kesabaran dan secangkir kopi"
raut muka kecewa, kesal, dan dua menampakkan kegelian mengiringi tawa saya yang renyah. dan kami pun kembali pada buku kami masing-masing, pada pagi kami masing-masing, pada khayalan kami masing-masing tentang siang yang entah akan menjadi saksi peristiwa sejarah penderitaan apa lagi di muka bumi. pada akhirnya, ayam bangun dan kami memanjatkan doa kami masing-masing. mungkin doa yang sama: semoga ini adalah hari terakhir kami dan saudara-saudara kami menderita.
"sejarah adalah jejak-jejak kaki di padang pasir. badai, bahkan angin kecil bisa kapan saja menghapusnya," ujar kawan saya yang a.
"bukan. sejarah adalah hak setiap mereka yang menang dan punya kuasa," tutur kawan saya yang b.
kawan saya yang c tidak mau ketinggalan "sejarah itu abu, hitam dan putih yang tidak jelas."
"makanya, kita tidak bisa sembarangan mempercayai sejarah. butuh ketelitian. tidak sembarang catatan, tidak sembarang peninggalan, dan pastinya diceritakan oleh orang-orang yang 'pantas', 'layak', 'mampu', dan 'bertanggung jawab' atas segala macam peristiwa yang ditatahnya, disampaikannya," timpal kawan saya yang d.
"oo... butuh ketelitian?" tanya saya.
"ya, itu yang paling penting," katanya meyakinkan.
"masak?" tanya saya lagi.
"apa lagi?" kawan d terlihat sedikit kesal.
"ada lagi yang lain, menurut saya."
"apa?" kawan c seperti merasa perlu penasaran.
"kesabaran dan secangkir kopi"
raut muka kecewa, kesal, dan dua menampakkan kegelian mengiringi tawa saya yang renyah. dan kami pun kembali pada buku kami masing-masing, pada pagi kami masing-masing, pada khayalan kami masing-masing tentang siang yang entah akan menjadi saksi peristiwa sejarah penderitaan apa lagi di muka bumi. pada akhirnya, ayam bangun dan kami memanjatkan doa kami masing-masing. mungkin doa yang sama: semoga ini adalah hari terakhir kami dan saudara-saudara kami menderita.
strapped
cangkang-cangkang merah itu terkelupas. menumpuk, sekitar tiga puluh centimeter dari selembar karung lusuh yang mengalasi melinjo yang telah bersih. "pluk... pluk..." satu dua cangkang dan biji itu menemui kawanannya. tidak ada kata-kata perpisahan, tidak ada sambutan pertemuan. semuanya terjadi begitu saja. dihimpun begitu saja.
jika pun ada, saya tidak perlu peduli. karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya ketimbang tumpukan biji melinjo dan cangkangnya itu, ketimbang karung lusuh itu.
tangan itu. tangan besar dan tidak terlalu kekar yang berlumur tanah dan kulit melinjo busuk yang lengket dan mengering. tangan yang pernah membuat tangis saya tumpah karena ketakutan setengah mati saat pemiliknya yang tidak saya kenali mencoba meraih, merangkul, dan memeluk saya yang empat tahun.
dari tangan itu pula sebagian peluh yang suatu hari nanti akan menjadi saksi pertanggungjawabannya sebagai seorang kepala keluarga menerabas deras, membesarkan tiga anaknya selama lebih dari dua dekade bersama ibu saya yang sederhana.
"pak, pinjem pisaunya."
diserahkannya pisau yang sejak tadi ia genggam, sambil sedikit menoleh, dan seperti biasa, tanpa banyak bicara. ia beranjak dan tak lama kembali, dengan sebuah pisau tanpa gagang di tangan.
"nyari uang itu susah ya, dieu."
giliran saya yang menoleh ke arahnya. akhirnya saya melihat segurat senyum yang hanya sebentar saja.
"hehe..." saya kembali menekuri biji-biji melinjo itu, menemani bapak, di garasi.
senja itu, bicara kami panjang dan banyak, tapi selalu ada yang hanya menyala-nyala dalam hati, belum sempat terkatakan. "saya sayang bapak, dan sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan bapak sebagai lelaki terbaik pertama yang menyertai hidup saya."
jika pun ada, saya tidak perlu peduli. karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya ketimbang tumpukan biji melinjo dan cangkangnya itu, ketimbang karung lusuh itu.
tangan itu. tangan besar dan tidak terlalu kekar yang berlumur tanah dan kulit melinjo busuk yang lengket dan mengering. tangan yang pernah membuat tangis saya tumpah karena ketakutan setengah mati saat pemiliknya yang tidak saya kenali mencoba meraih, merangkul, dan memeluk saya yang empat tahun.
dari tangan itu pula sebagian peluh yang suatu hari nanti akan menjadi saksi pertanggungjawabannya sebagai seorang kepala keluarga menerabas deras, membesarkan tiga anaknya selama lebih dari dua dekade bersama ibu saya yang sederhana.
"pak, pinjem pisaunya."
diserahkannya pisau yang sejak tadi ia genggam, sambil sedikit menoleh, dan seperti biasa, tanpa banyak bicara. ia beranjak dan tak lama kembali, dengan sebuah pisau tanpa gagang di tangan.
"nyari uang itu susah ya, dieu."
giliran saya yang menoleh ke arahnya. akhirnya saya melihat segurat senyum yang hanya sebentar saja.
"hehe..." saya kembali menekuri biji-biji melinjo itu, menemani bapak, di garasi.
senja itu, bicara kami panjang dan banyak, tapi selalu ada yang hanya menyala-nyala dalam hati, belum sempat terkatakan. "saya sayang bapak, dan sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan bapak sebagai lelaki terbaik pertama yang menyertai hidup saya."
Nov 1, 2009
2
asylum
kebahagiaan saya suatu siang tumpah pada kolom kecil di satu halaman surat kabar. saya girang sekali. kadang ketidaksengajaan lebih punya kesan. saya tidak pernah berpikir bahwa untuk pertama kalinya, selama lebih dari dua puluh tahun menjadi saksi bumi mengelilingi matahari, saya jadi tertarik untuk merasionalkan "rasa suka" dan "tidak suka".
"ngga! makasih!" tolak saya tiba-tiba pada perempuan pemakan segala itu, sambil bergegas menyelesaikan bacaan di pojok kertas yang kedua ujungnya dalam hitungan puluhan menit lagi mungkin akan membuat lengan saya pegal.
diam-diam saya mencuri celah untuk menautkan pandangan padanya. seperti yang saya duga, air mukanya mulai tidak bagus untuk dibiarkan tanpa kata tanya: "kenapa?"
"kenapa ngga mau?" saya ingat betul di kata bagian mana ia memenggal nafasnya dan memunculkan kekesalannya.
ia nampak bertambah tidak suka melihat senyum yang saya lemparkan.
"nih!!!"
kertas koran itu pun segera diraihnya. ia membaca, begitu dalam dan sungguh-sungguh. berharap di antara huruf-huruf yang berbanjar rapi itu, penasarannya tuntas.
mata saya kembali berkeliling.
dan tiba-tiba....
sadar, bahwa di dalam ruas-ruas integral seorang manusia yang duduk di sebelahnya ini ada yang tidak hendak berubah, ada yang enggan berkemas untuk kemudian beranjak lepas: egoisme.
saya: "es tehnya buat saya aja ya! haus ternyata..."
------------------------
"ngga! makasih!" tolak saya tiba-tiba pada perempuan pemakan segala itu, sambil bergegas menyelesaikan bacaan di pojok kertas yang kedua ujungnya dalam hitungan puluhan menit lagi mungkin akan membuat lengan saya pegal.
diam-diam saya mencuri celah untuk menautkan pandangan padanya. seperti yang saya duga, air mukanya mulai tidak bagus untuk dibiarkan tanpa kata tanya: "kenapa?"
"kenapa ngga mau?" saya ingat betul di kata bagian mana ia memenggal nafasnya dan memunculkan kekesalannya.
ia nampak bertambah tidak suka melihat senyum yang saya lemparkan.
"nih!!!"
kertas koran itu pun segera diraihnya. ia membaca, begitu dalam dan sungguh-sungguh. berharap di antara huruf-huruf yang berbanjar rapi itu, penasarannya tuntas.
mata saya kembali berkeliling.
dan tiba-tiba....
sadar, bahwa di dalam ruas-ruas integral seorang manusia yang duduk di sebelahnya ini ada yang tidak hendak berubah, ada yang enggan berkemas untuk kemudian beranjak lepas: egoisme.
saya: "es tehnya buat saya aja ya! haus ternyata..."
------------------------
perempuan, dingin tak selalu egois, panas tak selalu altruis.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.

