Aku tiba-tiba ingin membangun sebuah ruang cemas yang kau berikan senja itu, bersama langit yang tak kunjung bulat mempersembahkan hujan.
Tempted in our minds
Tormented inside lie
Wounded and afraid
Inside my head
Falling through changes
Did you know when you lost?
Did you know when I wanted?
Did you know what I lost?
Do you know what I wanted?
Empty in our hearts
Crying out in silence
Wandered out of reach
Too far to speak
Drifting unable
Did you know when you lost?
Did you know when I wanted?
Did you know what I lost?
Do you know what I wanted?
[Portishead, Silence]
-----------------------------
Untuk siapapun yang selalu berusaha menerjemahkan penantian dengan cemas.
Nov 30, 2008
0
Nov 27, 2008
0
jendelaku, jejakku mengingat
Saya sedang mandeg. Semua sedang terasa membosankan buat saya. Banyak yang hampir luput saya ingat. Orang-orang yang mengelilingi hidup saya. Bapak dan Ibu, terutama. Juga harapannya: "Kapan kamu lulus, Adieu?".
Hffhh...
Itulah mengapa saya bilang hidup tidak melulu bercerita tentang diri sediri, tapi juga orang-orang lain dengan kepentingannya masing-masing. Mudah-mudahan saya kembali menyadari itu semua, menyadari status saya sebagai anak bagi orang tua yang sudah mati-matian menyambung hidup untuk saya hingga saat ini.
Saya ingin sekali mensyukuri apapun, bahkan untuk segala yang tidak saya miliki. Saya sangat yakin, dari situ saya bisa belajar banyak. Tentang harapan, tentang kekecewaan, tentang sukses dan gagal, tentang tabah, tentang marah, tentang tangis, tentang bahagia, juga tentang bagaimana selanjutnya hidup harus saya jalani.
Bu, Pak, ternyata Adieu menemukan jejak-jejak harapan kalian di sini, di ruang ini. Ruang yang Adieu persembahkan untuk kalian: jendelanalar.
Hffhh...
Itulah mengapa saya bilang hidup tidak melulu bercerita tentang diri sediri, tapi juga orang-orang lain dengan kepentingannya masing-masing. Mudah-mudahan saya kembali menyadari itu semua, menyadari status saya sebagai anak bagi orang tua yang sudah mati-matian menyambung hidup untuk saya hingga saat ini.
Saya ingin sekali mensyukuri apapun, bahkan untuk segala yang tidak saya miliki. Saya sangat yakin, dari situ saya bisa belajar banyak. Tentang harapan, tentang kekecewaan, tentang sukses dan gagal, tentang tabah, tentang marah, tentang tangis, tentang bahagia, juga tentang bagaimana selanjutnya hidup harus saya jalani.
Bu, Pak, ternyata Adieu menemukan jejak-jejak harapan kalian di sini, di ruang ini. Ruang yang Adieu persembahkan untuk kalian: jendelanalar.
siapakah yang lebih arif?
"Aku ga mau lagi kayak gini. Rasanya aku ingin kembali ke masa laluku. Lebih mending, ketimbang sekarang. Aku seperti tahu segalanya, tapi seolah kehilangan juga banyak hal. Aku capek. Aku capek. Aku ingin pergi. Kemanapun asal jangan kembali ke tempat ini."
Senja itu, begitu bertemu ia menyeret saya ke sebuah pojokan. Berbicara begitu deras, sederas hujan yang datang beberapa hari belakangan ini. Saya tertegun beberapa saat, sampai akhirnya saya sadar bahwa ia hanya hendak bercerita, tidak mencari nasihat atau apalah yang semacamnya.
Ia, perempuan jangkung itu, kawan saya. Kami sama-sama perantau, datang dari daerah yang sama. Dulu, saya sempat sangat dekat dengannya karena sebuah tekanan yang sekarang membuat saya sangat merasa bersalah (dan setidaknya kini saya tahu bagaimana sebaik mungkin saya berusaha tetap mempertahankan hubungan pertemanan saya dengannya). Ia geram dengan kondisinya sendiri, juga pada keadaan yang mengelilinginya. Ia merasa tak tahan lagi dengan tuntutan, yang perlahan mengikis identitasnya sebagai seseorang. Ia hendak berontak, tapi tak hendak membuat kekacauan. Seperti ragu-ragu, saya bilang waktu itu. Tapi bukan begitu kenyataannya. Ia hanya ingin menghormati orang-orang dan hal-hal yang, katanya, telah mempertemukannya dengan 'pengetahuan'-nya sekarang.
Luar biasa. Saya beberapa kali menunduk, berusaha berkaca pada diri sendiri. Perempuan jangkung itu membuat saya banyak merenung. Jangan-jangan masih ada ruang dalam hidup saya yang luput dari usaha saya untuk tetap menjadi lebih arif (semoga..). Ia tegar, meskipun ia bergumam. Ia juga tegar, meski sikapnya dalam keadaan tertekan seperti itu kadang-kadang tidak masuk di akal saya sebagai manusia.
Keluhan seperti itu bukan pertama kali saya dengar. Beberapa kawan (dan saya waktu dulu), juga merasakan hal yang sama, tentu dengan penyikapan yang berbeda-beda. Saya sempat bertanya, sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah salah langkah? Ataukah ada yang salah dengan komitmen seseorang untuk menyerempakkan langkah dalam sebuah barisan (barisan apapun itu)? Atau mungkin kesalahan ada pada langkah yang serempak? Langkah yang seolah mewajibkan seseorang untuk jadi kaki-kaki yang sama yang bergerak ke arah yang sama pada saat yang sama? Langkah yang satu komando?
Entahlah. Tapi saya kira (semoga perkiraan saya jauh dari sentimentalitas), seseorang punya hak untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Atau setidaknya kepemilikan seseorang terhadap dirinya (potensi dan kesadarannya) tetap diberi ruang bahkan untuk menghayati nada seragam apapun yang dibunyikan.
Manusia memang bisa dikarbit, dicetak, diarahkan. Tapi kelak, selalu ada cerita bagi diri kita sendiri. Tanpa proteksi.
Dosakah? Hmm... Lagi-lagi entah. Karena saya tidak punya otoritas untuk menghakimi perbuatan, mengandung dosa atau pahala. Karena saya yakin, orang-orang yang saya temui adalah orang-orang dewasa yang selalu berusaha mencari tahu dan menyadari kapasitas dirinya. Dan yang saya yakini, Tuhan Maha Arif dari apapun.
Saya tiba-tiba ingat sebuah catatan yang saya kutip dari catatan seseorang yang terlalu sering saya kutip: Kearifan adalah soal yang sederhana tapi tak terelakkan. Dengan itu kita mulai mengakui, betapapun indahnya da menariknya hati yang bergetar oleh suatu keyakinan, betapapun mengharukannya hasrat untuk kemurnian, hidup tidak perlu tunduk hanya kepada satu cita-cita. Hidup selalu mengetuk bermacam, mungkin beratus-ratus, pintu. Dari semua pintu itu jalan keluar bisa terbuka ke bermacam taman. Kita tidak bisa membunuh setiap orang yang keluar dari pintu A atau memenjarakan mereka yang tidak melalui pintu B. Memang, dengan demikian terasa tidak ada lagi keyakinan yang membara. Tetapi justru yang berani yang tetap bisa berjalan menghadapi keruwetan, seribu pintu yang arahnya persis tidak kita tahu.
Senja itu, begitu bertemu ia menyeret saya ke sebuah pojokan. Berbicara begitu deras, sederas hujan yang datang beberapa hari belakangan ini. Saya tertegun beberapa saat, sampai akhirnya saya sadar bahwa ia hanya hendak bercerita, tidak mencari nasihat atau apalah yang semacamnya.
Ia, perempuan jangkung itu, kawan saya. Kami sama-sama perantau, datang dari daerah yang sama. Dulu, saya sempat sangat dekat dengannya karena sebuah tekanan yang sekarang membuat saya sangat merasa bersalah (dan setidaknya kini saya tahu bagaimana sebaik mungkin saya berusaha tetap mempertahankan hubungan pertemanan saya dengannya). Ia geram dengan kondisinya sendiri, juga pada keadaan yang mengelilinginya. Ia merasa tak tahan lagi dengan tuntutan, yang perlahan mengikis identitasnya sebagai seseorang. Ia hendak berontak, tapi tak hendak membuat kekacauan. Seperti ragu-ragu, saya bilang waktu itu. Tapi bukan begitu kenyataannya. Ia hanya ingin menghormati orang-orang dan hal-hal yang, katanya, telah mempertemukannya dengan 'pengetahuan'-nya sekarang.
Luar biasa. Saya beberapa kali menunduk, berusaha berkaca pada diri sendiri. Perempuan jangkung itu membuat saya banyak merenung. Jangan-jangan masih ada ruang dalam hidup saya yang luput dari usaha saya untuk tetap menjadi lebih arif (semoga..). Ia tegar, meskipun ia bergumam. Ia juga tegar, meski sikapnya dalam keadaan tertekan seperti itu kadang-kadang tidak masuk di akal saya sebagai manusia.
Keluhan seperti itu bukan pertama kali saya dengar. Beberapa kawan (dan saya waktu dulu), juga merasakan hal yang sama, tentu dengan penyikapan yang berbeda-beda. Saya sempat bertanya, sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah salah langkah? Ataukah ada yang salah dengan komitmen seseorang untuk menyerempakkan langkah dalam sebuah barisan (barisan apapun itu)? Atau mungkin kesalahan ada pada langkah yang serempak? Langkah yang seolah mewajibkan seseorang untuk jadi kaki-kaki yang sama yang bergerak ke arah yang sama pada saat yang sama? Langkah yang satu komando?
Entahlah. Tapi saya kira (semoga perkiraan saya jauh dari sentimentalitas), seseorang punya hak untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Atau setidaknya kepemilikan seseorang terhadap dirinya (potensi dan kesadarannya) tetap diberi ruang bahkan untuk menghayati nada seragam apapun yang dibunyikan.
Manusia memang bisa dikarbit, dicetak, diarahkan. Tapi kelak, selalu ada cerita bagi diri kita sendiri. Tanpa proteksi.
Dosakah? Hmm... Lagi-lagi entah. Karena saya tidak punya otoritas untuk menghakimi perbuatan, mengandung dosa atau pahala. Karena saya yakin, orang-orang yang saya temui adalah orang-orang dewasa yang selalu berusaha mencari tahu dan menyadari kapasitas dirinya. Dan yang saya yakini, Tuhan Maha Arif dari apapun.
Saya tiba-tiba ingat sebuah catatan yang saya kutip dari catatan seseorang yang terlalu sering saya kutip: Kearifan adalah soal yang sederhana tapi tak terelakkan. Dengan itu kita mulai mengakui, betapapun indahnya da menariknya hati yang bergetar oleh suatu keyakinan, betapapun mengharukannya hasrat untuk kemurnian, hidup tidak perlu tunduk hanya kepada satu cita-cita. Hidup selalu mengetuk bermacam, mungkin beratus-ratus, pintu. Dari semua pintu itu jalan keluar bisa terbuka ke bermacam taman. Kita tidak bisa membunuh setiap orang yang keluar dari pintu A atau memenjarakan mereka yang tidak melalui pintu B. Memang, dengan demikian terasa tidak ada lagi keyakinan yang membara. Tetapi justru yang berani yang tetap bisa berjalan menghadapi keruwetan, seribu pintu yang arahnya persis tidak kita tahu.
Nov 11, 2008
0
pangeran berkuda putih
Kawan-kawan saya, perempuan, terutama yang usianya sudah menginjak 20an selalu bercerita tentang keinginannya didatangi pangeran berkuda putih yang identitasnya, kata mereka, masih ditahan Tuhan rapat-rapat di langit. Saya sempat gatel juga mendengarnya. Bahkan karena itu saya jadi bertanya-tanya, apakah perempuan memang harus selalu begitu? Selalu jadi pihak yang menunggu dan berharap. Dengan kata lain, perempuan adalah pihak yang selalu "di-", bukan "me-".Tapi saya sedang tidak ingin membahas itu (mungkin lain waktu). Saya hanya ingin menuliskan kembali apa yang saya baca beberapa waktu lalu. Tentang pangeran berkuda putih.
Kenapa pangeran berkuda putih seolah jadi mitos kaum hawa yang mulai berhasrat untuk menikah? Lewat Goenawan Mohamad akhirnya saya tahu bagaimana hal itu bermula.
Di sebuah negeri, Kartasura, menjelang pertengahan abad ke-17. Raden Sukra. Begitulah laki-laki itu punya nama. Ia adalah putra Raden Adipati Sindu Reja. Kerupawanannya membikin kesal putra mahkota, Pangeran Adipati Anom. Jadilah ia, laki-laki tampan yang memukau banyak orang itu, dibawa ke hadapan sang putra mahkota. Ia dikeroyok dan ke dalam matanya, dijejalkan semut hitam.
Sindu Reja geram. Tapi statusnya yang hanya seorang abdi raja, menciutkan keinginannya untuk menuntut balas.
Tidak dengan Sukra. Ia datang menemui Lembah, putri Pangeran Puger, dan bermaksud memikat perempuan cantik itu sebagai jalan untuk membalaskan kekesalannya yang menggelegak atas perlakuan sang putra mahkota. Datanglah Sukra suatu sore bersama Nirwati,kudanya yang putih, ke pertamanan istana kepugeran itu, tempat Lembah berjibaku dengan kemurungannya karena suaminya, sang putra mahkota,lebih asyik dengan perempuan barunya.
Hati-hati dengan cinta. Begitu salah satu pesan dituliskan. Cinta mengubah jalan cerita. Sukra dan Lembah benar-benar terjebak dalam sebuah kubangan yang mereka buat sendiri dengan sukarela.
Berita tentang kasmarannya dua insan itu terdengar oleh Adipati Anom, bahkan sampai ke telinga sang Raja. Tak tanggung-tanggung. Ayah Lembah,Pangeran Puger, diminta untuk membunuh sendiri putri kandungnya. Dan nasib Raden Sukra, sepertinya tak hendak berubah. Hidupnya tamat. Setelah terbujuk untuk menyerah dan diminumi racun, lehernya pun diinjak dan dipatahkan oleh pamannya sendiri, sang pengabdi Raja.
Begitulah. Mudah-mudahan keinginan kawan-kawan saya yang perempuan untuk didatangi pangeran berkuda putih bukan keinginan untuk mengakhiri cerita hidup seperti Sukra dan Lembah. Tentu saja karena mereka (kawan-kawan saya yang perempuan) dan saya tidak hidup di Kartasura pertengahan abad ke-17. Dan yang paling penting, mereka (kawan-kawan saya yang perempuan) dan saya, tidak hendak merekonstruksi sepenggal kisah lama yang diungkapkan dalam Babad Tanah Jawi tersebut.
Kita punya sejarah kita masing-masing, perempuan. Tapi apakah kita pun akan didatangi pangeran berkuda putih kita masing-masing, perempuan? Mungkin. Tapi mudah-mudahan bukan Raden Sukra pangeran itu. Haha...
(terinspirasi dari kawan-kawan dan Goenawan Mohamad)
------------------------
Kore wa nan desu ka, adieu? Teuing ah.......

