...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

momento (2)

akibat jalan kaki, maka berjalan kakilah sewaktu-waktu
dinas pekerjaan umum bilang, "hati-hati banyak jalan berlubang". bagi mereka yang memiliki kendaraan barang kali sugesti perusahaan milik pemerintah ini adalah petunjuk paling jitu terhindar dari musibah. tapi buat pejalan kaki seperti saya, peringatan itu seperti tak lebih dari pernak pernik. saya hanya akan mengatakan "oo" dan kembali melangkahkan kaki mendekati lubang jalan yang digenangi air bekas hujan beberapa saat sebelumnya.

tentu saja bukan untuk bercermin dan mengamati wajah sampai mampus seperti narcissus dalam mitologi yunani. buat saya yang pejalan kaki ini, genangan air di lubang jalan adalah a way to enjoy universe, a way to watch the sky, a way to be grateful that Allaah SWT still gives me chance to see a very great creature in this very short life.

dan buat saya, inilah saat dimana saya memergoki langit tengah menempel di permukaan bumi. what a beautiful moment to capture a very nice scene ever..



-------
* tulisan ini tak membuat saya urung menuntut agar dinas pekerjaan umum segera memperbaiki jalanan keriting yang nyaris terhampar di seluruh negeri ini.

breeze?

setelah berabad-abad, akhirnya saya nangkring juga di jurusan. sepi di sini. kawan-kawan saya pada kemana? (tidak perlu ikut menjawab, biar saya jawab saja dalam hati dengan penuh kepiluan - berlebihan mode on)

di ujung lorong ada sekitar sepuluh orang. dugaan kuat saya, mereka adalah mahasiswa jurusan paling 'high class' di fakultas. saya tidak hendak menguping. saya hanya sedang menunggu istirahat dzuhur untuk bisa masuk kembali ke perpustakaan. birokrasi membuat semuanya mudah terkunci. perpustakaan. masjid. tempat-tempat yang seharusnya 'cukup basah' untuk melahirkan orang-orang hebat, para pemikir, politikus, bahkan negarawan.

dan di ujung lorong itu, beberapa gelintir mahasiswa membicarakan hal-hal besar. tentang berbagai kesepakatan internasional. tentang konstelasi politik internasional. tentang isu-isu lingkungan. tentang konflik. tentang tentang nasib bangsa. tentang media. tentang transmigrasi. tentang soeharto. tentang jurusannya yang 'keren', tentang bagaimana membuat proposal untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa, tentang keengganan untuk berorganisasi (salah seorang perempuan bersuara paling lantang mengatakan begini: "aku ngga pengen pake nama organisasi. aku pengen jadi orang yang tergerak karena kepedulian sosial aku. bahkan mengatasnamakan badan mahasiswa tertinggi unpad, sama sekali aku ngga bakalan mau"). tentang keharusan perempuan untuk bekerja sebelum berumah tangga (wuihhh... my mamah indeed). tentang kehidupan yang akan terus berdetak dengan perpanjangan visa dan passport. tentang peluang bisnis dan multinational corporations. tentang globalisasi yang menurut salah seorang dari mereka diidentikkan dengan hal-hal 'barat' yang diglobalkan. tentang kesempatan untuk menjadi maju dengan memutuskan untuk meninggalkan indonesia.

wufff... what's so scattered topics. isn't it? sungguh. sekali lagi, saya tidak sedang menguping karena suara mereka terlalu keras untuk tidak dipedulikan. namun hal itu membuat saya cukup menikmatinya sembari senyam-senyum. let's call it illuminating day breeze. akhirnya. ya. akhirnya ada yang cukup digdaya dari canda dan bicara mereka yang menyebut dirinya mahasiswa. ya. akhirnya.

time's up. saatnya kembali ke perpustakaan kita yang gemboknya kembali dibuka. dan saatnya kembali menerima bahwa pendidikan kita menciptakan sedikit saja yang membaca dan berbicara jika bukan karena terpaksa.

pada perempuan yang perutnya menggembung seperti fugu

hari ini saya melihat cara bersalaman yang tidak wajar. setidaknya menurut saya. kejadiannya sekilas. dan saya melihat beberapa kali orang melakukannya.

bukan. bukan tangan raih tangan. saya melihat hal lain. perempuan itu, perempuan yang disalami itu pun seolah tanpa keberatan membiarkan tangan-tangan mereka menggerayangi perutnya yang menggembung persis seperti ikan fugu.

entah rapal apa yang keluar dari mulut mereka yang mengelus-elus perut buncit itu. saya benar-benar tidak tahu. saya hanya tahu bahwa dari kejauhan air muka mereka tidak menunjukkan hal-hal yang kurang ajar. dan saya hanya tahu bahwa saya yang duduk di angkot ini ribut dan risih dengan sesuatu yang tidak menimpa saya. saya sibuk bersoliluqui. sementara perempuan itu, tampak menikmati pembicaraan sewajarnya.

apa yang salah? imajinasimu yang terlalu berlebihan, tukas penumpang angkot yang duduk di sebelah saya. saya menengok ke sisi kanan. saya kaget. karena penumpang itu tidak berbicara apapun. ia masih bermasyuk mengamati pemandangan dipati ukur yang dipenuhi anak muda yang mahasiswa, yang berkerumun, yang penuh gaya, dari balik jendela.

saya jadi berpikir, bahwa bersalaman (dengan mempertemukan tangan dengan tangan untuk saling berjabat) hanya simbol yang sesekali bisa berubah. mempertemukan pipi dengan pipi (saya lebih sering menyodorkan batok kepala ketimbang pipi) saat sesama spesies saya saling bertemu pun hanya simbol. saling memegang janggut di tanah raja abdullah pun hanya simbol. atau saling meludahi dahak dalam film slapstick ace ventura pun tak lebih dari simbol. bisa berubah. bisa berganti. namun tak bisa sembarangan. orang mesti ingat bahwa setiap simbol itu mengandung pesan yang harus bisa diterima dan dimengerti. simbol yang menyesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan.

benar, bersalaman adalah simbol. simbol yang bisa berarti memperlihatkan rasa saling berkasih sayang, menukarkan beberapa iris kepercayaan. dari sini maka saya bilang wajar jim carrey kesal dan merasa dilecehkan saat seorang kepala suku di afrika mendahakinya dalam salah satu adegan di film besutan tom shadyac itu. detektif sinting tersebut tidak mengetahui bahwa sang kepala suku tengah memuliakannya sebagai seorang tamu, tengah menyalaminya. buktinya, setelah mengetahui bahwa anggapannya keliru, ace (jim carrey) pun menyalami sang kepala suku dengan 'dahak' (yakkkksss...) yang tak kalah banyak (nah kalo ini mah bukan menghormati, tapi balas dendam. jangan kayak gitu ya, kawan-kawan).

dan di zaman yang membuat saya curiga terhadap setiap jeda bangunan, terhadap setiap sudut benteng, terhadap setiap pinggiran pohon --dengan asumsi kuat bahwa tempat-tempat itu strategis untuk kencing para 'kucing'--, di zaman yang menuntut orang terseret dengan ritme dan dinamika kosong yang cepat ini, simbol serupa kulit yang lupa kacangnya (hahay). hampa. maka wajarlah siapapun dengan kepentingan apapun bisa menggonta-ganti simbol itu, bahkan hingga bisa mengubahnya menjadi sama sekali beda dengan pesan yang seharusnya disampaikan (bisa jadi suatu saat memuliakan sama dengan menjilati tapak sepatu, atau saling melempar pecahan beling, atau bisa jadi dengan saling menikam). ya, siapa yang tahu jika -lagi-lagi- orang dibiarkan bebas mengikuti kehendaknya sendiri dan kepedulian raib bersama dengan tegaknya banyak bangunan. what's common today, could be strange tomorrow. what's right today, could be wrong tomorrow.

maka saya bersyukur bahwa kegamangan hidup saya berakhir, meski saya sulit menerima bahwa saya masih soliloquist. sering bermonolog, termasuk saat ini, saat menyaksikan tangan-tangan yang mengelus perut mahasiswi pascasarjana yang hamil itu. ah. barangkali bersama tangan-tangan itu ada bahagia yang hadir, ada harapan dan doa yang terpanjat, semoga yang mendekam di balik rahim itu lahir sebagai manusia yang akan melengkapi kesempurnaan hidup yang tak lama.

meski tangan saya tidak turut menggerayangi perut bulat perempuan itu: "semoga Allaah SWT melimpahkan keberkahan atasmu. semoga rasa syukur itu tak lekang bertambah, hanya pada Allaah yang Maha Memberi Karunia. semoga Allaah SWT membiarkanmu dewasa serta mempersembahkan kebaikan dan baktimu pada kedua orang tuamu."

journey

di tengah hiruk pikuk banyak orang membuat refleksi dan resolusi, setelah sekian lama mengendapkannya hingga mengeras bersama rasa malas, setelah menjarah sejumlah file dari hard disk kawan saya (bayangkan lebih dari 8 gigabytes hanya dalam satu malam menginap), akhirnya saya membuat review. bukan review sebetulnya, karena saya tak cukup mahir dalam hal ini. mari sebut saja sebagai komentar acak dari penikmat hiburan yang sering terlampau excited hanya karena menemukan hal sederhana dari apa yang ditonton dan disimaknya.

saya menonton film ini lebih kurang tiga tahun lalu, tak lama setelah perkenalan saya dengan drama-drama jepang lewat heavenly forest (percayakah kamu bahwa pemeran utamanya mirip aa gym dan pasha ungu). berkat bondan fade 2 black di klip terbarunya, saya merasa terusik untuk berkomentar tentang the night time picnic (yoru no pikkunikku). sesadar saya, meski tidak sama, tapi konsep video klip bondan "kita untuk selamanya" mirip dengan yoru no pikkunikku.

drama yang merupakan visualisasi dari novel riku onda ini bercerita tentang perjalanan tahunan murid-murid sebuah sekolah menengah di pinggiran jepang sejauh 80 kilometer dalam waktu 24 jam. siapapun yang telanjur gila dengan drama korea atau sinetron-sinetron tanah air, kemungkinan besar akan kecewa dengan dorama pendek yang satu ini. selama durasinya yang hampir dua jam ini, tidak ada satupun adegan 'menyek-menyek' atau aksi 'nanjak-geuleuh' berlebih lainnya, meskipun tokoh di dalamnya adalah anak muda. komentar beberapa kawan, "film apaan sih?", "filmnya bikin ngantuk", dan sejenisnya.

namun entahlah, sejak pertama kali menontonnya bersama salah seorang kawan di rumahnya yang penuh nyamuk itu, justru kami histeris. dan memang seperti itulah reaksi yang sering kami perlihatkan saat menonton beberapa dorama jepang. yang membuat kami berbinar adalah ceritanya yang sederhana tapi dalam dan detail. tentang seorang siswa rocker yang selalu tak beruntung karena tak pernah disapa ambulans. tentang seorang siswa junior misterius yang disangka hantu karena selalu muncul di berbagai foto angkatan. tentang tokoh utama, you nishiwaki (takuya ishida) dan takako koda (mikako tabe) yang selama duduk di bangku sekolah tak pernah sekalipun bertegur sapa. tentang semangat yang harus mereka pertahankan agar bisa menghabiskan 80 kilometer perjalanan selama 24 jam. juga tentang berbagai macam scene 'membinarkan' lainnya yang sempat membuat saya dan kawan saya saling memandang karena merasa mengalami apa yang pernah kami saksikan di yoru no pikkunikku saat berjalan kaki di pesisir unpad jatinangor, dago, kgu, asia afrika, dan beberapa pojokan lainnya di bandung, sesaat setelah hujan dan langit masih menyisakan lebam sedikit saja.

so what to notice? bukan hanya scene-scene menarik, tapi juga tentang perjalanan dengan permulaan yang barangkali kita sadari namun penghujung yang tidak pasti dan tidak kita ketahui. yang masih mungkin kita lakukan hanya berjalan dan menghayatinya, serta mengumpulkan puing-puing rasa lelah untuk disusun sebagai sebuah kekuatan baru, semangat yang lain lagi untuk segera menyelesaikan perjalanan. try to always figure out all the things which makes the journey become so special.


listen also the song!