...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

field of innocence

I still remember
The world from the eyes of a child
Slowly those feelings
Were clouded by what I know now

Where has my heart gone
An uneven trade for the real world
Oh I, I want to go back to
Believing in everything and knowing nothing at all

I still remember
The sun always warm on my back
Somehow it seems colder now

Where has my heart gone
Trapped in the eyes of a stranger
Oh I, I want to go back to
Believing in everything

Where has my heart gone.
An uneven trade for the real world
Oh I, I want to go back to
Believing in everything

Oh where has my heart gone
Trapped in the eyes of a stranger
Oh I, I want to go back to
Believing in everything

[Field of Innocence, Evanescence]
------------------------------------
Waktu saya mendengar lagu ini, saya tersenyum. Lirih. Saya memang sedang ingin mengembalikan waktu hingga saya kembali ke masa kecil. Masa dimana saya bisa menangis dan berjalan bebas, sebebas ayunan rambut saya yang selalu Ibu kepang dua. Masa dimana saya bisa menanti matahari terbit dari balik atap-atap rumah. Masa dimana saya ketakutan karena bulan selalu mengikuti kemanapun arah saya berjalan malam-malam. Masa dimana saya hanya bisa tersenyum polos dengan hanya mempertunjukkan gusi dan beberapa gigi karena saya selalu yakin orang-orang yang memberikan saya permen dan cokelat adalah orang-orang yang selalu tulus.
Dan saya yakin, kau pun menginginkannya kan, Leu? ^_^


(untuk Aulia dan saya)

mohok

Bugi, Tole dan Kukut punya teman baru. Namanya Mohok.

Mohok adalah kaktus cebol yang saya beli di pasar Unpad hari Minggu sepulang praktikum kemarin. Lucu. Hijau muda grundel-grundel.

Saya kira saya cukup punya alasan jika suatu saat Mohok bertanya: "Kenapa kamu milih saya, Adieu?". Maka beginilah jawaban saya:
"Karena kamu murah, Hok. Heuheu... Tapi tenang, bukan berarti kamu murahan. Saya pilih kamu karena kamu hampir punya watak yang sama dengan Bugi, Tole, dan Kukut. Tidak menyusahkan saya (bahasa yang lebih diplomatis ketimbang saya tidak mau susah dengan keberadaanmu..whaha...). Kamu cukup tegar untuk tetap hidup dengan tidak terlalu berharap banyak pada orang lain. Bukankah terlalu berharap itu tidak menyenangkan, Hok? Ya, tentu saja. Karena dengan itu kamu akan cemas dan berjibaku dengan ketakutanmu sendiri. Kamu cukup mengerti bahwa orang lain adalah juga ruang yang tidak selalu bisa kamu tinggali meskipun kamu menyukainya. Iya kan, Hok? Ngangguk dong ah! Kamu sosok yang selalu ingin memperlihatkan kesabaran. Selalu ingin mensyukuri keadaan dan ketiadaan, juga belajar dari itu semua. Kamu hanya ingin hidup dan mencoba tulus pada orang-orang yang ada di sekitarmu. Menyenangkan mereka dengan bentukmu yang boncel, warnamu yang cerah. Tapi kamu juga punya duri, Hok. Setidaknya duri itu yang akan menjagamu, membuatmu mampu bertahan menghadapi ancaman dari luar dirimu. Makanya saya menyenangimu, saya memilihmu, dan memintamu untuk selalu jadi cermin ketika saya luput mengenali diri saya sendiri. Hok, tetaplah hidup. Betahlah hidup bersama saya, Bugi, Tole dan Kukut. Mau kan, Hok? Saya mohon."

Undergoing MyBlogLog Verification

alasan untuk pulang

Telunjuk tangan sebelah kanan saya 'meraksasa'. Warnanya pun memucat. jika saya sandingkan dengan telunjuk tangan kiri,saya melihatnya ibarat gajah dan kurcaci.
"Makanya, jadi orang tuh jangan pernah nyari penyakit, Adieu." Begitu omel ibu saya sambil membenarkan letak selimut di badan saya.
"Ngapain juga pake sengat-sengatan segala? Gimana coba kalo malpraktek?", ibu tetap mengomel. Tangannya menyodorkan beberapa butir obat dan segelas air putih untuk saya minum. Saya hanya tersenyum.


Dua hari sebelumnya...

"Waduh...seneng makan gorengan ya?", tanya satu perempuan sambil tetap memegangi tangan saya.
"Seneng banget atuh."
"Ini mah kolesterol."
"Wew... Seriusan?"
Perempuan itu langsung menjelaskan indikasi yang ia lihat dari telapak tangan saya.
"Lagi banyak pikiran juga ya? Stress?"
"Umm...banyak pikiran iya, stress ga tau."
Dilanjutkannya mengarahkan sebuah senter kecil ke bola mata saya.
"Penyakitnya banyak juga.", lanjutnya.
Beuh... Sebegitu pesakitankah saya? Padahal bisa dibilang, saya orang yang jarang sakit, kecuali akhir-akhir ini. Saya terus bergumam, melakukan pembelaan diri dalam hati dan perempuan itupun masih terus melanjutkan diagnosanya.
Dan untuk kedua kalinya, saya merelakan lebah-lebah itu menyengat tangan saya. Pertama kali, seminggu yang lalu, di sela-sela jempol tangan, dua sengatan. Dan sekarang tambah satu sengatan lagi. Hanya tangan kanan. di telunjuk dua sengatan, satu lagi di pergelangan. Sebenarnya saya tidak terlalu sakit, tapi saya sengaja menjerit (kesempatan untuk mengeluarkan kekesalan saya pada diri saya sendiri).



Ternyata, saya bukan datang ke rumah karena sakit. Mungkin sakit, tapi sakit saya lebih banyak dipengaruhi oleh keinginan saya untuk menemukan sosok nyata dari orang-orang yang saya sayangi: Ibu, Bapak, dan adik-adik saya. Juga rumah tempat saya besar dan belajar dari kenakalan pada orang tua saya.
Dan tangan kanan saya pun mengempis sedikit demi sedikit.

eskrim

Adik saya yang paling kecil tiba-tiba menghampiri saya yang tengah belajar memfungsikan tangan kanan yang sedang membengkak parah sebagaimana biasanya. Ia, yang masih mengenakan celana seragam sekolahnya, membawa dua es krim corong. Satu ia berikan pada saya.
“Nih…”
“Buat Adieu?”
“Heueuh”
“Siapa yang beliin? Pake uang siapa?”
“Dede. Eh, Mamah deng.”
“Kirain pake uang kamu, De.”
Dia hanya tertawa dan kembali menikmati es krim di tangannya.
Saya pun begitu. Saya berhenti sejenak untuk memakan es krim yang diberikan adik saya. Hmm… enak. Di jatinangor, untuk bisa menikmati eskrim seenak ini, setidaknya saya harus punya uang 5000 rupiah.
“Enak, Dieu?”
“Enak banget, Dede.”
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan eskrim corong mini yang enak itu. Adik saya kembali ke depan, nonton channel kesayangannya, Spacetoon.
Dan saya kembali dengan pikiran-pikiran saya yang sedang berkemelut.

Seandainya hidup seperti es krim. Enak. Manis. Tapi mungkin tidak butuh waktu lama untuk bisa menikmatinya. Tuhan Maha Tahu darimu, Adieu.