...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

retak

Rasa kesal masih tetap menggelayut dalam pikiran. Pasalnya tadi pagi, saat saya mengikuti sebuah kajian salah satu lembaga dakwah kampus. Karena sudah tak memungkinkan lagi untuk masuk kelas (lagi-lagi membolos untuk mata kuliah yang satu itu), akhirnya saya banting setir menuju selasar, tempat kajian dilangsungkan. Tampak di sana Farid Wadjdi sebagai pembicara. Saat itu, laki-laki berdarah Brastagi itu mengatasnamakan dirinya sebagai aktivis bakti dari lembaga yang menjadi event organizer kajian ke-negara Islam-an tersebut. Tak banyak yang datang. Tak lebih dari 25 orang, yang terdiri atas laki-laki dan perempuan dengan posisi duduk yang terpisah. Nampaknya lagi, hanya satu atau dua orang peserta yang dari kalangan umum, bukan internal.
Sesi tanya jawab pun berlangsung. Pada saat itu pula kekesalan terbit. Saya tidak diberi kesempatan bicara, hanya karena panitia ingin mengiklan sebuah acara besar yang akan berlangsung dalam waktu yang masih lama. Padahal sebelumnya, saat saya mengacungkan tangan sang moderator sudah menunjuk (yang dalam penafsiran saya sama artinya dengan “Baiklah, silakan Dieu!”). O gosh, what the hell they’re doing? Inilah yang sangat tidak saya suka. Memusnahkan kesempatan bicara. Mungkin saya akan bisa lebih menerima ketika alasan yang dilontarkan adalah waktu yang mepet ke shalat dzuhur. Tapi iklan? (kebetulan mic-nya ada di depan saya dan ingin saya lempar tepat di muka moderator......rrrggghhhhh!!!!!!!)
“Saya sebel, Ki. Bilangin tuh, cuma buat iklan doang kesempatan saya ngga dikasih? Gimana sih? Kajian macam apa ini?”, tukas saya pada salah seorang panitia akhwat sembari membenarkan letak ransel untuk kemudian langsung minggat. Dalam hati, kekesalan saya tetap berkecamuk. Gerutu menyertai langkah saya menuju perpustakaan. “Bakal mikir ratusan kali buat acara yang diadain sama mereka.”
Namun semua kekesalan itu retak di penghujung hari. Dalam perjalanan pulang menuju kosan, saya kembali melihat si bulat sempurna di seberang jalan. Kali ini ia tak bersepeda. Rambutnya tak lagi panjang seperti saya pernah menemukannya beberapa waktu lalu. Ia tampak lebih rapi, meskipun kondisi perutnya masih sama: membuncit :D.
Dia berlalu, dan saya masih tetap melanjutkan langkah-langkah kecil menuju kosan sambil senyam-senyum sendiri. Kami saling menjauh.


Untukmu yang tak bersepeda, apa lagi yang telah kau temukan dan belum kau bagi padaku? Sejauh ini, tak pernah ada perhentian untuk menunggu kabar-kabarmu, cerita-ceritamu yang selalu menarik.
(dicatat selagi ingat, sebelum para seniman Lekra mengakhiri Nekolim ^_^)

0 comments:

Post a Comment