Sejarah hidup saya beberapa tahun belakangan ini adalah sejarah kebersamaan saya dengan Tole1) dan Bugi2). Mereka berdua yang hampir selalu menemani saya kemanapun dalam keadaan apapun. Minna-chan, aishiteru....:*
--------------------------
1) Tole adalah tas saya tercinta. Kami sudah hidup bersama sekitar 4 tahun. Ia sangat jarang mandi. Bahkan, yang saya sadari, saya hanya mencucinya sekali saja selama ini. Kemarin temen saya mengingatkan saya tentang Tole yang sudah ledek. Biar, saya bilang ke temen saya itu. Saya suka sama yang ledek-ledek. Sudahlah ledek, sekarang bebannya pun tambah banyak. Entah mengapa, semakin tua semakin banyak yang ingin saya bawa, termasuk hal-hal yang dulu tidak penting sama sekali, sekarang menjadi sesuatu yang setidaknya membuat saya sedikit linglung jika tertinggal.
2) Bugi adalah sandal gunung saya. Kedatangannya tidak pernah masuk dalam hitung-hitungan mimpi saya. Pemberian dari seorang kawan yang tidak menginginkannya karena bentuknya yang aneh. Seperti Tole, Bugi juga jarang sengaja saya mandikan. Biar ia belajar tentang hidupnya sendiri. Haha.... Saya pernah berpikir, jika suatu saat saya ditanya Allah kemana saja waktu saya hidup di dunia, saya ingin Bugi membantu saya menjawabnya, karena ia memang selalu ikut saya (atau kebalik, saya yang ikut dia) dalam segala momen, segala suasana. Mulai dari sekedar menjelajah tempat-tempat baru, ujian, maen di tengah sawah, sampai acara hajatan.
------adieu loph yu, Bugi, Tole--------
Oct 27, 2008
2
Oct 26, 2008
0
soliloqui

Andai bukan karenamu, tentu saja aku sudah meninggalkan tempat ini dengan langkah yang gegas, tanpa kemungkinan menoleh kembali ke belakang. Ya, andai saja. Memang terkesan tidak sabar, karena pada kenyataannya aku bukanlah penyabar. Bagiku sabar adalah kebodohan dalam bentuknya yang lain. Aku juga tak pernah suka menunggu. Kerugian yang cukup besar kurasakan jika aku rela membiarkan diriku untuk menunggu. Sabar dan menunggu adalah kebodohan.
Namun kali ini tidak. Kali ini berbeda. Entah mengapa. Sudah hampir tiga setengah jam bangku ini menyangga dudukku. Aku menunggumu. Ya, aku menunggumu. Tentu saja dengan seribu macam kecemasan dan kutukan yang melebur menjadi satu. Kemana kau, perempuanku? Mengapa sejak tadi batang hidungmu setitikpun tak kunjung tampak? Apakah kau tak tahu bahwa aku benci menunggu? Tega sekali. Mungkinkah kau lupa? Mungkinkah kau sengaja lupa dan tidak menemuiku? Atau jangan-jangan sesuatu yang buruk tengah menimpamu? Mengapa tak ada kabar sepatah katapun? Bahkan angin tak memberiku petanda. Ia hanya menerpa tubuhku pelan saja dan berlalu, lantas datang lagi, kemudian kembali berlalu. Bisu. O perempuan, kau benar-benar menyiksaku.
Ataukah aku ada di waktu yang keliru? Sebentar kulihat buku catatan kecil yang di dalamnya telah kutulis besar-besar janji yang telah kita sepakati sebelumnya. Tidak, aku tidak keliru. Di halaman itu tertulis hari ini pukul 3 kita bertemu. Tapi mana? Sudah hampir tiga jam aku di sini. Ataukah mungkin aku ada di tempat yang keliru? Kulihat lagi buku itu. Di halaman yang sama, aku menulisnya besar-besar. Tidak, aku tidak keliru sama sekali. Kita sepakat untuk bertemu di pojokan taman ini. Tepatnya kau bilang akan datang lebih dulu dan menungguku di bangku ini, di bawah pohon randu yang mulai menua ini. Namun apa? Justru akulah yang lebih dulu tiba di sini.
Aku benci menunggu, tapi aku benar-benar menunggu kali ini. Duduk bergeming di bangku ini dengan kaki dan jemari yang terlalu sering bergerak-gerak. Gelisah. Resah. Cemas. Juga mengutukmu yang tak kunjung datang menemuiku. Hhhh...kepalaku sesak oleh tanya dan prasangka. Baju yang kukenakan telah basah oleh keringat sebesar-besar biji jagung yang deras bebas menerabas pori-pori tubuh. Gerah bukan karena cuaca yang sedang panas. Justru harusnya kita beruntung karena sore ini langit begitu bersahaja. Namun keberuntungan itu, kebersahajaan langit yang menangkup bumi tempat kita berpijak terpaksa tumpas dalam pertempuran panjang melawan gusar, juga kutukanku padamu.
Jika saja kau hadir sekarang, mungkin kita akan sama-sama menyaksikan senja terindah yang tak pernah tertangkap oleh mata selama ini. Bidadari cantik di penghujung hari yang sangat ramah. Bianglala mendesup celah dedaunan pada pohon randu di belakang bangku yang kita duduki. Dan mungkin pendarnya akan menempa kepala kita yang sudah hampir koyak oleh hidup yang membosankan. Biarkan. Ya, biarkan semua yang busuk dan koyak itu menguap, ikut terjalin angin dan jadilah ia satu lagi warna langit yang bergradasi. Menyemburat jingga-putih-biru-abu. Memulasnya.
Bukan hanya menyaksikan langit yang indah, kita pun akan bertukar kisah. Tak perlu indah, tak perlu nyata. Mungkin tentang mimpi-mimpi atau apapun. Milik kita atau orang lain yang tidak kita ketahui, asalkan kita bisa menemukan sesuatu yang kita pun tak harus tahu. Dan aku, aku akan menjaring kata-kata, menenun puisi, menyulam makna yang selama ini luput ditahbiskan. Makna dari segala yang lupa. Untukmu. Serupa persembahan awal pertemuan. Serupa jejak yang sengaja kutinggalkan agar suatu saat bisa kembali dicari.
Namun hingga detik ini pun kau tak kunjung tampak. Padahal matahari sudah tersuruk ke belakang pegunungan di ujung sana. Seakan ditenggelamkan ke dasar bumi. Yang tersisa sekarang adalah bait-bait obituari. Setelahnya rembulan menggantikan matahari bertahta di singgasana cakrawala, diseliri taburan gemintang berkilauan, mengedip-ngedip nakal, seolah berkompetisi siapa di antara mereka yang paling menggemaskan dan memberi gairah.
Tapi kemanakah kau, hingga malam ini semakin melarutkan pekat, kau tak tampak jua.
---------------------------------------------------
(.....sudah begitu lama saya tidak bercerita. semoga saya masih kemampuan dan kemauan juga kesempatan untuk menyambung nyawa bagi cerita ini....)
Oct 23, 2008
1
sentimen sore-sore
Sejak saya merasa tua, sejak saat itu pula saya berani nyeletuk "Bodoh!" pada saat melihat segerombol orang yang memakai kostum (kaos, jaket, jas, atau apapun) jalan beramai-ramai. Mungkin saya akan cukup bisa memaklumi jika perilaku berkostum sama ramai-ramai tersebut punya momen (setidaknya ada event tertentu). Tapi kalo cuma buat pamer.........o gosh.....how stupid they are.... Hanya untuk menunjukkan kalo mereka baru saja dibagi kaos/jaket kelompok/golongan? Hanya untuk menunjukkan kalo kaos/jaket itu melambangkan kedigdayaan golongan mereka? Bodoh. Bodoh.
Untuk hal ini mungkin saya sepakat dengan Umberto Eco. Aku berbicara lewat pakaianku. Hanya saja dengan makna yang penuh sentimen: karena pakaian itu hanya simbol kedangkalan berpikir mereka. Simbol tetaplah simbol. Soal interpretasi, saya rasa, sudah bukan lagi jadi ranah orang yang menciptakan simbol. Seperti pengarang yang sudah mati ketika karyanya dibaca (hehe......saya lupa siapa yang bilang).
Pintarlah sikit!!!! Ngapain kalian bayar kuliah mahal2 cuma dapet jaket doang??...............^^
------------------------------------------
(sekedar klarifikasi-karena itu berarti saya tidak mematikan kesadaran, meskipun ia datang cukup terlambat-...tulisan ini adalah tulisan paling sentimen yang pernah saya buat. saya sudah cukup kesal dengan pelaksanaan praktikum yang biayanya menguap entah kemana dan bagaimana, dan pulangnya, saya melihat kawan-kawan mahasiswa jurusan "J" fakultas "Kom" cekikikan dan bergaya sok "wart" jalan di depan saya......cuihhh!!! gomen ne...)
Untuk hal ini mungkin saya sepakat dengan Umberto Eco. Aku berbicara lewat pakaianku. Hanya saja dengan makna yang penuh sentimen: karena pakaian itu hanya simbol kedangkalan berpikir mereka. Simbol tetaplah simbol. Soal interpretasi, saya rasa, sudah bukan lagi jadi ranah orang yang menciptakan simbol. Seperti pengarang yang sudah mati ketika karyanya dibaca (hehe......saya lupa siapa yang bilang).
Pintarlah sikit!!!! Ngapain kalian bayar kuliah mahal2 cuma dapet jaket doang??...............^^
------------------------------------------
(sekedar klarifikasi-karena itu berarti saya tidak mematikan kesadaran, meskipun ia datang cukup terlambat-...tulisan ini adalah tulisan paling sentimen yang pernah saya buat. saya sudah cukup kesal dengan pelaksanaan praktikum yang biayanya menguap entah kemana dan bagaimana, dan pulangnya, saya melihat kawan-kawan mahasiswa jurusan "J" fakultas "Kom" cekikikan dan bergaya sok "wart" jalan di depan saya......cuihhh!!! gomen ne...)
Oct 19, 2008
0
bisakah?

“aku pun bertanya, bisakah kita berlindung pada senja yang tak memihak, pada malam sejenak, dan metamorfose?” GM-Berlin 1993
-------------------------
(tiba-tiba ingat pada satu malam di satu pantai,terbaring begitu saja,menghitung bintang-bintang)

