Saya jatuh cinta pada The Used dan Blue and Yellow sejak saya KKN beberapa bulan lalu. Melalui seorang teman yang sering ngomel karena laptopnya berminyak (kami, user, tepatnya peminjam, sering menggunakan laptopnya sambil makan bala-bala). Sebuah irama yang mengingatkan saya tentang sebuah ruang perjalanan. Sulit, tapi saya sangat menikmatinya. Bahkan saya selalu bersyukur tiap kali saya menyigi ingatan tentangnya. Saya selalu bangga tiap kali fragmen-fragmen masa itu bermunculan dalam kepala.
And it's all in how you mix the two,
And it starts just where the light exists.
It's a feeling that you cannot miss,
And it burns a hole,
through everyone that feels it.
Well your never gonna find it,
If your looking for it,
won't come your way,
Well you'll never find it,
if your looking for it.
Should've done something, but I've done it enough.
By the way, your hands were shaking,
Rather waste some time with you.
And you never would have thought in the end,
How amazing it feels just to live again,
It's a feeling that you cannot miss,
it burns a hole, through everyone that feels it
Well you're never gonna find it,
If your looking for it, won't come your way, yea
Well you'll never find it, if you're looking for it.
Should've done something, but I've done it enough.
By the way, your hands were shaking.
Rather waste some time with you.
Should've said something, but I've said it enough.
By the way, my words were faded.
Rather waste some time with you.
Nov 8, 2008
0
Nov 5, 2008
0
ia sering (men)tertawa(kan saya)
Akhir-akhir ini saya sering mendengar ibu tertawa. Sangat sering. Ibu menertawakan saya. Ia menertawakan langkah-langkah serius yang mulai saya pilih. Ia selalu tertawa ketika saya mulai bicara serius tentang hidup. Dan pada saat itu, saya jadi blingsatan. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat ibu tetap bersikap wajar? Biasanya saya mengalihkan topik pembicaraan. Menanyakan sedang apa adik saya yang paling kecil, atau menanyakan kesehatan kakek dan neneto, atau apa saja yang setidaknya membuat saya kembali menemukan posisi ‘aman’ saya sebagai anaknya yang manja.
Tapi mungkin saya sedikit mengerti. Tawanya yang renyah serupa ucapan: “Adieu anakku tersayang, ibu menyayangimu, benarkah akan kau lakukan itu?”
Ragukah ia pada kemampuan anaknya? Mungkin tidak. Mungkin ia yakin, dan hendak meyakinkan diri dengan tawanya. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa anaknya yang pernah glendotan manja di pangkuannya telah beranjak dewasa (sedikit). Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar membesarkan anaknya dengan cara yang benar. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa jika saatnya tiba, ia benar-benar siap melepas anaknya mencari penghidupan sendiri. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bersama dengan anaknya. Ya, mungkin, karena itu hanya spekulasi seorang anak manja bernama Adieu yang selalu GR dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Tawa ibu kembali terdengar. Nyaring di kuping.
Mama, mama, you know i love you...
Mama,mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the star
Mama, i just want you to know
Loving you is like food to my soul...
(Boyz II Men, A Song For Mama)
Bu, seandainya bisa, Adieu ingin selamanya jadi anakmu yang manja. Jangan tertawa seperti itu lagi. Tersenyum saja. Itu pun cukup.
Tapi mungkin saya sedikit mengerti. Tawanya yang renyah serupa ucapan: “Adieu anakku tersayang, ibu menyayangimu, benarkah akan kau lakukan itu?”
Ragukah ia pada kemampuan anaknya? Mungkin tidak. Mungkin ia yakin, dan hendak meyakinkan diri dengan tawanya. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa anaknya yang pernah glendotan manja di pangkuannya telah beranjak dewasa (sedikit). Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar membesarkan anaknya dengan cara yang benar. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa jika saatnya tiba, ia benar-benar siap melepas anaknya mencari penghidupan sendiri. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bersama dengan anaknya. Ya, mungkin, karena itu hanya spekulasi seorang anak manja bernama Adieu yang selalu GR dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Tawa ibu kembali terdengar. Nyaring di kuping.
Mama, mama, you know i love you...
Mama,mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the star
Mama, i just want you to know
Loving you is like food to my soul...
(Boyz II Men, A Song For Mama)
Bu, seandainya bisa, Adieu ingin selamanya jadi anakmu yang manja. Jangan tertawa seperti itu lagi. Tersenyum saja. Itu pun cukup.
Nov 2, 2008
0
bukan kematian itu benar...
Saya ingin menyertakan salah satu tulisan yang saya dapatkan dari Catatan Pinggir II Goenawan Mohamad. Selain karena saya memang terlalu menyukai penulisnya, saya rasa, tulisan tentang kematian yang dibuatnya tersebut sedikit menjiwai dan menjadi salah satu dari serangkaian nada dari sebuah elegi kematian Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas. Tiga orang yang kematiannya menjadi keresahan tersendiri bagi banyak orang. Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saat mantan presiden Indonesia kedua, Soeharto, menjelang kematiannya, seperti itu pula ketiga orang tadi diperlakukan menjelang eksekusinya.
------------------------------
Bukan Kematian Itu Benar...
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Chairil Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mengingatnya untuk seorang Kusni Kasdut. Sebab memang bukan kematian itu benar menusuk kalbu. Tapi kenyataan, bahwa yang matai hanya pasrah, dan maut datang sebagai manifestasi kekuasaan. Dalam hal si nenek tua, kekuasaan itu agaknya langsung dari Tuhan. Dalam hal Kusni, kekuasaan yang hadir adalah negara. Begitu tinggi, begitu bertahta, begitu singkat merampat. Yang mati butir debu. Duka itu pun rata dengan tanah.
Masalah hukuman mati, dengan demikian, selalu menyentuh sebuah akar yang tertanam dalam -sejenis akar relijius dalam kehadiran kita. Mungkin Chairil Anwar seakan hendak memprotes Tuhan ketika ia menyaksikan kematian neneknya. Tapi ia toh tak bisa mengingkari-Nya. Mungkin kita juga ingin menggugat kesana-kemari, melihat jam-jam terakhir Kusni Kasdut yang tak bisa ia elakkan. Tapi pada akhirnya kita toh berbicara tentang batas-batas manusia dan kekuasaannya.
Orang yang mati tak akan pernah kembali. Jurang antara tiang tiang si terhukum ditembak dengan alam sesudahnya adalah jurang yang mutlak. Bahaya terbesar dari hukuman mati ialah bila kita, dalam ikhtiar keadilan itu, tercerabut dari "akar relijius" kita. Artinya, kita tak lagi bertanya atas dasar apa seseorang, atau sekelompok orang, mendapatkan kekuasaan yang begitu besar hingga "setinggi itu atas debu dan duka" mereka bertahta.
Jangan salah paham. Sekelompok orang bisa mengirimkanh algojo atas nama Tuhan. Tapi pada saat itu barangkali mereka menyekutukan diri dengan Yang Mahakuasa itu, dan di sini kita sesungguhnya tak bisa lagi bicara tentang suatu akar yang apa pun berarti, kecuali kepongahan. Sebab kita tidak lagi bersedia mengakui ketidakmampuan kita untuk seperti Dia: mengabsolutkan keputusan-keputusan dan juga memberikan ampunan.
Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu.
Barangkali di situlah terasa kaum abolisionis, yang gigih menentang hukuma mati atas segala macam kejahatan, terasa sama kurang memuaskannya dengan kaum legalis. Mereka hendak menunjukkan bahwa keputusan manusia bisa salah dan tidak mutlak. Betapa benarnya. Tapi kematian barangkali tak dilihat sebagai jalan ke arah hukum yang lebih adil. Tubuh yang ditembak itu barangkali hanya dipandang sebagai tubuh yang kehilangan hak.
Tapi memang bukan hukuman mati itu benar yang menusuk kalbu, dan kaum abolisionis juga pada dasarnya berbicara tentang keadilan. Yang kadang tak disadari ialah bahwa keadilan adalah satu hal, perasaan iba adalah hal lain. Keduanya bisa bertemu di satu titik, tapi bisa juga berlawanan.
Ataukah kita harus bicara soal aturan peradaban yang mutakhir? Tapi agaknya keperluan kita kini akan peradaban bukanlah hapusnya hukuman mati untuk perikemanusiaan atau terusnya hukuman mati untuk menangkal kejahatan. Keperluan kita akan peradaban nampaknya lebih elementer: sebuah peradilan yang bersih dan terang; sebuah penjara yang lebih baik ketimbang tiang gantungan.
15 Januari 1980
------------------------------
Bukan Kematian Itu Benar...
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Chairil Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mengingatnya untuk seorang Kusni Kasdut. Sebab memang bukan kematian itu benar menusuk kalbu. Tapi kenyataan, bahwa yang matai hanya pasrah, dan maut datang sebagai manifestasi kekuasaan. Dalam hal si nenek tua, kekuasaan itu agaknya langsung dari Tuhan. Dalam hal Kusni, kekuasaan yang hadir adalah negara. Begitu tinggi, begitu bertahta, begitu singkat merampat. Yang mati butir debu. Duka itu pun rata dengan tanah.
Masalah hukuman mati, dengan demikian, selalu menyentuh sebuah akar yang tertanam dalam -sejenis akar relijius dalam kehadiran kita. Mungkin Chairil Anwar seakan hendak memprotes Tuhan ketika ia menyaksikan kematian neneknya. Tapi ia toh tak bisa mengingkari-Nya. Mungkin kita juga ingin menggugat kesana-kemari, melihat jam-jam terakhir Kusni Kasdut yang tak bisa ia elakkan. Tapi pada akhirnya kita toh berbicara tentang batas-batas manusia dan kekuasaannya.
Orang yang mati tak akan pernah kembali. Jurang antara tiang tiang si terhukum ditembak dengan alam sesudahnya adalah jurang yang mutlak. Bahaya terbesar dari hukuman mati ialah bila kita, dalam ikhtiar keadilan itu, tercerabut dari "akar relijius" kita. Artinya, kita tak lagi bertanya atas dasar apa seseorang, atau sekelompok orang, mendapatkan kekuasaan yang begitu besar hingga "setinggi itu atas debu dan duka" mereka bertahta.
Jangan salah paham. Sekelompok orang bisa mengirimkanh algojo atas nama Tuhan. Tapi pada saat itu barangkali mereka menyekutukan diri dengan Yang Mahakuasa itu, dan di sini kita sesungguhnya tak bisa lagi bicara tentang suatu akar yang apa pun berarti, kecuali kepongahan. Sebab kita tidak lagi bersedia mengakui ketidakmampuan kita untuk seperti Dia: mengabsolutkan keputusan-keputusan dan juga memberikan ampunan.
Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu.
Barangkali di situlah terasa kaum abolisionis, yang gigih menentang hukuma mati atas segala macam kejahatan, terasa sama kurang memuaskannya dengan kaum legalis. Mereka hendak menunjukkan bahwa keputusan manusia bisa salah dan tidak mutlak. Betapa benarnya. Tapi kematian barangkali tak dilihat sebagai jalan ke arah hukum yang lebih adil. Tubuh yang ditembak itu barangkali hanya dipandang sebagai tubuh yang kehilangan hak.
Tapi memang bukan hukuman mati itu benar yang menusuk kalbu, dan kaum abolisionis juga pada dasarnya berbicara tentang keadilan. Yang kadang tak disadari ialah bahwa keadilan adalah satu hal, perasaan iba adalah hal lain. Keduanya bisa bertemu di satu titik, tapi bisa juga berlawanan.
Ataukah kita harus bicara soal aturan peradaban yang mutakhir? Tapi agaknya keperluan kita kini akan peradaban bukanlah hapusnya hukuman mati untuk perikemanusiaan atau terusnya hukuman mati untuk menangkal kejahatan. Keperluan kita akan peradaban nampaknya lebih elementer: sebuah peradilan yang bersih dan terang; sebuah penjara yang lebih baik ketimbang tiang gantungan.
15 Januari 1980
kenapa orang tua punya kelebihan?
Kenapa orang tua punya kelebihan? Karena mereka punya kesalahan yang kita tak punya.
~ Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad
GM, saya mau menambahkan. Kenapa orang tua punya kelebihan? Karena mereka pun memiliki kebaikan yang tidak kita punya. Juga, seperti yang dikatakan seorang kawan, karena orang tua telah melewati waktu yang lebih banyak dibanding kita. Itu artinya, waktu mereka untuk belajar dan menghayati hidup pun lebih lama.
~ Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad
GM, saya mau menambahkan. Kenapa orang tua punya kelebihan? Karena mereka pun memiliki kebaikan yang tidak kita punya. Juga, seperti yang dikatakan seorang kawan, karena orang tua telah melewati waktu yang lebih banyak dibanding kita. Itu artinya, waktu mereka untuk belajar dan menghayati hidup pun lebih lama.

