...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

kadang saya iri, tapi saya masih tetap jadi orang yang beruntung

Tadi saya melihat seorang perempuan, jalan sejajar dengan seorang laki-laki paruh baya di jalanan kampus. Yang perempuan memakai kerudung. Rapi. Yang laki-laki, rambutnya mulai memutih, perawakannya tinggi dan sedikit besar. Ia memakai jaket dan celana bahan hitam.

Tampaknya ada pembicaraan yang cukup menyenangkan di antara mereka. Saya melihat keduanya tertawa, meski tawa yang sederhana. Dan yang paling membuat saya gatal berkomentar adalah ketika tangan perempuan itu menggandeng laki-laki --yang saya kira memiliki usia yang jauh berbeda dengannya. Mereka begitu dekat.

"Cep, seumur-umur saya sadar, saya ngga pernah bersentuhan dengan Bapak saya sedekat itu. Saya ngga pernah sengaja megang tangan Bapak kecuali waktu salaman dan cium tangan doang." Tangan saya menunjuk ke dua orang yang saat itu sedang jadi objek perhatian saya.

Kawan saya senyum. Sebelum ia memberi respon, saya sudah kembali berbicara.

"Beneran. Saya dan Bapak saya seolah menjaga jarak. Gengsi kami sama-sama gede."

Reaksi kawan saya masih sama seperti tadi.

"Mungkin Bapak tidak ingin memposisikan diri sebagai orang yang memanjakan anaknya. Dan yang pasti saya juga kayaknya agak geli kalau tiba-tiba saya menemukan sosok Bapak yang seperti itu. Pikiran saya pasti bakal kemana-mana. Aduuh...ngga deh. Lagian, saya merasa tanpa perlakuan seperti itu pun, hak-hak saya sebagai seorang anak sudah cukup terpenuhi, dan saya bahagia dengan itu semua."

Kawan saya sepertinya sedang bermasyuk dengan lagu yang hanya ia dengar sendiri, seperti saya yang juga asyik berkomentar tentang apa yang saya lihat. Dan seorang laki-laki muda, sepertinya seorang mahasiswa, menyalip saya dan kawan saya.

"Jadi, kita mau makan apa?", kawan saya mengingatkan.

"Apa aja deh, yang penting asin dan anget."
-------------------------------------------------
Tambahan: Tanpa perlakuan seperti itu pun, saya sudah beruntung dilahirkan sebagai anak dari Bapak saya. Tanpa perlakuan seperti itu pun, saya sudah kebingungan untuk membalas semua kebaikan yang tak henti Bapak berikan lewat sikapnya yang tegas dan tak banyak bicara.

0 comments:

Post a Comment