Media tahu kapan saat yang tepat untuk meraih pasar, meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Lihat saja tv-tv. Sinetron reliji seperti jamur di musim hujan. Seperti tai kuku di kuku saya yang belum dipotong. Apalagi setelah film besutan Hanung Bramantio, yang diambil dari salah satu novel best seller Kang Abik laris di pasaran, semakin membuka peluang bagi para pelaku hiburan. Ternyata, ‘agama’ merupakan lahan basah yang akan menghasilkan laba berlimpah. Selamat datang alternatif baru hiburan Indonesia! Selamat bergabung dengan dunia yang sesak persaingan!
Dan yang paling penting, dalam hitungan jari, beberapa hari lagi, umat Islam akan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Bulan yang sakral. Bulan yang disucikan. Bukan hanya oleh mereka yang mengerti makna yang dibawanya, namun juga bagi mereka yang tahu bahwa bulan tersebut adalah momen yang tepat untuk ‘berdagang’. Ranah agama menjadi komoditas baru yang layak jual, konsumennya akan banyak. Masyarakat seperti benda sulap. Simsalabim….semua bisa berubah seketika.
Marx pernah bilang, sebuah tragedi ketika berulang seolah akan menjadi banyolan. Parodic performance. Fenomana yang datang berulang dan selalu sama punya peluang yang besar untuk kehilangan makna. Menjadi ritus. Yang sakral pada suatu titik akan jadi profan. Yang indah suatu saat bisa menjebak.
Semoga hal itu tidak terjadi saat ini, Ramadhan kali ini.


0 comments:
Post a Comment