...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

reobjurgasi samakah dengan balik mencerca :D

ini hanya tanggapan dari tulisan luar biasa kawan saya, yuni (silakan klik di sini)
--------------------------------------

maksudnya "hal" apa ya, yu? bingung saya.

itulah kenapa akhirnya tidak perlu ditanya sastra mana maksud saya. jujur sebelum menulis itu, saya menyempatkan diri untuk mencari definisi objek yang akan saya tulis.

dan yuni yang saya sayangi karena Allaah, yu perlu tahu bahwa saya menuliskan apa yang pernah saya alami, particularly pengalaman saya saat bersentuhan sedikit dengan sastra dan para pengusung ke-bebas-an. memang lancang, ini saya akui. bahwa saya yang hanya bersentuhan sedikit saja dengan sastra telah begitu songong membicarakan sastra, -dan bukan hanya itu- bahkan mencercanya. namun -lagi-lagi saya melakukan pembenaran- pengalaman saya yang awam dengan sastra telah membuat saya bersikap seperti itu. saya tidak alergi dengan sastra dan hingga detik ini, kalau saya sempat, saya masih membaca beberapa karya. saya juga tidak alergi dengan kawan-kawan sastra. beberapa partner saya banyak yang kuliah di fakultas sastra and it's nice, indeed, as well as my other partners from other departments. it's not a matter for me at all. yang membuat saya alergi adalah superioritas yang sekonyong-konyong terbit saat dalam diri seseorang tersemat 'pemahaman sastra' (dan ini yang biasanya dapati dari kawan-kawan sastra -yang merekapun ternyata peroleh dari dosen-dosennya). sekonyong-konyong sastra menjadi satu-satunya jalan muncul dan berkembangnya kepekaan. padahal, bagi saya yang awam ini, bukan itu yang menjadi sumber kepekaan. bukan sastra. karena sastra adalah produknya. serupa bunga yang bisa indah, bisa menjadi sumber kebahagiaan berbahaya, bisa meracuni, bisa melukai, dan lain-lain.

saya sepakat dengan yu. pada dasarnya semua kembali pada diri kita sendiri, tepatnya pada pemahaman, pada keyakinan yang melahirkan pemahaman serta tindakan-tindakan kita. namun sayangnya, saya tidak sepakat bahwa kita menghadapinya dengan biasa saja. karena buat saya, tidak ada yang bebas nilai yang menyebabkan kita (saya maksudnya) merasa perlu menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, sebagai sesuatu yang c'est la vie. tidak ada yang bebas nilai dalam penyikapan bagi seorang manusia. manusia tak kekal, sebagaimana kehidupan, sebagaimana segala yang melingkupi kita. apa yang kita 'biasa'kan, bisa jadi tak akan pernah 'biasa' di mata Allaah SWT, pencipta dan pengatur kita.

segala sesuatu memang berawal dari wacana, saya percaya. tapi bukan berarti akhirnya hanya wacana yang membuat seseorang atau banyak orang sibuk lantas lupa bahwa dengan wacana itulah perubahan semestinya diantarkan.

adapan tentang "jijik", beberapa kalimat terakhir dari paragraf sebelum inilah yang bikin saya "jijik". saya tetap tak bisa bersikap "biasa" saat mendapati siapapun yang merasa dengan sastra ia menjadi "bebas", merasa perlu membongkar tatanan yang mapan, dan -in the edge- merasa digdaya saat menggugat agama dan tuhan. ini yang "menjijikkan" dan tak bisa saya tanggapi dengan ke-'biasa'-an.

sejauh ini baru itu yang bisa saya jadikan tanggapan. dan saya sadar bahwa tanggapan ini kurang dimengerti karena struktur dan alurnya yang melompat-lompat (bahkan melompat terlalu jauh sehingga tidak nyambung). makanya saya bilang menulislah dengan ilmu, karena saya merasa ilmu saya kurang waktu menulis. lebih dari itu, pesan dari seorang tua ini kepada siapapun yang merasa muda, menulislah dengan pemahaman. ini juga yang sedang saya tanam dalam-dalam sebagai orang awam yang sering menulis untuk mencurahkan isi 'hati' minim 'kepala'. pembenaran saya untuk hal ini adalah bahwa menulis adalah memberi jeda dan menikmatinya untuk kembali bersegera, bukan malah menjadi celah melegitimasi sebuah pelanggaran aturan. (semoga Allaah mengampuni saya atas pelanggaran yang pernah atau sedang saya lakukan, sengaja atau tidak)

tulisan saya "objurgasi" itu adalah tulisan yang menggambarkan 'fase' saya dalam menyikapi sastra yang pernah ada di dua kutub yang vis a vis satu sama lain di waktu yang berbeda. "pernah" ya, yu, bukan sedang. nampaknya 'kepernahan' itu memang terlampau ekstrim. dan saya bersyukur saya bertemu hari jumat, hari bertemunya saya dengan guru saya. saya 200% yakin pengalaman yu yang sastrawati (secara akademis maupun praktis) jauh lebih kaya ketimbang saya. thus, yu lebih mampu menyikapinya dengan tepat daripada saya.

ya, semoga Allaah SWT memudahkan urusan kita dalam kebaikan.

O Allaah help me to see the truth as TRUTH and give me the strength to follow it, and O Allaah help me to see falsehood as FALSE and give me strength to abstain from it.



tambahan: tanaman yang saya suka itu merupakan golongan gulma-gulmaan, yu. namanya semanggi. bisa ditemukan dimana saja, karena memang tanamannya 'nyampah'.

tetradio schediou

kami pernah bolak-balik mengitari satu deretan rak stationery di sebuah toko buku diskon di jalan supratman bandung. buat saya, tempat itu adalah salah satu tempat mampir yang menyenangkan di bandung. hommy. dulu ada tobucil di kgu, sekarang sudah hijrah dan saya tak kunjung sempat melongok ke pojokan barunya.

saya sempat bilang ke nenek waktu itu untuk tidak usah jadi membeli buku catatan apapun, setelah nenek bolak-balik menanyakan mana yang lebih 'nenek' dari buku-buku catatan yang sedari tadi dipilihnya. lagi-lagi saya mengeluarkan jurus efisiensi dan ekonomi. saya bilang, dengan harga yang tertera di bandrol, nenek bisa membuat catatan sendiri dari kertas-kertas bekas, bisa membuat cover sekehendak hati, setebal apapun dengan ring besi yang apik. nenek menuruti saya waktu itu. tumben.

sebetulnya saya sedikit tertarik dengan skecth book mungil (ukuran a5) yang terpampang di rak bawah. kebanyakan buku catatan lain bergaris isinya. serasa tidak bebas mencoret-coret. saya tidak suka, padahal covernya so much mesmerize (japanese style). apa boleh buat. lagian saya merasa saya belum terlalu butuh. beberapa lembar isi binder saya masih nganggur.

namun, tanpa sepengetahuan nenek, suatu sore beberapa pekan berikutnya, saya kembali ke toko itu. dan jreeeeeeng... sketch book itu saya gondol setelah mengitari seluruh penjuru toko dengan penuh gaya sambil menyimak james blunt, setelah menukarnya dengan tiga lembar lima ribuan. wuff... i got alive. do you know why i suddenly felt important to buy the book? it is because i need a place and a space to rearrange anything scattered in my life. i need something different. it's so called the way to refresh such a gloomy mind.

sedikit coretan dan tempelan saya kira akan membuat saya benar-benar memfungsikan catatan saya yang baru, membuat saya percaya dan betah untuk bercerita banyak tentang rencana-rencana, tentang mimpi-mimpi, tentang bilyunan pengingat, tentang kelumit perasaan, serta muntahan pengalaman dalam hidup saya. and so far, i feel so much comfort to be with my new notes (saya belum menyematkan nama untuk barang saya yang satu itu, ada ide?).



saya malam-malam, di antara semangat yang meletup-letup untuk menunaikan harapan orang tua serta kesedihan mendalam atas raibnya egi (sandal gunung pengganti bugi terkasih)

walk around

objurgation

saya pernah begitu senang menyambangi sebuah perpustakaan mungil yang bertahan hidup di sela rangkak kota kecil itu menjadi mezopolitan. sudah bisa dipastikan, dengan jarak tempat kos yang agak jauh dari kampus, saya mampir ke sana nyaris tiap hari.

logika ekonomi adam smith pun mendominasi relung kepala saya kala itu. dapatkan untung sebesar-besarnya dengan modal paling minim. saya merasa rugi mengeluarkan satu lembar uang dengan hanya nominal seribu rupiah untuk naik angkutan. saya lebih merasa lapang saat nominal uang itu raib di tukang koran. atau lebih senang saat ia masih tetap nangkring di saku pakaian yang saya kenakan. tak apa saya terima resikonya: jalan kaki menantang terik matahari yang sering tak beri ampun. dan keuntungan lain adalah saya bisa bertandang dan baca buku cuma-cuma. tanpa harus mengeluarkan pula beberapa ribu untuk bayar sewa. saya pikir mencicil baca tiap hari satu jam di tempat, itu lebih dari cukup untuk menunaikan keranjingan saya pada pram.

dan karena perbuatan itu pula saya pun terpengaruh oleh ceramah laten sang paman (yang empunya perpustakaan). saya menjadi salah satu di antara kamerad pembela sastra dan pencemooh berbagai macam training dan pelatihan manajemen diri. bagi saya kala itu, para penyuka buku-buku 'manajemen' (yang juga penyepele sastra) adalah orang paling bodoh di dunia. saya juga tengah begitu merasa menghayati dendam revolusi industri waktu itu. merasa perlu selalu waspada dengan 'manajemen' atau penyeragaman apapun yang berkedok keteraturan. saya pun merasa ada di titik paling keren yang pernah saya lalui selama saya mengalami kesempurnaan proses berpikir.

namun hal ini pula yang membuat saya pernah berbalik dengan gaya yang paling ekstrim. i hate literature most. it's a kinda disease that need to be destroyed for those who admit his self as a muslim. beberapa kutipan hadits yang saya temukan dari catatan nenek: "lebih baik perut seseorang itu dipenuhi nanah yang bisa merusakkan tubuhnya daripada dipenuhi syair yaitu puisi" (bukhari) dan "rasul memprihatinkan umatnya enam hal... 6) mengutamakan orang yang bukan ahli hukum bukan pula paling berjasa, tapi hanya berselera sastra" (ahmad)-- begitu membuat saya terpuruk. sebagai orang yang pernah merasa begitu terkutuk karena pernah memberangus keyakinan yang ditanam dalam-dalam oleh ibu dan bapak sejak saya masih dalam kandungan, saya merasa harus mensucikan diri benar-benar. dosa saya terlalu berlimpah, melebihi wedus gembel yang muntah dari rahim merapi beberapa waktu lalu. saya merasa perlu betul untuk menghindari segala yang memiliki peluang menjauhkan diri dari keyakinan yang mesti disucikan ini. keyakinan yang, dalam klaim saya, saya dapatkan kembali setelah babak belur berkurusetra dengan keraguan, pertanyaan, skeptisisme, bahkan pengingkaran. termasuk sastra. maka terkutuklah sastra bagi saya.

sejak itu, saya memasang radar tinggi-tinggi, sebagai pencegah agar saya tidak lekat-lekat dengan bacaan 'berlampu kuning'. dampaknya, saya pun sedikit sinis dengan fakultas sastra di kampus, sinis pula pada dosen-dosennya yang menurut saya terlampau hipokrit dengan pemikiran yang menggelantung-gelantung seperti monyet dalam belantara kepalanya. mereka pandai mencela, merasa ada di level paling tinggi intelektualitas dan kesadaran, namun sayang hanya wacana. ya, sastra buat saya hanya ide yang mentok di wacana. jangan diragukan soal berbagai jenis artileri analisis fakta yang mereka miliki. atas nama kebebasan, artileri mereka begitu digdaya dan gigantik. seperti pasukan elit nazi pada masanya. tapi kopong seperti tahu sumedang. kopong seperti snack tenggiri yang satu ons-nya diberi harga lima ribuan. kopong karena keilmuan mereka tak pernah mampu menjejak dalam realita. tak pernah punya imbas apapun untuk menyelesaikan permasalahan. seperti saya bilang sebelumnya. gagah, tapi mentok di wacana dan hipokrisi, tapi impoten saat penanda bertemu petanda. masyarakat tetap lapar sementara mereka jungkir balik mendiskusikan postmodernisme. orang tetap menganggur sementara mereka menjilat-jilat dahak derrida. banyak orang pun masih tak mampu memperoleh akses memperoleh pendidikan sementara mereka hampir habis suara karena berkoar soal orientalisme dan humanisme. mereka seolah menerima segalanya namun nyatanya menolak segala. mereka seolah anti dengan hegemoni kapitalisme, namun nyatanya menjaga baik-baik paham cacat itu. apa itu namanya kalau bukan hipokrit? sick of it all. i hate literature because it teaches us how to fly higher and higher away from the earth. it teaches us how to be an ascetic, to be a brave youth namely icarus whom exactly would be fallen because he will never be able to be closer to the sun with his crumbly wings. moreover, no literature in islam.

hingga tiba saatnya di dalam sebuah angkot, bersama guru saya hari jumat pekan lalu. ia menyadarkan bahwa saya memang benar-benar ekstrim. meludahi sastra begitu saja. sekedar pembenaran: hadist dari catatan nenek yang saya baca benar-benar mensuasanai pengalaman saya yang begitu traumatis. saya alergi. tapi alergi saya mesti didekonstruksi. dan ia, guru saya, akhirnya benar-benar membuat saya mengerti bahwa islam tidak pernah menganolir estetika dan keindahan, pun seperti yang disuguhkan oleh seni dan sastra. dan pastinya seni dan sastra adalah produk sebuah peradaban yang tinggi, konsumsi masyarakat yang mapan, yang luhur. kata guru saya, "jadi wajar -terlepas dari konten dan substansi- orang kebanyakan (terutama masyarakat awam) di negara dunia ketiga lebih memilih beli gehu dibanding beli novel." ia mencontohkan kekhilafahan abbasiyah, yang menjadi masa keemasan dibidaninya ilmu pengetahuan, dan kesusastraan. maka pada masa itu lahir abu ‘uthman ‘umar bin bahr al- jahiz, lahir badi’ al- zaman al-hamadhani. dan jauh setelahnya ditemukan qasidah burdah, serangkain syair puitis yang memuja kenabian Rasulullaah SAW. dan masih banyak lagi -yang tidak saya tahu.

tapi, saya kira tindakan saya tak salah-salah amat (membela diri lagi). saya kira saya masih berhak mencaci dan merasa jijik. karena keindahan serta estetika yang bisa dihadirkan dalam seni maupun sastra tak mesti 'berlendir', seperti yang sering saya temui dalam kebanyakan sastra kekinian. seniman cerdas tak harus menampilkan ketelanjangan dalam karya-karyanya, tak mesti melamun. dan yang pasti, tak mesti memisahkan diri dari realitas juga kewajiban untuk mengembalikan realitas yang buruk pada kondisi ideal dan alami sebagaimana mestinya. terlebih lagi bagi muslim, bidang apapun yang didalaminya, kewajibannya untuk tidak memutus kepedulian terhadap kehidupan -menyampaikan yang benar dan memberangus yang keliru-, tidak akan pernah sirna. di pundaknya kewajiban itu selalu minta ditunaikan sebagai timbal balik atas keyakinan bulat yang ditatahnya dalam-dalam sebagai orang beriman.


-----
ini tulisan kedua paling sinis yang pernah saya buat setelah mencaci maki segerombolan mahasiswa jurusan 'kewartawanan' yang juga merasa melayang beberapa derajat hanya karena jaket biru muda bergaris putih ganda yang mereka kenakan ramai-ramai (karena baru dibagi). sadar woi! netralitas dan objektivitas jurnalisme itu -maaf- tai. teori-teori itu harus menamatkan riwayat mereka hanya di buku-buku, di diktat-diktat, di kursi-kursi, di papan-papan tulis, dan di lembar-lembar ijazah.

meskipun begitu, jangan pernah batasi wawasan. dan jangan pernah lupa bahwa pelajaran berharga tentang hidup bisa diperoleh dari mana saja, bahkan dari pantat luwak sekalipun :D.

saya suka hari jumat. karena hari saya bertemu guru saya yang super mega dahsyat 2010 :D. karena hari ini pula saya mencemplungkan diri pada telaga ilmu. hari ini pula saya sering sumringah karena memperoleh pencerahan tentang pemahaman yang masih berkabut.

sampai detik ini, saya masih kesulitan mencerna buku motivasi.

berbicaralah dengan ilmu... :D jangan kayak saya.