...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

walk around

objurgation

saya pernah begitu senang menyambangi sebuah perpustakaan mungil yang bertahan hidup di sela rangkak kota kecil itu menjadi mezopolitan. sudah bisa dipastikan, dengan jarak tempat kos yang agak jauh dari kampus, saya mampir ke sana nyaris tiap hari.

logika ekonomi adam smith pun mendominasi relung kepala saya kala itu. dapatkan untung sebesar-besarnya dengan modal paling minim. saya merasa rugi mengeluarkan satu lembar uang dengan hanya nominal seribu rupiah untuk naik angkutan. saya lebih merasa lapang saat nominal uang itu raib di tukang koran. atau lebih senang saat ia masih tetap nangkring di saku pakaian yang saya kenakan. tak apa saya terima resikonya: jalan kaki menantang terik matahari yang sering tak beri ampun. dan keuntungan lain adalah saya bisa bertandang dan baca buku cuma-cuma. tanpa harus mengeluarkan pula beberapa ribu untuk bayar sewa. saya pikir mencicil baca tiap hari satu jam di tempat, itu lebih dari cukup untuk menunaikan keranjingan saya pada pram.

dan karena perbuatan itu pula saya pun terpengaruh oleh ceramah laten sang paman (yang empunya perpustakaan). saya menjadi salah satu di antara kamerad pembela sastra dan pencemooh berbagai macam training dan pelatihan manajemen diri. bagi saya kala itu, para penyuka buku-buku 'manajemen' (yang juga penyepele sastra) adalah orang paling bodoh di dunia. saya juga tengah begitu merasa menghayati dendam revolusi industri waktu itu. merasa perlu selalu waspada dengan 'manajemen' atau penyeragaman apapun yang berkedok keteraturan. saya pun merasa ada di titik paling keren yang pernah saya lalui selama saya mengalami kesempurnaan proses berpikir.

namun hal ini pula yang membuat saya pernah berbalik dengan gaya yang paling ekstrim. i hate literature most. it's a kinda disease that need to be destroyed for those who admit his self as a muslim. beberapa kutipan hadits yang saya temukan dari catatan nenek: "lebih baik perut seseorang itu dipenuhi nanah yang bisa merusakkan tubuhnya daripada dipenuhi syair yaitu puisi" (bukhari) dan "rasul memprihatinkan umatnya enam hal... 6) mengutamakan orang yang bukan ahli hukum bukan pula paling berjasa, tapi hanya berselera sastra" (ahmad)-- begitu membuat saya terpuruk. sebagai orang yang pernah merasa begitu terkutuk karena pernah memberangus keyakinan yang ditanam dalam-dalam oleh ibu dan bapak sejak saya masih dalam kandungan, saya merasa harus mensucikan diri benar-benar. dosa saya terlalu berlimpah, melebihi wedus gembel yang muntah dari rahim merapi beberapa waktu lalu. saya merasa perlu betul untuk menghindari segala yang memiliki peluang menjauhkan diri dari keyakinan yang mesti disucikan ini. keyakinan yang, dalam klaim saya, saya dapatkan kembali setelah babak belur berkurusetra dengan keraguan, pertanyaan, skeptisisme, bahkan pengingkaran. termasuk sastra. maka terkutuklah sastra bagi saya.

sejak itu, saya memasang radar tinggi-tinggi, sebagai pencegah agar saya tidak lekat-lekat dengan bacaan 'berlampu kuning'. dampaknya, saya pun sedikit sinis dengan fakultas sastra di kampus, sinis pula pada dosen-dosennya yang menurut saya terlampau hipokrit dengan pemikiran yang menggelantung-gelantung seperti monyet dalam belantara kepalanya. mereka pandai mencela, merasa ada di level paling tinggi intelektualitas dan kesadaran, namun sayang hanya wacana. ya, sastra buat saya hanya ide yang mentok di wacana. jangan diragukan soal berbagai jenis artileri analisis fakta yang mereka miliki. atas nama kebebasan, artileri mereka begitu digdaya dan gigantik. seperti pasukan elit nazi pada masanya. tapi kopong seperti tahu sumedang. kopong seperti snack tenggiri yang satu ons-nya diberi harga lima ribuan. kopong karena keilmuan mereka tak pernah mampu menjejak dalam realita. tak pernah punya imbas apapun untuk menyelesaikan permasalahan. seperti saya bilang sebelumnya. gagah, tapi mentok di wacana dan hipokrisi, tapi impoten saat penanda bertemu petanda. masyarakat tetap lapar sementara mereka jungkir balik mendiskusikan postmodernisme. orang tetap menganggur sementara mereka menjilat-jilat dahak derrida. banyak orang pun masih tak mampu memperoleh akses memperoleh pendidikan sementara mereka hampir habis suara karena berkoar soal orientalisme dan humanisme. mereka seolah menerima segalanya namun nyatanya menolak segala. mereka seolah anti dengan hegemoni kapitalisme, namun nyatanya menjaga baik-baik paham cacat itu. apa itu namanya kalau bukan hipokrit? sick of it all. i hate literature because it teaches us how to fly higher and higher away from the earth. it teaches us how to be an ascetic, to be a brave youth namely icarus whom exactly would be fallen because he will never be able to be closer to the sun with his crumbly wings. moreover, no literature in islam.

hingga tiba saatnya di dalam sebuah angkot, bersama guru saya hari jumat pekan lalu. ia menyadarkan bahwa saya memang benar-benar ekstrim. meludahi sastra begitu saja. sekedar pembenaran: hadist dari catatan nenek yang saya baca benar-benar mensuasanai pengalaman saya yang begitu traumatis. saya alergi. tapi alergi saya mesti didekonstruksi. dan ia, guru saya, akhirnya benar-benar membuat saya mengerti bahwa islam tidak pernah menganolir estetika dan keindahan, pun seperti yang disuguhkan oleh seni dan sastra. dan pastinya seni dan sastra adalah produk sebuah peradaban yang tinggi, konsumsi masyarakat yang mapan, yang luhur. kata guru saya, "jadi wajar -terlepas dari konten dan substansi- orang kebanyakan (terutama masyarakat awam) di negara dunia ketiga lebih memilih beli gehu dibanding beli novel." ia mencontohkan kekhilafahan abbasiyah, yang menjadi masa keemasan dibidaninya ilmu pengetahuan, dan kesusastraan. maka pada masa itu lahir abu ‘uthman ‘umar bin bahr al- jahiz, lahir badi’ al- zaman al-hamadhani. dan jauh setelahnya ditemukan qasidah burdah, serangkain syair puitis yang memuja kenabian Rasulullaah SAW. dan masih banyak lagi -yang tidak saya tahu.

tapi, saya kira tindakan saya tak salah-salah amat (membela diri lagi). saya kira saya masih berhak mencaci dan merasa jijik. karena keindahan serta estetika yang bisa dihadirkan dalam seni maupun sastra tak mesti 'berlendir', seperti yang sering saya temui dalam kebanyakan sastra kekinian. seniman cerdas tak harus menampilkan ketelanjangan dalam karya-karyanya, tak mesti melamun. dan yang pasti, tak mesti memisahkan diri dari realitas juga kewajiban untuk mengembalikan realitas yang buruk pada kondisi ideal dan alami sebagaimana mestinya. terlebih lagi bagi muslim, bidang apapun yang didalaminya, kewajibannya untuk tidak memutus kepedulian terhadap kehidupan -menyampaikan yang benar dan memberangus yang keliru-, tidak akan pernah sirna. di pundaknya kewajiban itu selalu minta ditunaikan sebagai timbal balik atas keyakinan bulat yang ditatahnya dalam-dalam sebagai orang beriman.


-----
ini tulisan kedua paling sinis yang pernah saya buat setelah mencaci maki segerombolan mahasiswa jurusan 'kewartawanan' yang juga merasa melayang beberapa derajat hanya karena jaket biru muda bergaris putih ganda yang mereka kenakan ramai-ramai (karena baru dibagi). sadar woi! netralitas dan objektivitas jurnalisme itu -maaf- tai. teori-teori itu harus menamatkan riwayat mereka hanya di buku-buku, di diktat-diktat, di kursi-kursi, di papan-papan tulis, dan di lembar-lembar ijazah.

meskipun begitu, jangan pernah batasi wawasan. dan jangan pernah lupa bahwa pelajaran berharga tentang hidup bisa diperoleh dari mana saja, bahkan dari pantat luwak sekalipun :D.

saya suka hari jumat. karena hari saya bertemu guru saya yang super mega dahsyat 2010 :D. karena hari ini pula saya mencemplungkan diri pada telaga ilmu. hari ini pula saya sering sumringah karena memperoleh pencerahan tentang pemahaman yang masih berkabut.

sampai detik ini, saya masih kesulitan mencerna buku motivasi.

berbicaralah dengan ilmu... :D jangan kayak saya.

obscurantism

saya sedang dekat dengan krayon, sketch book yang saya nobatkan sebagai catatan, kamera (pinjaman), dan si onew (laptop saya). kata-kata di kepala saya sedang berlibur, entah kemana dan sampai kapan. biarlah. tapi, saya kira, saya harus tetap mencari cara untuk membuat betah kesan dan ingatan, meski tanpa kata.

dengan empat benda itu, saya senang membekukan sesuatu. tentang semut yang berjalan runut. tentang letih yang menjadi tua dan perih. tentang cinta pathetic yang menggembungkan kelopak mata. tentang bulan demi bulan yang terbirit berjalan. tentang daun-daun yang jatuh terayun. tentang senja yang menyala. tentang tangis yang tak kunjung habis. ya, tentang segala hal yang enggan saya obral pada mereka, orang-orang yang saya kasihi. tentang segala yang musrti dikebiri saat sampai di ujung jari,

obscurantism... indeed i'm on the run.

twisted

oh satellite above. where are you? so many things i have to tell you of. please come back soon. you went through an open door or a hole in the floor. you vanished and i can't see you anymore

dreams never die. when we sleep leave the open sky and the deep shades over head of blue and red. is this the end? will you come back again?

i searched beyond the clouds. are you there? i walked sadly onward through the crowds alone somewhere. i saw beyond the blur to right where you were and i beheld the sight so pure.

sky sailing | blue and rad | dressmaker | nikon d50 | adobe photshop cs4 | adieuamateur | 2010