...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

lullaby

i knew you'd feel the same things, everybody knows
it hurts to grow up, everybody does
...
let me tell you what
the years go on and we're still fighting it
you'll try and try and one day you'll fly away from me

(ben folds,
still fighting it)




hampir jam dua belas. dalam hitungan menit, pendulum itu segera berdentang. dan saya cengeng lagi memikirkan bapak. ya, tiba-tiba ingatan tentang sosok laki-laki paruh baya yang rambutnya telah mulai berkarat itu melompat dan minta tempat.

sebetulnya tidak datang tiba-tiba. beberapa jam lalu, bapak menelpon. pastinya bukan hendak bermelankoli dengan anaknya yang paling besar ini.

dan benar yang saya duga. ia mulai menagih dan berceramah tentang kuliah saya yang belum juga tamat. sangat menyebalkan. saya meledak, kesal, dan marah. "saya tahu apa yang harus saya lakukan, pak. saya tidak lagi butuh diingatkan tentang hal yang tidak mungkin bisa saya lupakan, dan bapak tidak perlu capek-capek mengulangnya lagi sekarang. doakan saja saya."

bapak datar, "tidak perlu kamu minta."

saya masih kesal, "saya juga tahu itu, dan coba bapak ingat, bahkan saya jarang meminta ini pada bapak, hanya pada ibu."

saya benar-benar kesal. saya merasa bapak selalu hadir di saat sempit saya sebagai pihak yang selalu menuntut dan menuntut. dan ungkapan terakhir itu sebetulnya ada ungkapan lain dari: "apa yang sudah bapak lakukan sehingga bapak tak pernah berhenti bersikap sebagai penagih dalam hidup saya? saya yakin, intensitas doa bapak untuk saya tidak sebanyak yang ibu panjatkan."

dan... sekarang, beberapa jam setelah pembicaraan itu, rasa sesal mengetuk-ngetuk. saya terlalu lancang, jujur saja. saya tahu ucapan itu menyakitkan, sama menyakitkannya ketika hal itu saya pikirkan kembali. dan menjadi cengenglah saya...

namun, menangiskah bapak? menangiskah lelaki sederhana itu karena anaknya yang paling besar sudah pandai bersikap frontal di hadapannya? menangiskah ia karena harus terus-menerus hidup dengan memikirkan sumber kecemasan para orang tua selama berabad-abad*, memikirkan anaknya? rasanya tak pernah ada yang tahu, kecuali bapak dan Allaah.

"bapak yang teramat saya kasihi, maafkan saya. jangan pernah tidak memaafkan anakmu ini." itulah bunyi pesan yang saya kirimkan saat rasa sesal tak luput beranjak. dan saya yakin, saat pesan itu sampai, bapak tengah pulas dan mendengkur keras.

-------------------
* Al Ghazali

dan sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan terus terang pada bapak. pernahkah ia cengeng setelah saya dilahirkan? pernahkah ia menitikkan air matanya karena khawatir pada saya dan adik-adik saya? pernahkah ia terjebak pada kesedihan mendalam seperti saya malam ini?

0 comments:

Post a Comment