...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

kita belum merdeka, tapi juara dua

Sebuah pesan singkat masuk:
"Dieu, buatin naskah pidato ya!"

Membacanya mood saya langsung turun drastis. Apa lagi, kata saya dalam hati. Setelah dua malam berturut-turut saya harus sibuk mengerjakan pekerjaan rumah adik saya yang paling besar, malam ketiga, saya kembali dapat mandat dari Mamah, mandat yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Mengerjakan PR.

"Mah? Buat apaan sih?"

Mungkin karena repot dengan huruf kecil-kecil pada keypad telepon genggam "Kuch-Kuch Hota Hai"-nya, Mamah menelepon saya.

"Bikinin ya! Si Dede mau ikutan lomba pidato ntar pas tujuh belasan," Mamah merajuk.

"Hah???????? Seriusan?"

"Iya. Disuruh."

"Disuruh siapa?"

"Sekolah."

"Hmmmm..... Sekolah apa sekolah??? Males, Mamaaaah!"

"Pokoknya bikinin, kasian si Dede. Mamah mah ngga bisa atuh. Repot di rumah."

"(Sedih)..... emang buat kapan, Mamah?"

"Pokoknya Senin besok selesai ya! Kirimin ke emailnya Ima aja!"

"Ya udah atuh!"

Plukkkk.... Mamah menutup telepon dari seberang sana. Dan saya kebingungan. Naskah pidato? Tujuh belasan? Hwuaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh maleeeeeeeeeeeeeeeeessssssssss......

Tiba-tiba, HP saya kembali bergetar, sebuah SMS kembali masuk.

"Naskah pidato buat dibaca 7 menitan. Di akhir pidato dikasih kata "Merdeka!!!!!!""

Hikssss....

--(Hari Minggu jam 19.00)--

"Dieu, gimana? udah dikirim?"

SMS Mamah kali ini membuat saya terbatuk-batuk. Tersedak. Ya ampun, saya benar-benar lupa 'PR' saya yang satu itu.

"Belum. Besok pagi deh."

"Cepetan dibikin. Si Dede udah ngamuk-ngamuk nih."

"Iya. Malem ini Dieu bikinin deh. Janji."

Akhirnya, ogah-ogahan saya membuka page Microsoft Word dan menuliskan sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan. Mungkin karena terbiasa kembali mengerjakan PR layaknya anak-anak sekolahan, yang penting "SELESAI". Kirim ke email adik saya yang paling besar. Sikat gigi. Cuci kaki. Minum susu. Tidur. Habis perkara. Hahaha....

--(17 Agustus 2009, tanggal yang juga tidak menyenangkan bagi saya, karena hingar bingar tapi hambar)--

My beloved mom's calling...

"Halo. Assalamu'alaykum."

"Wa'alaykumsalam. Dieuuuuuuuuu..........."

Saya tahu betul itu bukan suara Mamah. Itu suara Dede, adik saya yang paling kecil. "Apa, Dede?"

"Pidato Dede menang. Juara II."

Gleghkkk...... "Hah???????"

"Iya. Makasih ya, Dieu, udah mau bikinin pidato buat Dede."

Saya masih diam. Tak percaya. Bagaimana bisa? Apa yang sedang ada dalam pikiran para jurinya?

(Di seberang sana, adik saya sedang mempraktikkan pidatonya. Catatan: tanpa melihat teks) Saya masih tetap tidak habis pikir.

"Gimana, Dieu? Bagus ngga?"

"Hah????? I....iya bagus bagus. Kok bisa sih, De, menang?"

"Dedeeeeeee....." ia membanggakan diri.

"Iiiih bukan gitu. Kok bisa menang?"

"Mana Dede tahu. Tahu ngga, Dieu, saingan Dede udah pada kumisan semua."

Saya tak kuat menahan tawa. "Masa?"

Adik saya meneruskan ceritanya yang panjang seputar perlombaan pidato yang dilaksanakan dalam rangka menyambut HUT RI ke-64 di kampung halaman saya.

Beruntunglah adik saya. Dan mudah-mudahan beruntung pula para juri lomba pidatonya yang mendengar naskah yang saya buat. Pidato kampring yang berisi ungkapan "kebelummerdekaan" yang dibacakan hanya oleh seorang anak laki-laki kelas 3 SD.

Hahahaaaa..... Dan saya melihat pialanya ada di antara deretan piala di lemari ruang depan. Adik saya bangga betul pada kejuaraduaannya itu. Mamah bilang, tiap kali ada tetangga datang ke rumah, adik saya itu sering mendesak Mamah untuk menceritakan Dede, Pidato, Juara II, dan piala.

I loph yu pul, Ototo-chan. n_n

1 comments:

October 15, 2009 at 6:33 PM puteri biru said...

*tersenyum melihat gambar, ngakak membaca tulisan*

Post a Comment