...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Kepulangan

aku tidak pernah menemui makna kepulangan.
sisa perjalanan, bau debu kering, ilalang terbakar, terkapar tanpa mengabarkan makna kepulangan. mungkin sekedar ziarah, menatap kembali sayatan-sayatan luka yang dipahat waktu. atau bertemu dengan kanak-kanak di pematang riuh dalam melankoli sendu masa lalu.




































aku tidak pulang, hanya meneruskan perjalanan, mungkin kembali suatu saat, menepi, ke tempat ini





Closing Time

Closing time
Open all the doors and let you out into the world

Closing time
Turn all of the lights on over every boy and every girl

Closing time
One last call for alcohol so finish your whiskey or beer

Closing time
You don't have to go home but you can't stay here

I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home

Closing time
Time for you to go out to the places you will be from

Closing time
This room won't be open till your brothers or your sisters come
So gather up your jackets, move it to the exits
I hope you have found a friend

Closing time
Every new beginning comes from some other beginning's end

I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home

Take me home

How Many Times

How many times on this merry-go-round
Over and over again
Up on the horse was a weak, foolish child
Who never believed it would end

How many smokes ‘til I'm satisfied
How many drinks ‘til I'm happy
How much of the day will I watch fade away
Until there is no one to ask me




I was gone, so gone
Gone, so gone
For a while




How many times will I sleep by your side
Turning and dreaming and scared
Of fair grounds that shut down as you ride away
And my horse won’t go anywhere




I was gone, so gone
Gone, so gone
For a while




I was wrong, so wrong
Wrong, so wrong
For a while




How many songs will I try to write
All with the same thing to say
I’ve got two tickets left, won't you please stay with me
For the very last ride of the day

like father like son (daughter i mean)

Aye lagi gandrung nih sama laki nyang ngejogrog di foto 'ni. Waktu nulis 'ni juge, lagu nyang dinyanyiinnye aye puter berulang-ulang. Gimana kagak, di playlist aye nyang nampang cume lagunye die aje nyang aye donlot sengaje di yutub. Hihi.......



Akhirnya saya sampai pada titik paling kampring yang pernah saya abadikan dalam tulisan. Memang kampringkah ketika saya menyenangi musik yang dilabeli 'norak' oleh kebanyakan orang? Ah tidak. Apa peduli saya dengan label. Karena yang paling saya pedulikan adalah label harga yang tertera di produk backpack EIGER yang bagi saya mahalnya amit-amit (tapi juga masih membuat saya memperkirakan kapan saya bisa membelinya) waktu eye shopping di emol satu-satunya di Jatinangor.



Jika begitu, mari menjadi kampring dengan menyukai Ridho Irama yang telah berhasil membuat saya histeris (juga telah membuat si Fatma terpingkal-pingkal menertawakan saya) dengan hits "Menunggu"-nya belakangan ini. Lagu ini sebetulnya sebetulnya pernah familiar di telinga saya dulu, ketika saya masih bahagia memakai hotpan dan kaos oblong yang kebesaran karena ukuran tubuh yang segede unyil di rumah.


Air cucuran atap jatuhnya ke pelimpahan juga. Terpujilah peribahasa itu. Kesukaan laki-laki paruh baya yang tak banyak bicara dan suka saya isengi dengan panggilan "The Bapp" itu telah menurun. Bapak suka sekali dangan musik dangdut. Rak tua itu saksinya. Di sana, kaset-kaset dangdut koleksi Bapak menumpuk hampir pajeujeut (pajeujeut mean ngagulung tak terurus), tergusur oleh keberadaan CD. Antusiasmenya terhadap acara-acara televisi yang menayangkan perdangdutan membuat Bapak menjadi seorang altruis Ia hendak berbagi volume musik yang dominan dengan bunyi kendang itu pada para tetangga yang jarak rumahnya sudah seperti jarak antar blok di perumahan kota-kota besar. Dan tiap kali Bapak melakukan aksinya itu, mahkluk kecil ini ada di sampingnya.



Like father like son (harusnya daughter karena saya tidak punya jakun). Kami, saya dan Bapak, tidak asal milih musik beletak-beletuk itu untuk disukai. Selain karena musik dangdut zaman sekarang yang 'horor-horor'--khusushan (i guess this is the one thing that disturb me most), konteks waktu dimana Bapak pernah muda dan eksis dengan menjatuhkan pilihan terhadap musik sangat berpengaruh. Wajarlah jika saya juga seperti Bapak, hanya menyukai lagu-lagu yang dilantunkan oleh artis-artis lawas macam Rhoma Irama (*NYENGIR mode on), Evie Tamala, Caca Handika dan Rita Sugiarto (dengan berbagai macam alasan tambahan jika suatu saat ada yang bertanya kenapa saya suka pada mereka).



Ibarat cinta lama bersemi kembali. Ridho Irama (saya sudah punya ghalabatu adz-dzann merupakan Rhoma Irama no musuko...mirip banget potongan mukanya) seakan menyeret perhatian saya dan memanjakan kedua telinga saya dengan suaranya (seperti cake cokelat yang pernah Fatma kasih). Melihat video klipnya, serasa melihat video klip Bollywood. Jauh banget deh dari yang akhir-akhir ini muncul di tv. Saya sih bilangnya keren abis, entah kamu.


Dan memang bukan hanya itu. Anak bungsu perkawinan Bang Haji dengan istri keduanya Rika Rachim yang usianya ternyata tiga tahun lebih brondong dari saya itu, seperti melipat hidup saya, mempertautkan diri dengan suatu masa, yang kini dengan yang lalu. Saya diundang untuk memanggil dan mengumpulkan ingatan kebersamaan saya dengan Bapak yang memang telah lewat dan luput. Saya lebih dekat dengan Ibu karena saya merasa Bapak lebih galak dan pernah meninggalkan saya sam saya berusia lima tahun untuk bekerja menjadi TKI di negerinya Uncle Saud.



Nostalgia yang tanpa duga. GM bilang nostalgia adalah ketika yang menyakitkan terasa nikmat dan yang nikmat terasa menyakitkan. Saya aminkan pernyataan itu. Nostalgia seperti membangun gubuk tempat ingatan dan harapan dikawinkan lewat sebentuk perenungan sederhana. Dari sini, mungkin, prediksi terhadap masa depan bertolak. Yang lewat tak lagi luput dan yang keliru tak lagi ikut. Dan barangkali, Ridho Irama pun begitu.

---------------


Samar, saya mendengar Bapak saya berkata, tanpa cengkok dangdut tentunya: "Anakkku, engkau bukan tawananku, tetapi kawanku (Mahatma Gandhi)."
Ah, Bapak, saya jadi kangen sama Bapak.